Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Siapa Takut!


__ADS_3

Saras menyemburkan minumannya, bukan karena cemburu, tapi kaget lebih tepatnya. Dia memang super halu dan PD, tapi gadis di samping Zakki itu lebih dari dirinya.


Dia lebih berani, bahkan lebih terbuka dalam menantang Zakki. Sepertinya Wanita ini cocok untuk Zakki.


Zakki menjauhkan tubuhnya setelah mendengar ucapan Sea. Gadis itu justru tersenyum tanpa dosa. Mendengar Saras yang tersedak, Zakki sontak berdiri dan mendekat ke arah Saras.


"Kamu baik-baik saja? pelan-pelan, kalau memang uangmu pas-pas'an, aku masih sanggup beli air sendiri. Jadi jangan terburu-buru seolah aku mengincar minumanmu," urai Zakki yang spontan membuat Saras melotot.


"Asal mangap aja tuh mulut. Sory, ya? biarpun pas-pasan, setidaknya aku tak akan mengajakmu lari setelah kenyang gara-gara gak bisa bayar," protes Saras sembari melihat Zakki yang berdiri di sampingnya.


Zakki spontan tertawa, ternyata Saras ingat betul dengan ucapannya kala itu.


Gerak-gerik mereka tak luput dari pengamatan Sea. Gadis itu sedikit cemburu karena Zakki begitu perhatian kepada Saras. Belum lagi mereka yang memang sangat terlihat dekat. Sea harus punya tenaga extra untuk memenangkan hati Zakki.


Saras melirik Sea, sepertinya dia paham gadis belia itu sedang meradang.


"Oh, ya, Sea. Kamu sibuk apa? Kuliah? kerja atau apa?" tanya Saras yang akhirnya mengalihkan perhatian Zakki.


Lelaki itu lantas mengambil tempat duduk di samping Saras. Dan tentu saja itu membuat Sea makin senang, pasalnya dia bisa lebih leluasa memandang dokter ganteng itu.


"Aku sedang sibuk mengejar cinta dokter tampan di depanku ini, Kak. Kalian hanya sahabat kan? kalau begitu tentu tidak keberatan kalau kakak mendoakanku untuk bisa meraih cita-citaku itu?" tanya Sea menatap Saras. Sedang Zakki memutar bola matanya malas, gadis itu merusak momennya bersama Saras.


"Oh, ya? tentu saja aku mendukungmu. Zakki ini orang yang sangat baik dan gampang berteman dengan orang, kamu tentu akan dengan gampang meraih hatinya," ujar Saras dengan Antusias.


"Tidak segampang itu, Ras. Hatiku tak lagi seperti dulu," sahut Zakki karena tak suka Saras menanggapi ocehan Sea.


"Oh, ya? jadi seperti apa hatimu sekarang pak dokter. Aku memang tidak bisa menawarkan cinta yang sempurna untukmu, karena kesempurnaan cinta hanya milik Rizki Febian, tapi percayalah aku punya cinta untukmu dalam versiku sendiri."


Saras mengacungkan jempol ke arah Sea. Dia benar-benar salut dengan sifat gadis itu yang blak-blakan.


"Masih bocah sekolah dulu. Tau apa kamu tentang cinta!" ucap Zakki dengan dingin.


Dering telepon membuat semua orang berhenti bicara. Saras melihat nama yang tertera di layar. Ah, perasaan belum lama dia keluar, tapi suaminya itu terus saja memantaunya.


"Assalammualaikum," sapa Saras menerima panggilan.


"Waalaikumsalam, kamu keluar, aku sudah di depan rumah sakit." Saras mengeryitkan dahinya, kenapa mendadak dijemput gini.


"Loh, Mas Damar gak kerja? kok jemput Saras?" tanya Saras yang mulai bingung.


"Aku habis meeting. Kebetulan dekat sini, aku mau jemput kamu, biar gak lama-lama dekat dengan lelaki lain," oceh Damar diseberang sana.

__ADS_1


Saras mengamati sekitar, Zakki sedang meminum esnya, sedang Sea menatap penuh ke arah Zakki. Sepertinya kedua orang itu tidak mendengar ucapan posesif Damar.


"Ya Allah, Mas. Kita sudah bahas ini loh," jawab Saraa gemas.


"Iya, tau. Sekarang kamu pulang atau enggak? Gak nurut sama suami itu dosa loh, masa kamu milih neraka padahal tiap malam kamu aku ajak jalan-jalan ke surga?" terdengar Damar terkekeh di sana.


"Iya-iya, tunggu!" ucap Saras buru-buru. Dia tak mau perbincangan vulgarnya didengar oleh orang lain.


"Zakki aku balik, ya? maaf gak bisa lama, anakku menunggu," pamit Saras kepada lelaki di sampingnya.


"Loh Kak Saras sudah punya anak? kirain masih pengantin baru," tanya Sea dengan polosnya.


"Sudah punya dua, Sea. Yang satu manjanya gak ketulungan. Ditinggal jauh dikit kayak gini sudah nelpon-nelpon mulu," ujar Saras sembari membayangkan si Damar.


Ya, siapa lagi bayinya yang super manja kalau bukan Damar. Langit bahkan lebih anteng dari bapaknya itu.


Sea manggut-manggut mendengar penjelasan Saras. Saras berlalu dari sana, meninggalkan Zakki dan Sea yang masih di tempatnya.


"Aku mau balik dulu," pamit Zakki berdiri dari tempatnya.


"Dokter, kakak itu cinta pertamamu kan?" tanya Sea mendadak, Zakki yang hendak memutar berhenti seketika, darimana gadis itu tahu tentang semua itu.


Zakki yang semula mulai simpatik karena Sea bisa begitu bijak mendadak memutar bola matanya malas. Harusnya dia tahu bahwa otak gadis itu selamanya akan gesrek.


Sementara itu, Saras memasuki mobil suaminya dengan bibir mengerecut, sebal dengan sikap suaminya yang berlebihan.


"Mas Damar kenapa sih? kemarin kan aku sudah bayar Dp, sudah bayar cicilan, tapi Mas Damar gak menepati janji untuk mengijinkanku bertemu dengan Zakki, ah aku bahkan lupa menyerahkan undangan untuknya." omel Saras yang hanya di dengarkan oleh Damar. Lelaki itu hanya konsentrasi menyetir.


"Gak menepati janji gimana sih, Ras? aku sudah bolehin kamu ketemu dokter itu, Sudah kamu traktir makan juga, kan? terus bagian mana yang aku gak menepati janji?" tanya Damar seraya tetap menatap lurus ke depan.


Saras berpikir, benar kata Damar, tapi tidak secepat itu juga, dia bahkan belum menyerahkan undangannya.


"Sudahlah, Mas Damar selalu punya jawaban untuk menyudutkanku," ucap Saras dengan perasaan masih sebal.


"Aku sudah dapat hotel buat resepsi kita, kamu mau lihat lokasinya apa enggak?" tanya Damar mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa mesti di hotel? di rumah saja kan luas?"


"Aku sekalian bokking kamar setelah resepsi besok, maksudnya biar gak ada yang ganggu malam-malam kita," ucap Damar sembari memgang pipi Saras.


"Lah emangnya di rumah pernah ada yang ganggu? lagian sok-sokan kayak kita mau malam pertama saja," Saras menggerutu, makin sebal dengan ucapan Damar yang mencari-cari alasan.

__ADS_1


Damar melirik Saras, istrinya itu malah makin memayunkan bibirnya, membuat dia semakin gemas saja.


Damar meminggirkan mobilnya di tempat sepi, Saras hendak bertanya, tetapi lelaki itu malah melepas sabuk pengamannya.


"Jangan menggodaku dengan bibirmu itu." Damar mendekatkan wajahnya kepada Saras menyerang wanita itu dengan sebuajmh ciuman panas.


Saras melotot seketika, merasa kaget dan belum siap mendapat serangan mendadak seperti itu. Tapi lama-lama, wanita itu akhirnya menikmati permainan suaminya itu, bahkan tangannya dengan cekatan melepas sabuk pengamannya sendiri, membuat dia leluasa bergerak.


Damar melepaskan ciumannya. Ingin melihat ekspresi Saras, apakah masih marah atau sudah lebih baik, meskipun dia tahu istrinya tadi sudah ikut menikmati ciuman mereka.


"Kamu selalu saja mencari alasan, padahal ujung-ujungnya juga mau ini kan?"


Selesai berucap, kini gantian Saras yang menarik tubuh suaminya. Dia menyerang balik bibir merah suaminya itu. Damar yang awalnya kaget sontak bersorak gembira. Baru kali ini Saras memulai lebih dulu, dan itu tidak bisa disia-siakan.


Tangan Damar mulai beraksi, meraba setiap inci tubuh istrinya yang sekarang menjadi candu baginya. Otak liarnya mulai berfantasi, tapi akal sehatnya melarang. Ini bukan tempat yang tepat.


"Kita lanjutkan di rumah. Sekalian aku pingin membuktikan kalau di rumah benar-benar tidak ada yang menganggu," ucap Damar sembari mengusap bibir Saras dengan ibu jarinya.


"Siapa takut!" tantang Saras yang membuat Damar makin tak sabar.


Lelaki itu langsung melajukan mobilnya. Dia suka Saras yang sekarang, yang sudah mulai lihai membalas ciumannya, bahkan sekarang dia sudah mulai berani memulai dan menantangnya.


Damar tersenyum miring, Hari ini dia berjanji tidak akan membuat istri ratanya itu keluar kamar sebelum jam makan malam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Eaa ... eaa, musim ujan tapi hawanya hareudang🤣🤣


Aku menyinggung sedikit soal Sea ini. Banyak yang bilang Sea itu terlalu centil, gampangan tak tahu malu, jangan jadiin sama Zakki.


Hei! Sea itu masih sembilan belas tahun, usia remaja yang masih semangat-semangatnya. Bagiku, wajar bersikap seperti itu. Lagipula, Zakki sudah terlanjur membeku, dia butuh wanita sepanas Sea untuk mencairkan hatinya.


Kenapa bukan Dini atau Arin? Entahlah, aku tak nyaman saja. Aku tak suka dengan film-film yang terlalu membuat kebetulan. Mentang-mentang sahabatan, terus mantannya jadi cinta sama sahabatnya gitu? entahlah, aku tak sependapat dengan ini.mungkin ini hanyalah masalah selera.


Lagian, cinta zakki itu dirawat sedari dia belum bisa menyisihkan ingus dengan benar, dan sekarang saat dia bisa membuat ingus sendiri tapi dengan tampilan yang beda, masa bisa gitu dia pacaran dengan sahabat cinta pertamanya? kalau aku sih, yang ada malah makin susah move on, gak tau kalau Mas Anang.


Itu aja sih, penjelasan dari aku. Kalau kalian punya pendapat lain, aku sih kagak masalah😅😅


Wes ah,aku mau mandi kembang, hareudang gara-gara Mas Damar.


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2