Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Bertemu


__ADS_3

"Sayang, kita mau kemana, sih? Kok aku pakai bawa koper segala?" tanya Sea sembari mendekati Zakki yang sedang sibuk berberes dengan kopernya.


"Adalah. Kita butuh nginep buat beberapa hari. Jadi, ya, kamu perlu bawa baju ganti."


Sea masih menatap heran. "Kamu mau ngajakin aku bulan madu, ya?"


Zakki langsung menoleh cepat, di tatapnya Sea yang sedang menaik turunkan alis. Perlahan tangan Zakki terulur, di sentilnya pelan kening gadis di sampingnya itu.


"Pikiranmu itu ngawur terus. Bulan madu apaan? Nikah aja belum!"


"Ya, sudah. Ayo nikah!"


"Ga! Sebelum kamu lulus kuliah!"


"Lah? Kenapa malah mundur jauh? Katanya kalau nilai ujianku besok bagus dapat hadiah nikah muda?" protes Sea tak terima.


"Ya itu kalau nilai ujianmu bagus. Tapi kamu yakin bakal dapat bagus? Belajar aja ogah-ogahan."


"Kalau cuma sekedar dapat nilai bagus, sih. Gampang. Kecil itu mah."


Zakki lagi-lagi langsung menoleh ke arah Sea. Ditatapnya penuh selidik gadis yang kini dekat dengannya selama tiga bulan ini.


"Kamu gak ngerencanain yang aneh-aneh, kan?" tanya Zakki curiga.


"Apa?" tanya Sea balik.


"Jangan cuma karena pingin nikah muda kamu jadi ngelakuin hal yang aneh, ya, Sea! Aku gak suka!" omel Zakki keras.


Sea mencabik. Zakki terkenal dengan hal yang lurus-lurus. Apa yang sudah menjadi keputusannya akan sangat susah di belokkan. Apalagi jika itu menyangkut soal hal-hal yang salah. Zakki akan sangat susah diajak negosiasi.


"Lagian kenapa sih? Kalau nikah kan, bukan cuma aku yang enak. Kamu juga kan? Pagi ada yang bangunin dan nyiapin sarapan. Siang ada yang ngingetin makan, terus malam ....?" Sea mengantungkan ucapannya. Dia menaik turunkan alis.


Bukan Zakki namanya kalau menanggapi ucapan Sea dengan ekspresi semringah. Jelas saja lelaki itu sedang menyorot tajam dengan raut muka yang datar.


Zakki menggeleng-gelengkan kepala, tak mengerti dengan isi kepala Sea. Sejak ucapannya tempo hari tentang menikah muda, gadis itu selalu saja membujuk dan memancing kesabaran Zakki. Untung saja Zakki kuat, meskipun kenyataannya dia harus sering menghindar untuk menjaga kewarasannya.


"Kamu ngerti apa soal menikah? Menikah bukan soal urusan dapur, sumur dan kasur. Tapi lebih dari itu. Gak semua yang kamu bayangin indah itu akan terjadi dengan indah pula. Menyatukan dua hati dan dua keluarga dengan berbagai sifat itu gak semudah kamu pasang alis." Zakki mengomel panjang lebar. Namun, Sea tetaplah Sea, dia akan selalu protes dengan pikiran gilanya.


"Gimana kalau aku ganti namaku dengan Indah saja? Biar indah terus hidup kita? Lagian aku juga gak pernah pakai alis, gak bisa. Tapi aku bisa belajar sih buat ajarin anak-anak kita nanti."


Zakki menghembuskan napas pasrah. Bicara dengan gadis ini memang harus ektra sabar.


"Ngajarin anak kok ngajarin pasang alis. ngajarin yang bener. Awas aja besok sampai anak-anakku kamu ajarin gak bener!"


Sea senyum-senyum tak jelas. Dia merasa lucu saat Zakki menyebut anak-anakku. Meskipun belum ada pernyataan resmi tentang perasaanya, tapi bagi Sea ini sudah sangat luar biasa. Bukankah Level tertinggi dari sebuah hubungan adalah keseriusan tentang masa depan? Dan Sea hampir mendapatkan itu.

__ADS_1


"Demi anak-anakku yang tercipta dari kerja keras ayah yang luar biasa sepertimu, aku bisa belajar banyak hal. Dari hal yang biasa sampai luar biasa, aku siap! Tentang hidup yang sederhana sampai bermakna, aku mampu. Bahkan untuk urusan sedetail apapun, pasti aku usahakan. Percayakan semuanya kepada Mama Sea."


Sea menepuk-nepuk bahunya pelan, merasa bangga dengan dirinya sendiri. Zakki tak kuat untuk tak tertawa. Gadis ini memang benar-benar luar biasa. Terkadang dia begitu menyebalkan, ada kalanya dia juga begitu dewasa. Ya, meskipun lebih banyak nyelenehnya.


"Contohnya?" goda Zakki. Dia ingin tahu jawaban apalagi yang akan diucapkan gadis itu.


Sea berpikir sejenak. "Hmm ... gimana kalau ngajarin pasang k*nd*m?"


Mata Zakki langsung membulat seketika. "Astaga, Sea! Kamu?" Zakki mengangkat telunjuk tangannya, bertanya sekaligus mengancam lebih tepatnya.


"Gak! Gak! Aku belum pernah ngelakuin itu, kok, sumpah!" ralat Sea cepat. Melihat tatapan menusuk Zakki, Sea langsung kalang kabut.


"Kalau pun aku ingin belajar itu, maunya juga sama dokter aja. Sekarang juga hayuk," Lanjut Sea lagi.


"Sea!" bentak Zakki lagi.


"Kamu mandi sana! Biar otakmu bersih!" Zakki bangkit dari tempatnya, membawa kopernya menuju ruang tamu dengan geleng-geleng kepala.


Dia tak menyangka Sea akan punya pikiran seaneh itu, ya, biarpun dia percaya bahwa gadis itu tak pernah melakukannya. Tapi, bukan begitu juga, Maemunah!


Sea menatap kepergiaan Zakki dengan alis saling bertautan. Apa salahnya? Dia bicara jujur, kan? Lagian apa salahnya belajar? Bukankah dia memang harus belajar tentang banyak hal?


***


"Kita mau kemana, sih?"


"Kita akan pergi ke desa."


"Desa siapa? Ada sinyal gak? Meskipun papa sama mama udah balik ke Singapore, tapi aku juga mau ngabari mereka dulu."


"Aku udah telepon mereka kemarin. Mama sama papa udah ngijinin, kamu gak perlu telepon lagi."


"Mama papa? Sejak kapan panggilan itu berubah?" tanya Sea sedikit bingung.


"Mereka bilang aku mesti belajar dulu, biar terbiasa besok."


Sea makin senyam-senyum tak karuan. Jalan di depannya makin lebar. Semua ijin dan restu sudah terkantongi dengan baik, tinggal naklukin si mempelai laki-laki ini saja yang kakunya lebih dari kanebo kering. Malah bisa dibilang seperti bahan roti yang diuleni tapi gagal, keras dan alot.


'Apa dijebak dulu aja kali ya, biar buru-buru dikawinin?' batin Sea mulai ngelantur.


"Kamu jangan pernah mikir aneh-aneh. Bertindak macam-macam dikit, gak akan ada namanya pernikahan." omel Zakki sembari menoleh sekilas ke arah Sea. Entah kenapa dia harus cukup waspada, karena bukan sekali dua kali doang Sea melakukan hal gila.


Sea mencebik. Selain dokter mungkin Zakki berbakat jadi cenayang. Dia selalu saja tahu rencana-rencana busuk Sea, bahkan masih dalam bentuk konsep acak aduk pun, Zakki langsung tahu. Pembaca pikiran yang baik memang.


"Sayang, kamu kan udah panggil orang tuaku mama papa, terus kapan kamu siap dipanggil papa sama anak-anakku? Mumpung masih muda, bibit-bibitya jelas masih berkualitas unggul loh." Sea terkekeh, dia bergelanjutan manja di lengan kiri Zakki.

__ADS_1


Zakki lagi-lagi cuma bisa menghembuskan napas pasrah. Sepertinya dia sedikit menyesal sekarang memberi penawaran nikah muda kepada gadis konyol ini. Otak dan mulutnya selalu saja membahas yang sama.


"Ujian tinggal dua bulan lagi. Jangan cuma omong doang yang gede. Belajar yang giat, dapat nilai bagus. Setelah itu, baru aku jabanin kamu mau punya anak berapa. Mau gak keluar kamar seminggu pun, ayo!"


Sea langsung bangkit dari posisinya, ditatapnya Zakki dengan mata berbinar. "Serius?" tanyanya dengan antusias.


"Setelah kita nikah."


"Aseeekkk," ucap Sea girang.


Zakki hanya geleng-geleng kepala melihat antusias Sea.


"Seminggu di kamar, ya? Emang kalau cuma sekedar buka kado dan bikin anak harus seminggu dan gak keluar kamar, ya? Temenku kemarin nikah, katanya cuma dua jam aja tiap hari, eh bulan depan dia hamil. Jadi, kalau seminggu di kamar terus, apa gak kelamaan?" tanya Sea dengan polosnya.


Zakki langsung menganga tak percaya. Sebenarnya otak Sea ini berisi dari apa sih? Perasaan dia dari tadi yang heboh bahas anak, giliran diberi pemompa semangat, dia malah gak ngerti.


Ya Allah, untung Zakki sabar.


****


Sea mengerjab beberapa kali melihat rumah besar di depannya. Memang gak sebesar rumahnya sendiri, tapi taman yang penuh dengan pepohonan, membuat nuansa rumah inj menjadi rindang dan sejuk.


Belum lagi, sepanjang dia memasuki pendopo desa tadi, dia sudah disuguhi dengan pemandangan sawah yang hijau dan segar. Benar-benar tempat baru bagi Sea.


"Ini rumah siapa?" tanyanya kepada Zakki yang sibuk mengeluarkan koper dari bagasi.


"Rumah paklekku. Sudah saatnya kamu bertemu dengannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kangen gak?


Kangen gak?


Kangen gak?


Enggaklah, sapa gue😂😂😂


Insya Allah kalau bisa, kita up dua bab hari ini, ya? Tapi nanti agak siangan dulu. Sebagai ganti kemarin lama menghilang dan mumpung idenya lagi lancar.


Maaf, yak, partnya masih gaje-gaje begini, ini aja mikirnya sambil nguleni nastar yang hampir gagal🤣 tapi untungnya langsung jadi inspirasi buat Zakki🤣🤣


Terima kasih yang sudah mendoakan kesehatanku kemarin, Diperhatikan semanis ini, jadi tambah cinta akutuh sama kalian..


Jangan terlalu baper, ingat lagi puasa.🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2