Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Bersamanya sampai nanti


__ADS_3

"Are U serious, Mar? Wanita ini istrimua?" tanya Erika dengan nada mengejek.


Dasar Kutil badak! Emang kenapa denganku? jelek-jelek begini, Mas Damar pernah bilang kalau isapanku tak tertandingi. Ngisap jempol maksudnya.


Merasa si Erika ini ngajak perang, aku melangkah sejengkal lagi, berdiri dengan angkuh tepat disamping Mas Damar.


Mau dia ngerendahin seperti apapun, Aku sudah sah jadi istri Mas Damar, wanita yang menjadi selimutnya kalau malam. Meskipun anehnya selimut itu biasanya tertutup rapat, yang ini malah polosan. Ngerti maksudnya? ngertilah, reader gua pinter-pinter, euy.


"Iya, dia istriku, memangnya kenapa?" tanya Mas Damar, aku tersenyum miring. Aku menang.


"Dia seperti bukan tipemu, Mar," ucap Erika sembari melihatku lagi.


"Jangan pernah berpatokan kepada kriteria, Mbak. Karena bisa saja, jodoh yang diciptakan buat kita malah jauh dari yang kita harapkan. Daripada capek nyari pendamping yang tak kunjung sesuai kriteria, bukankah lebih baik kita berbenah diri, karena aku pernah dengar jodoh adalah cerminan dirimu, jadi selagi kamu baik, maka jodohmu akan yang baik pula," cerocosku yang membuat dua orang di depanku terdiam, bahkan Mas Damar pun sepertinya terpaku dengan ucapan.


"Contohnya saja Mas Damar, bisa jadi kriteria dia tinggi, tapi buktinya Allah mengirimkan aku untuknya. Dulu dia sudah kembaran sama kanebo kering dan kulkas, tapi berkat bersama denganku, dia sekarang lebih mencair, bahkan tanyakan saja apa dia bisa jauh-jauh dariku?"


Aku melirik Mas Damar dengan senyum, lelaki itu masih diam sesaat, sebelum akhirnya menarik pinggangku mendekat padanya.


"Kamu benar, Sayang. Tak salah memang aku melabuhkan pilihanku padamu." Mas Damar tersenyum sembari menatapku.


"Jadi pingin ngarungin di kamar lagi," lanjutnya dengan berbisik tepat di telingaku.


Aku spontan menginjak kakinya. Tak lihat keadaan banget.


Erika tiba-tiba saja bertepuk tangan, sebuah tawa terdengar dari mulutnya. Dahiku mengeryit, tak tahu maksud dibalik tawa itu.


"Luar biasa, Mar. Sekarang aku yakin kamu tak salah pilih. Istrimu ini memang cocok disandingkan dengan pria kaku sepertimu," ucap Erika dengan tersenyum.


"Erika, maaf kalau sudah menyinggungmu tadi," lanjut Erika seraya mengulurkan tangan.


Aku tersenyum, meraih jabatan tangannya tanda bahwa kita sudah sepaham sekarang.


"Rin, nitip Langit sebentar, kami mau nyari konsep buat resepsi pernikahan," ucap Mas Damar kepada Arin yang ternyata berdiri dibelakangku.


Arin mengambil Langit dari gendonganku. Gadis itu tersenyum penuh arti, aku tahu betul maksudnya.

__ADS_1


Erika mengitariku, memandangku dari atas ke bawah, apa maksudnya? Mau mengejek lagi?


"Untuk masalah wajah, Saras sudah cukup manis, dipoles sedikit saja, aku yakin dia akan terlihat cantik natural," jelas Erika yang membuatku malu-malu.


Ternyata maksud dia melihatku tadi adalah begini, memastikan hiasan apa yang cocok denganku.


"Tapi untuk bodi, ya, sedikit datar, bisalah nanti kita siasati. Tembel-tembel dikit, pasti jadi," lanjut Erika.


Aku memayunkan bibir, setelah di terbangkan ke atas, dia sosopin aku kebawah, nyelekit cuy, sakit tapi gak berdarah.


"Kamu atur saja, Er. Aku percaya padamu, buat istriku yang manis ini lebih cantik lagi," ucap Mas Damar seraya merangkul pinggangku. Manis banget suami dudaku ini.


"Oke, itu sudah tugasku. Sekrang kita pikirkan konsep buat pesta."


Aku dan Mas Damar duduk berdampingan. Sedangkan Erika duduk di depan kami. Wanita itu mengeluarkan banyak buku. Dia membuka beberapa, ternyata ada banyak konsep dekorasi yang amatlah cantik dan indah. Ah, jadi keder deh ini mata.


Erika menjelaskan dengan detail setiap konsep yang aku tanyakan. Dari pelaksanaan acara dimana, pakai bunga warna apa, dekorasi yang bgaimana, hingga makanan untuk catering pun dia jelaskan semua.


Semua ini mengalahkan kawinan juragan tanah di kampungku, mereka buat pesta tujuh hari tujuh malam, tapi di sini Mas Damar hanya melakukan pesta semalam dan sudah merogo saku yang amatlah dalam. Tajir bener ini suamik.


Kami sama-sama tersenyum, sejujurnya aku justru lebih pingin nangis mendengar ucapannya. Mas Damar mendaratkan ciuman di keningku, aku menutup mata, merasakan sebuah ketulusan dari lelaki yang kini menjadi suamiku itu.


"Oke, baiklah-baiklah, siklahkan kalian lanjutan mesra-mesraannya. Aku pamit dulu, aku akan atur waktu kapan kalian bisa fitting baju pengantin."


Mas Damar menjauhkan wajahnya, aku tertunduk malu, lupa kalau ada Erika di sini. Wanita itu sedang merapikan buku-bukunya. Setelah semua rapi, Erika berdiri. Dia pamit dengan senyum manis terkembang.


"Mas, Ih, malu tau tadi dilihat Erika," rajukku yang membuat Mas Damar terkikik.


"Dia sudah biasa melihat hal itu, Sayang. Dia pengurus WO, bukan hal tabu dia melihat kliennya ciuman, aku bahkan ingin sekali menggigit bibirmu tadi." Aku memukul lengan Mas Damar, lelaki itu justru mengacak rambutku, gemas katanya.


"Mas, boleh, gak besok kalau undangan sudah jadi aku anter ke Zakki?" tanyaku sembari memainkan tangan di atas dada bidangnya.


Maklum saja, lelaki itu tadi menarikku dalam pelukannya, mau tidak mau, sekarang aku sedang bersandar di dadanya.


"Gak boleh!" jawabnya tegas.

__ADS_1


"Cuma sebentar, Mas."


"Lagian kenapa mesti kamu? aku bisa kirim orang buat antar undangan ke dia."


"Dulu aku punya janji buat traktir dia makan, Mas. Dan sampai sekrang belum keturutan. Kan dosa Mas, kalau gak di tepati."


"Dia bisa makan sendiri, Ras. Uangnya banyK, gak butuh kamu tratir."


Aku memutar bola mata malas, susah banget ngerayu ini laki.


"Mas, yang merawani aku itu kamu, bahkan yang gak buat aku gak bisa jalan juga kamu, masa kamu masih cemburu aja sama Zakki?"


Aku bangun dari sandaranku, menatap suamiku itu dengan gemas. Mas Damar sepertinya berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia buka suara.


"Baiklah, tapi janji tidak lama dan hanya makan," ucapnya yang lansung bersorak senang. Aku memeluk lelaki itu, meletakkan kembali kepalaku pada dada bidangnya.


"Terima kasih, suami."


"Tapi ada syaratnya." ucap Mas Damar, fillingku gak enak nih, pasti gak jauh-jauh dari urusan ranjang.


"Apa?" aku mendongak menatapnya.


"Sekarang sebagai uang muka tanda setuju, kamu harus siap keramas lagi. gimana?" Mas Damar menaik turunkan alisnya.


Benerkan dugaanku.


Aku mengangguk pasrah. Lelaki itu langsung berdiri dengan semangat, menarik tanganku dan menggandengnya. kemana lagi klau bukan ke kamar.


Olah raga lagi, keramas lagi, genjot-genjotan lagi. Untung enak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


No coment, Guys. Aku mau masuk kamar dulu😂😂😂


kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2