
Aku mondar-mandir tak jelas di depan kamar Mas Damar. Sebenarnya, aku masih sangat malu bertemu dengannya gara-gara insiden kain jala tak jelas semalam, tapi mau bagaimana lagi, aku sedang membutuhkan sesuatu sekarang.
"Ras, kamu sedang apa?" Gara-gara sibuk dengan pemikiranku sendiri, aku sampai tidak sadar kalau Mas Damar keluar kamar.
"Eh, aku nungguin Mas Damar daritadi," jawabku sembari nyengir.
"Kenapa gak ketuk pintu saja?"
"Ehm, gak enak. takut Mas Damar masih tidur."
"Ada perlu apa mencariku?"
"Gini, Mas. besok kan Langit genap enam bulan, sudah waktunya dia makan. aku cuma mau tanya, dia mauk dikasih bubur yang siap seduh, apa kita bikin sendiri?"
"Kalau menurutmu bagaimana?"
"Aku lebih suka bikin sendiri sih, Mas. lebih hiegenis dan tentu saja sehat. Kita bisa bikin varian rasa yang berbeda-beda tiap hari, agar Langit gak bosen nanti." Mas Damar manggut-manggut mendengar penjelasanku.
"Apa itu malah tidak semakin merepotkanmu?"
"Sedikit repot sih, Mas. tapi lebih baik repot yang penting kesehatan Langit terjamin."
"Oke, aku setuju dengan saranmu. Kamu bisa belanja apa saja yang kamu butuhkan. Pakai saja kartu kredit yang kamu bawa itu."
"Baik, Mas. Nanti siang aku akan belanja dengan Arin." Mas Damar mengangguk lagi dengan ucapanku.
"Kami tahu banyak, ya, tentang seorang bayi."
__ADS_1
"Ah, iya, Mas. itu karena aku sudah mempersiapkan diri menjadi ibu, hanya saja calonnya saja yang belum ada." Aku nyengir dan Mas Damar hanya geleng-geleng saja.
"Oke. Sebagai persiapan kamu juga boleh membeli lingerie lagi," ucap Mas Damar sembari menahan senyum.
Lelaki itu berlalu begitu saja dengan aku yang masih membeku di tempat. Kenapa dia mengingatkan lagi dengan kain jala itu? Bikin malu saja.
Aku kembali ke kamar dengan perasan sebal sekaligus malu. Setelah menutup pintu, entah kenapa pandanganku tertuju kepada bungkusan yang berisi kain jala.
Sejujurnya aku penasaran, seperti apa pemakaian kain jala itu, selain bentuknya yang hanya berupa jala ada juga beberapa tali yang sepertinya terikat satu sama lain. Sebelum aku mati penasaran, aku pun memutuskan berselanjar di dunia maya.
Aku melongo kaget saat bagaimana benda itu dipakai. Kain yang persis jala itu bernama stoking, untuk dipakai di kaki, sedangkan tali-tali yang terikat itu penghubung antar stoking dan CD. Tunggu! dimana celana dalamnya? aku mengangkat sebuah kain berbentuk segitiga, kalau dia celana dalam, kenapa hanya satu bagian yang membentuk segitiga? Apa ini hanya untuk bagian depan? lantas bagian belakang hanya ditutupi dengan seuntas tali yang sudah pasti tak akan menutupi apapun?
Gusti, orang kurang kerjaan mana yang membeli baju tak jelas bentuknya ini?
"Ras, kamu sudah bangun?" Pintu terbuka persis saat aku mengangkat kain segitiga tepat di depan mataku.
mendapat pertanyaan seperti itu, spontan aku membuang kain jala itu kesembarang arah.
"Ih, amit-amit, gak mungkin lah, Rin. aku hanya penasaran saja, seperti apa bentuk dan rupanya kalau dipakai."
"Tapi kalau kamu masih penasaran, aku mau bantuin pakainya," ucap Arin sembari menaik turunkan alis. Aku semakin melongo mendengar tawarannya.
***
Arin sedang mempersiapkan Langit saat aku datang ke kamar bocah itu. Aku menggendongnya saat Arin telah selesai.
"Cakep bener sih ini bocah, jadi pingin jadi mamanya," ucapku seraya menciumi bocah menggemaskan itu.
__ADS_1
"Kamu berpeluang jadi mamanya, apalagi jika mau merayu papanya dengan lingerie tadi," ceplos Arin dengan tak berdosanya.
"Ah, resek. dibahas mulu, bikin malu aja." Arin tertawa lebar mendengar ucapanku.
Aku dan Arin berjalan beriringan menuju lantai bawah. Sudah pukul sembilan, tapi terlihat Mas Damar belum berangkat ke kantornya.
"Selamat pagi, Sayang," sapaan dari arah pintu membuat semua orang menoleh. Terlihat titisan Nyi Blorong sedang berjalan dengan gayanya yang begitu paripurna. Satu hal yang menjadi pertanyaanku, jam berapa dia bangun dan berdandan seperti itu?
Wanita itu mendekat ke arah Mas Damar, mengambil tempat duduk tepat di sampingnya hingga detik kemudian mengecup pipi Mas Damar sekilas. Cewek kok nyosor duluan.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Mas Damar saat kami sudah sampai di depannya.
"Iya, Mas," jawabku sembari melirik Nyi blorong.
"Halo, para babu. Kalian mau kemama mengajak anakku?" sapanya dengan gaya sok cantik.
"Angel, bisakah kamu memanggil mereka lebih sopan?" ucap Mas Damar kepada titisan nyi blorong itu.
"Oke, maafkan aku, Sayang. aku cuma mau tanya, mau kemana mereka?"
"Mereka mau ke supermarket untuk membeli kebutuhan Langit," jawab Mas Damar sembari kembali menatap laptopnya.
"Kamu masih percaya dengannya setelah kejadia kemarin?" tanyanya dengan menunjuk ke arahku.
"Angel, kita sudah bahas ini kemarin. Justru kamu harus bersyukur masih kuperbolehkan datang kemari," ucap Mas Damar tegas.
Aku dan Arin hanya bisa menahan senyum, sedangkan si titisan nyi blorong itu menatap kami seakan-akan ingin menelan kami begitu saja.
__ADS_1