Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Mereka Kembali


__ADS_3

Sama seperti biasa, tiba-tiba saja kewarasanku hilang saat melihat hasil ciptaan Tuhan yang begitu indah. Gusti ... kenapa kau pertemukan aku berkali-kali dengannya, akankah pertanda kami berjodoh? Jika memang jodoh maka dekatkanlah, tapi jika tidak jodoh, ambil saja jodohnya. Kalau bisa secepatnya. Amin. Kejam? Bodo amat.


"Pagi, Mas. Perlu sesuatu lagi?" sapaku sembari menawarkan belanjaan yang mungkin terlupa. Padahal sebenarnya, ingin sekali aku menawarkan diri untuk menjadi istrinya, sapa tahu masih ada kesempatan.


"Sudah, ini aja cukup," jawabnya sembari tersenyum manis.


Gusti, untung saja aku tidak punya riwayat diabetes, kalau tidak bisa langsung pingsan berdeketan dengan yang manis-manis kayak gini.


"Baiklah. Sebelumnya aku gak pernah lihat Mas di sini, tapi akhir-akhir kayaknya sering ke sini. Ada pekerjaan di sini?" tanyaku sok akrab. Biarin deh dianggap sok kenal, namanya juga usaha.


"Ah, iya, kebetulan ada yang sedang aku cari di sini, tapi sampai sekarang belum ada titik terang," jelasnya seraya menyerahkan uang seratus ribuan saat sebelumnya aku menunjukkan jumlah belanjaannya.


"Oh ... Ka--." Belum sempat aku melanjutkan ucapan, terdengar suara tangis Langit dari gudang.


"Ras, anakmu bangun, nih. Tadi tak gendong gak mau malah nangis," teriak Heru di depan pintu gudang.


Entah kenapa tanpa memedulikan Heru, spontan aku melihat ke arah Lee Min Hoo KW super. Terlihat dia ikut memperhatikan Heru sebelum akhirnya berpamitan pergi.


Aah ... dasar Heru kampret! Bisa-bisanya dia nyebut anak di depan si mas ganteng, kalau dia batal naksir aku gimana? Resek memang itu manusia, tak sumpel tahu bulat baru tau rasa.


Sepeninggal Lee Min Hoo KW, segera aku menghampiri Langit yang masih menangis dalam gendongan Heru. Susu yang kubuat saat ia tertidur lagi langsung saja kuberikan padanya. Seperti biasa, saat susu tandas si bayi pun tertidur pulas.


Jam menunjukan pukul 4 sore, sudah waktunya pulang. Saat sedang beres-beres barang Langit, terdengar dering handpone dalam tas. Dini memanggil ....


"Assalammualaikum, apa, Jum?" sapaku.


"Waalaikumsalam, Ras jangan pulang! Orang-orang berjas kemarin lagi muter-muter di daerah sekitar kos," cerocos Dini yang membuatku juga amat kaget.

__ADS_1


"Hah! Kok bisa? Kamu gak salah lihat? Bukannya kemarin kamu bilang pakai data sodara kamu yang di Sumatra?"


"Emang iya, aku juga bingung kenapa mereka bisa tau kita bohong. Ah iya, kita lupa satu hal, Ras. Mereka orang kaya, bisa melakukan apa saja."


"Lah terus aku sama Langit gimana? Gak mungkin kalau tidur toko, kan?"


"Kamu di sana saja, nanti kalau keadaan sudah aman kamu aku kabari. Pulang naik ojek saja, jangan jalan kaki, bahaya!"


"Yawes, jangan lupa kabari pokoknya. Kasihan Langit tidur di kardus terus," ucapku sebelum akhirnya menutup panggilan.


Aah ... kenapa semua jadi rumit gini, sih. Langit ini sebenarnya anak siapa? Kenapa keberadaannya seperti dicari orang banyak? Gusti, paringi selamet.


Dua jam aku menunggu dengan gelisah, tak ada kabar dari Dini. Untung saja Langit tak rewel meskipun harus tidur beralaskan kardus. Bagaimana kalau sampai akhirnya mereka tau keberadaanku dan Langit? Akan mereka apakan bayi tak berdosa ini? Siapa mereka? Apa hubungannya dengan Langit?


Berbagai macam pertanyaan berputar di benakku. Terus berpikir ternyata membuat otak dan perut bekerja keras. Lapar, kuputuskan untuk mencari nasi goreng depan toko. Kutitipkan Langit yang tidur kepada Angga, teman kerjaku yang lain. Heru sudah pulang sejak tadi karena pergantian sift.


Sembari menunggu nasi goreng matang, aku memastikan apakah orang-orang itu akan kembali. Sampai nasi goreng siap mereka tak kunjung terlihat, sepertinya aman jika aku pulang sekarang.


Bergegas aku masuk ke dalam toko, menuju gudang untuk mengambil Langit dan perlengkapannya. Kulihat Hp dan benar saja, ada Whatshapp dari Dini, dia menyuruh untuk cepat pulang. Kebetulan Angga akan pergi mencari camilan, akupun memintanya untuk sekalian mengantarku pulang, dia setuju.


Seperti biasa, kusembunyikan Langit dengan jaket besar milikku. Tubuhku yang kata orang-orang mirip papan triplek terlihat sedang hamil sembilan bulan karena menggendong Langit di depan dan tertutup jaket.


Motor terus melaju, aku pun tak henti memastikan bahwa keadaan aman. Angga dan Ratna --teman kerjaku-- yang sedari awal bingung dengan keberadaan Langit yang tiba-tiba, semakin bingung melihatku yang gelagapan sendiri. Untungnya mereka memilih untuk diam dan cari aman, karena mereka tau jika ngamuk aku lebih seram dari macan tidur.


Sesampainya di rumah, aku segera masuk kamar. Kuhubungi Dini agar segera menyusul ke kamar, kami butuh mengatur strategi.


"Cuma satu?" tanya Dini saat melihat aku menikmati sebungkus nasi goreng.

__ADS_1


"Ho'oh, lah mana aku tau mau pulang, tadi kan niatnya dimakan di toko," jelasku dengan mulut penuh nasi.


"Iish ... padahal di sini aku nahan laper gara-gara gak berani keluar," jawab Dini dengan bibir manyun.


"Ya, sudah, mau rendang?" tanyaku yang diangguki Dini dengan cepat.


"Noh, di lemari, Indomie rasa rendang, buat aja sendiri." Mata Dini yang semula berbinar meredup kembali. Apa yang salah? Yang penting kan ada rasa rendangnya.


"Jadi, rencana kita selanjutnya gimana?" tanyaku pada Dini saat sebungkus nasi telah tandas.


"Kamu pindah kosan saja!" jawab Dini seraya terpaksa menikmati nasi rendangnya, eh mie rasa rendang maksudnya.


"Hah? Ogah. Aku udah nyaman di sini. Lagian mau pindah kemana? Belum tentu di luar sana ada tempat lebih aman dari tempat ini."


"Ya, sudah kontrak saja, pasti aman."


"Bayar pakai apa? Lagian aku pinginnya keluar dari sini pindah ke rumah suami, bukan pindah kosan lagi."


"Ya, sudah kawin aja," jawab Dini dengan entengnya, dia kira orang kawin kayak orang mau BAB, tinggal nyari toilet, langsung lega deh.


Hampir tengah malam mencari solusi, tapi bukannya jalan keluar yang di dapat, malah bau kentut Dini yang setia menemani. Ternyata perut gadis itu lebih kampungan dari pada perutku, baru makan rendang dalam bentuk mie instan saja sudah mules, apalagi makan rendang beneran?


***


Pagi ini, karena merasa kasihan dengan Dini yang semalaman buang air terus, kuputuskan untuk membelikan sarapan bubur untuknya. Untung saja uang dari Ibu masih ada, kalau tidak mana bisa aku beli bubur di tanggal setua ini.


"Hai, Ras. Beli bubur juga?" Sebuah sapaan membuatku menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Gusti, gara-gara sibuk dengan Langit, aku sampai lupa dengan dia, lelaki yang telah lama singgah.


__ADS_2