
Saras mengerjab beberapa kali, dia sudah berusaha tidur sejak tadi, tapi tetap saja matanya tak bisa memejam. Dia ingin bangun, tapi sayangnya tangan kekar yang sedari tadi memeluk pinggangnya membuatnya tak berkutik.
Saras gugup bukan main, besok resepsi akan diadakan. Dia benar-benar akan resmi masuk ke dunia Damar, suaminya. Gerak-geriknya pasti tidak akan sebesas dulu.
Dia memang sudah menikah selama dua minggu ini, tapi tak banyak orang tahu akan pernikahan ini, dan besok saatnya dunia berkenalan dengannya.
Damar memang tak seterkenal para CEO yang sering dia baca di novel-novel romance, tapi setidaknya Damar sudah masuk ke dalam deretan salah satu pengusaha, jelas kenalan dan kehidupannya pun pasti ada yang mengawasi.
Belum lagi, wanita-wanita di luar sana yang bisa kapan saja datang menggoda. Ingat saja si Angel, wanita psikopat itu bahkan tak segan mencoba membunuhnya demi mendapat perhatian Damar.
Untuk pertama kali, akhirnya Saras merasa tak percaya diri. Dibanding dirinya, jelas saja ada banyak wanita cantik di sekitar Damar.
Apalah dia, yang hanya gadis desa, pendidikan cuma SMA, tak menarik apalagi cantik, bahkan Damar sering bilang bahwa dia amatlah rata. Jangankan memakai pakaian seksi, membedakan lingerie dengan kain jala saja dia tidak bisa.
"Aaarrrggh"
Tanpa sadar Saras teriak sendiri, merutuki nasib apa yang akan dihadapinya nanti.
"Sayang, kamu kenapa? kenapa teriak gitu?" Saras menoleh, terlihat Damar mengucek matanya.
Saras hanya nyengir, merasa bersalah karena telah membangunkan suaminya. Gadis itu merubah posisi, berbalik hingga menatap penuh ke arah Damar.
"Mas, biarpun aku rata dan gak menarik, kamu masih tetap setia kan sama aku? kamu gak bakal duain aku kan?"
Damar yang baru saja sadar dari tidurnya menautkan alis, bingung dengan pertanyaan Saras yang tiba-tiba.
"Kamu teriak malam-malam begini cuma buat tanyain itu?" tanya Damar yang langsung diangguki oleh Saras.
__ADS_1
"Emang ada apa sih? mimpi buruk?"
"Ya, enggak sih. Cuma besok kan pasti banyak yang tahu aku sekarang istrimu, aku takut saja membuatmu malu," jawab Saras dengan tertunduk.
Damar terkekeh, lelaki itu mengecup kening istrinya lama.
"Aku malah udah gak sabar nungguin besok, aku pingin mereka tahu kalau udah punya istri cantik sekarang."
"Tapi pasti aku gak secantik wanita-wanita yang ada di sekitarmu, kan, Mas?"
"Cantik itu relatif, Sayang. Aku bahkan menganggapnya sebagai bonus. Sebagai seorang duda beranak satu sepertiku ini, mencari orang yang benar-benar sayang kepada Langit adalah tujuan utama. Tapi sayangnya, gak cuma Langit yang gak bisa jauh dari pengasuhnya, bapaknya nyantol juga ternyata." Damar terkekeh, sedang Saras mengerucut sebal, memukul lengan sang suami pelan.
"Berarti kamu nikahin aku cuma buat Langit?"
"Gak gitu juga, Sayang. Kan aku udah bilang, gak cuma Langit, bapaknya juga kecantol. Aku akui kamu memang bukan kriteriaku awalnya, tapi saat aku bersamamu, aku menemukan kenyamanan, kamu membuat hidupku yang semula lurus-lurus aja menjadi penuh warna dan penuh kelokan. dan semua itu otomatis menepis semua kriteria yang ada. Aku sayang sama kamu, baik karena Langit ataupun tidak."
"Mas itu ngomongnya beneran kan? bukan cuma buat nyenengin aku aja kan?" Damar lagi-lagi terkekeh, menyubit gemas pipi istrinya yang kadang kelewat polos itu.
"Beneran, Sayang. Aku, tak sekedar ingin menjadi suamimu, aku juga mau jadi sahabat, kakak ataupun saat kamu butuh. Aku juga ingin menjadi rumah untukmu,rumah tempat segala keluh kesahmu, tempat yang membuatmu nyaman, aman dan bahagia. dan rumah tempatmu pulang dan merindu."
Mendengar ucapan Damar, Dahi Saras mengeryit.
"Mas, kenapa itu kata-kata mirip sama ucapan si Om Mesum, kamu nyontek dia, ya?" tanya Saras yang otomatis membuat Damar ikut berpikir.
"Coba tanya si othor, Ras. Mungkin otaknya lagi konslet, mangkanya habis ditulis di ono ditulis juga di mari."
Saras mengangguk. "Mungkin juga dia lagi galau, waktunya tahun baru dia cuma nangkring aja di rumah."
__ADS_1
"Mungkin juga. Tapi, bisa gak kalau kamu juga agak jauhan, Ras," ucap Damar seraya menggeser sedikit tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Saras heran.
"Kamu tahu kan aku sudah puasa empat hari, jangan sampai malam ini aku khilaf. Kamu besok harus tampil cantik dan seger."
"Jadi menurutmu selama ini aku gak cantik?" rajuk Saras. Gadis itu berbalik membelakangi suaminya.
"Gak gitu, Sayang. Kalau bisa milih, aku lebih seneng buat gak nahan diri. Tapi aku pingin kamu punya waktu istirahat yang cukup, besok pasti jadi hari melelahkan buat kita. Bisa jadi sampai subuh," bisik Damar tepat di telinga istrinya. Tentu saja membuat Saras sedikit meremang.
"Bodo amat, nih peluk guling!" Saras menyerahkan guling yang ada di hadapnnya kepada Damar.
Gadis itu meringkuk, menutup tubuh dan wajahnya dengan selimut. Membuat Damar menghela napas pasrah.
Wanita, makhluk indah sekaligus menyeramkan. Tak pernah ada rumus pasti yang bisa mendefisinikan tentang wanita yang sebenarnya. Benar-benar mahkluk aneh tapi ngangenin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Soree ... ciyee, yang udah prepare soal liburan akhir tahun.
2020 kamu dapat apa sih? terus apa resolusimu buat tahun depan? Jadi pingin tahu aku tuh😅
Aku? Alhamdulillah, meskipun belum sekeren yang lain, cita-citaku buat jadi penulis benar-benar terwujud tahun ini.
Resolusi? gak ada yang istimewa. Aku selalu percaya pada takdir yang maha kuasa. Apapun yang Dia berikan nanti, insya Allah akan selalu ada berkah dan kebaikan tersendiri untukku.
Terima kasih juga buat dukungan kalian kemarin, kalian benar-benar luar biasa, membuat aku yang biasa menjadi merasa ada🤗🤗
__ADS_1
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘