Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Arti Rindu


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 89


Sea keluar dari kamar tepat saat Zakki akan menuju arahnya. Sea yang melihat Zakki, sontak langsung memasang senyum manisnya. Zakki sendiri melihat Sea dengan tas besarnya sembari mengeryitkan dahi.


"Selamat sore dokter ganteng," sapa Sea yang otomatis membuat Zakki berhenti.


"Mau pulang?" tanyanya singkat.


"Iya, dokter kenal Dilan, gak?" tanya Sea yang membuat dahi Zakki berkerut sebelum akhirnya menggeleng.


"Ish, Sepertinya dokter memang harus sering-sering bergaul denganku biar gak kudet gitu. Dilan itu pacar Milea, Dok. Kata dia, Rindu itu berat. Mangkanya aku gak bakal bikin dokter menahan berat karena merindukanku," jelas Sea dengan senyum mengembang.


"Satu, saya gak peduli siapa Dilan dan siapa Milea. Kedua, jangan GR!" ucap Zakki datar.


"Ya, Allah, Dok. Mbok ya, sekali-kali tanggepannya yang enak dikit, napa? aku mau pulang ini, biarpun lebih seneng di sini sih," ujar Sea sok ngambek.


"Memang harusnya kamu pulang dari kemarin-kemarin," jawab Zakki lagi. Lelaki itu menoleh sekitar, tak ada siapapun, akankah gadis ini pulang sendiri?


"Mana keluargamu?" tanya Zakki mendadak.


"Kenapa nyari keluargaku? tenang saja, tanpa mereka datang rumah sakit sudah lunas kok, atau jangan-jangan dokter mau melamarku, ya?" Sea tersenyum lebar, tapi justru membuat Zakki keki setengah mati.


"Nyesel saya tanya, sudah pulang sana!" Zakki melangkah, meninggalkan Sea yang langsung cemberut.


Baru beberapa langkah berjalan, entah kenapa ada yang mengganjal hati Zakki. Lelaki itu menoleh, melihat Sea yang berjalan berlawanan dengannya sembari tertatih.


Dia ingin mendekat dan membantu, tapi takut gadis itu mengira yang tidak-tidak. Namun kalau dibiarkan saja, entah mengapa dia tak tega. Bagaimanapun dia adalah seorang dokter, terlepas dari sifat Sea yang menyebalkan, tapi gadis itu pasiennya sekarang.


Zakki berjalan menuju ruang penyimpanan, setelah menemukan yang dia cari, lelaki itu lantas kembali ke tempat awalnya.


"Duduklah, aku akan mengantarmu keluar," ucap Zakki yang sedikit mengejutkan Sea.

__ADS_1


Gadis itu berbalik, meskipun setengah kaget, ia lantas tersenyum lebar melihat Zakki dengan sebuah kursi roda di belakangnya.


"Aih, ternyata diam-diam dokter perhatian juga, ya? jadi makin naksir," ucap Sea sembari membetulkan duduknya.


"Diamlah! atau aku akan menyuruh suster yang mengantarmu," ucap Zakki tegas.


"Baiklah, apapun yang dokter mau."


Zakki mendorong kursi roda Sea menuju pintu masuk. Beberapa orang melihat mereka, sebenarnya pemandangan ini bukanlah hal yang aneh, hanya saja kelakuan Sea yang menebar senyum sembari membalikkan tubuhnya ke arah Zakki, membuat semua orang menatap mereka dengan tatapan aneh.


"Kemana orang tuamu? Bukankah mereka harusnya datang menjemputmu?" tanya Zakki seraya terus mendorong kursi roda.


"Ada, tapi mungki mereka sedang sibuk. Lagi pula, aku tak yakin mereka tahu aku di sini," jelas Sea dengan tetap menguarai senyum.


Zakki sejenak berpikir, beberapa hari di rumah sakit dia memang tak melihat siapapun yang datang menjenguk gadis ini. Dia selalu sendiri, bahkan untuk makan saja dia berjalan sendiri ke kantin.


Dan sekarang, saat Zakki menanyakan keberadaan orang tuanya, gadis ini bercerita dengan santai. Bahkan terlihat baik-baik saja, entah apa yang terjadi yang jelas itu membuat hati Zakki sedikit simpati.


"Kamu tidak punya saudara yang lain?" tanya Zakki lagi.


"Jangan berharap. Aku hanya heran kenapa kamu selalu sendiri, bahkan sejak masuk ke sini."


"Aku biasa sendiri, Dok. Hanya saat di dalam kandungan saja aku tak sendiri. Selebihnya, aku bahkan lupa apa masih ada namaku di kartu keluarga."


Kali ini, Zakki mendengar ada sedikit nada bergetar dari suara Sea. Bagaimanapun juga, Sea adalah seorang wanita, pasti ada rasa sedih dihatinya saat tak ada orang di sampingnya di saat kondisinya seperti ini.


"Tapi dokter tenang saja. Boleh saja namaku tidak ada di kartu keluarga, tapi namaku nanti pasti ada di samping namamu, bahkan foto kita juga akan bersanding, di dalam buku nikah,"


Zakki memutar bola matanya malas. Lagi-lagi dia salah menerka, Entah Sea yang terlalu kuat, atau justru dia belum paham arti sebuah keluarga. Apapun itu, entahlah.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Zakki mengalihkan pembicaraan.


"Aku bawa mobil, Dok."

__ADS_1


"Dengan kondisi kaki seperti ini? kamu yakin bisa?" tanya Zakki yang entah kenapa membuat bibir Sea melengkung sempurna.


"Dokter mengkhawatirkanku? Baiklah, aku akan naik taksi online saja. Aku tidak mau hati dokter dipenuhi rasa lain selain rasa cinta padaku, termasuk rasa khawatir."


Ya Allah, sepertinya gadis ini benar-benar diciptakan dari tanah sengketa, kerjaannya ngajak ribut mulu.


Zakki sampai di lobi rumah sakit, dia memanggil salah seorang suster untuk mendekat.


"Sus, Kalau taksi online pesanannya sudah sampai, bantu dia. Saya mau masuk ke dalam." Pesan Zakki yang diangguki oleh sang Suster.


"Loh, dok. Gak anterin aku sekalian?" teriak Sea.


"Enggak. saya harus mengurus pasien lain. Ada suster yang akan membantumu."


"Baiklah kalau begitu. Dokter jangan kahwatir, aku akan sering kemari, jadi jangan biarkan rindu menguasaimu."


"Terserah!" ucap Zakki sembari berlalu dari sana.


Tak ada yang lebih mengenal rindu sebaik aku, Sea. Kamu bahkan tak tahu bagaimana perihnya saat rindumu hanya berbalas dalam balutan persahabatan.


Bahkan cinta yang kamu ucapkan itu tak akan pernah sebanding dengan rasa rinduku padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kurang ngefeel, yakk? Maafin, ya? Otakku lagi buntuh dari kemarin๐Ÿ˜… Tapi lumayanlah dari pada gak up, ye, kan๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…





__ADS_1


Aku lagi bikin ini, Guys. Sayangnya, di sini gak bisa up video. Aku kasih SSnya aja, yakk๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2