
"Maaf, Mas. Eh, Pak. Sepertinya kita gak bisa kerja dalam waktu dekat ini, kami masih sama-sama terikat kontrak dengan toko, kalau nekat keluar nanti disuruh bayar denda," jelas Dini kepada Mas Damar.
Aku pun membenarkan ucapan Dini. Masih ada sisa lima bulan kontrakku di periode ini. Ah kenapa saat ada rejeki seperti ini ada saja halangannya. Mana mungkin Mas Damar mau menunggu sampai lima bulan, yang ada malah lupa dia sama aku.
"Masalah itu kalian tenang saja, biar asistenku nanti yang urus," Jawab Mas Damar.
"Tapi gimana caranya? Kami tidak punya uang untuk bayar denda, lagi pula memangnya Pak Damar kenal dengan bos kami?" Kini giliranku yang membuka suara.
"Nama bos kalian Pak Jefri, kan? Aku kenal dengannya. Dia reseller tetap perusahaan ini, beberapa barang di toko kalian kami yang suplay," urai Damar yang membuat bibirku membulat seketika.
Tajir bener ini laki, dipamerin ke Ibu pasti seneng banget dia. Jangankan cuma sawahnya juragan Ipan, orangnya pun bisa dibelinya. Gusti, perlancar jalan hamba untuk berbakti kepada orang tua.
"Kalian selesaikan dulu urusan kalian di sana. Paling tidak tiga hari dari sekarang. Urusan Pak Jefri biar saya yang urus," jelas Mas Damar lagi yang kuangguki dan Dini.
"Pak, kami mesti bagaimana buat ngucapin terima kasih? Bapak baik banget, padahal kami cuma membantu merawat Langit, tapi balasan Bapak sungguh di luar dugaan kami." Sembari tetap menggendong Langit dalam pelukan, kuutarakan rasa terima kasihku kepada lelaki yang akan menjadi ayah untuk calon anak-anakku kelak. Eeh ....
"Langit itu segalanya buat saya. Tak bisa saya bayangkan jika kemarin dia jatuh ke tempat yang salah. Buat saya, ini tak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan kalian merawat Langit. Saya yang harusnya berterima kasih," ujarnya dengan senyum mengembang.
Untuk beberapa saat kami saling diam, bingung apalagi yang harus dibicarakan. Mau membicarakan rencana masa depan bersama juga terlalu cepat.
"Kalau begitu kami mohon pamit, Pak. Kami akan kembali tiga hari lagi," pamitku membuka suara. Aneh saja ada tiga orang di ruangan malah saling diam, berasa mau malam pertama.
"Oke, eeh tunggu dulu, Dini habis ini kamu ke HRD dulu, ya? Tanda tangan kontrak terus nanti dijelasin tugas sama gaji kamu. Kalau kamu Ras, besok saya jelasin pas di rumah aja." Aku dan Dini mengangguk bersama.
Aku dan Dini segera beranjak, tapi terhenti saat ingat bahwa Langit masih dalam pelukanku. Aku kembali menyerahkan Langit yang sudah tertidur kepada ayahnya. Sebelum akhirnya kami keluar dari ruangan itu. Sama seperti sebelumnya tatapan horor kami dapatkan kembali. Padahal sebenarnya kami yang lebih horor melihat lipstik mereka yang merah merona, seperti habis makan anak ayam.
Sebelum pulang, Dini diantar oleh wanita yang katanya sekretaris Pak Damar ke ruang HRD. Sembari menunggu Dini, kuputuskan untuk menunggunya di ruang tamu. Bodo amat diliatin para mak lampir, pasti mereka gak pernah lihat cewek imut kayak aku.
"Gimana, Din? Kerjanya enak? Gajinya gede, gak?" tanyaku saat melihat Dini keluar dari ruangan HRD.
__ADS_1
"Pokoknya kerenlah, Ras. Doain aku betah, ya? Apalagi gajinya dua kali lipat gaji di toko. Mantul, deh," jelas Dini penuh antusias.
"Waah ... keren. Gajiku besok berapa, ya, Din? Kan cuma jadi baby sitter, bukan staf kayak kamu."
"Gajimu sudah pasti gede, Ras. Kan kamu bukan baby sitter biasa," ucapnya dengan menaik-turunkan alis. Kami pun akhirnya tertawa bersama.
Gedung yang megah, serta arsitektur yang unik benar-benar menyita perhatian kami. Bangga rasanya bisa kenal dan menjadi bagian dari tempat ini, hingga tanpa sadar kami sudah berputar-putar di lantai itu tiga kali, tak salah jika si mbak penjaga pos itu menahan senyum dari tadi.
"Ras, mimpi apa kita, sampai seberuntung ini. Nemu anak, dikejar para penjahat, nemuin bapaknya itu bocah yang ternyata orang kaya raya sampai kita dapat kerjaan di tempat kayak gini. Benar-benar kayak sinetron, ya?" celoteh Dini saat kami telah berhasil keluar dari gedung itu.
"Ho'oh, kayak sinetron ikan terbang. Setelah itu, sang tuan yang kaya raya jatuh cinta sama baby sitter anaknya, mereka kawin, dan aku jadi nyonya muda," celotehku sembari menerbangkan anganku jauh, semoga saat ia kembali semua telah menjadi nyata.
"Ras, itu ada nomor sedot WC," tunjuk Dini yang membuyarkan anganku.
"Buat apaan?" tanyaku dengan dahi berkerut.
"Buat nyedot teman sebelahku yang udah kayak ***," jawabnya yang langsung kujitak kepalanya.
"Mangkanya kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, saking tingginya sampe otakmu ketinggalan, noh."
"Ish ... apa salahnya orang bermimpi? Mumpung gratis!" ejekku tepat di depan muka Dini.
"Iya, gratis mimpinya, tapi kecewanya dibayar tunai!"
Capek berdebat untuk hal yang sebenarnya gak penting-penting banget, aku pun memilih mengalah. Kuamati sekitar, baru sadar jika kaki mulai lelah karena berjalan jauh.
"Din, angkotnya di mana, sih? Kok gak sampai-sampai? Capek jalan terus," rengekku yang membuat Dini ikut berhenti.
"Lah, aku mana tau. Daritadi aku cuma ngikut kamu aja. Kirain kamu tau jalan."
__ADS_1
"Jadi kita sama-sama gak tau? Kita ini nyasar? Oalah, Gusti paringi padang dalanku."
****
Aku menggeliat saat merasakan perut mulai keroncongan. Entah sudah berapa lama aku terlelap hingga lupa kapan terakhir makan. Ah, iya, tadi aku sudah makan banyak bareng Dini, tapi makan angin. Emang semprul itu bocah. Perjalanan yang seharusnya cuma sejam molor jadi tiga jam gara-gara nyasar gak karuan.
Perut yang makin keroncongan memaksaku untuk segera bangun dari peraduan. Setelah merapikan baju dan rambut yang berantakan, aku melesat keluar. Biasanya, di jam-jam seperti ini, banyak sekali pedagang kaki lima di depan gang indekos. Mulai dari nasi penyetan yang harga standar sampai masakan China versi kaki lima dengan harga ciamik pun ada. Kebetulan karena hari ini aku sedang berbahagia, maka akan kurayakan dengan nasi penyetan, sesuai standart isi dompet di tanggal tua.
Sebungkus nasi telah di tangan, dengan mendendangkan lagu Umi Elvi Sukaesih, aku berjalan kembali ke indekos. Suara bunyi klakson terdengar di belakang, aah mereka tahu saja kalau ada cewek cantik lagi jalan sendirian. Aku terus berjalan tanpa memedulikan bunyi klakson yang berisik itu.
Bunyi klakson telah berhenti, tapi tiba-tiba saja sebuah motor berhenti tepat di depanku.
"Sombongnya, diklakson dari tadi noleh aja enggak," ucap lelaki itu sembari melepas helmnya.
Surprise! ternyata sedari tadi yang berisik itu ternyata Alvin. Manis banget, sih, cara ngegodanya, jadi makin sayang.
"Eh, maaf. Aku gak tau kalau kamu, aku kira lelaki iseng aja," jawabku sembari nyengir.
Lelaki tampan itu turun dari motor. Sembari tetap memegang helm, dia berdiri dengan bersandar pada motornya. Cakepnya spontan meningkat seribu persen.
"Ouw ... berarti biasanya sering digodain? Wajar sih, cakep soalnya." Gusti, jantung mau copot ini. Kaca mana kaca? Pasti mukaku sudah gak karuan ini.
"Iish ... tiba-tiba dipuji kayak gini, meleleh hati adek, Bang," ucapku yang membuat Alvin spontan terbahak.
Dia bangun dari motornya, melangkah mendekat dan semakin dekat. Aku pun spontan mundur perlahan, belum siap jika menghadapi kenyataan indah di tengah jalan seperti ini. Gusti, tolong jagain hatiku, jangan biarkan copot.
"Ras," panggilnya seraya makin mendekat.
"Iya, Vin."
__ADS_1
"Aku mau bilang ...," ucapnya dengan terus maju.
Jangan-jangan Alvin mau nembak aku? Jawab apa, ya? Aku memang suka sih, tapi masa langsung jawab iya? Jual mahal dikit dong. Iish ... jadi deg-degan kan.