
Pintu diketuk saat aku masih bersandar nyaman di pelukan Mas Damar. Suamiku itu melepaskan pelukan dan berjalan ke arah pintu.
"Pak, ini makanannya." Mbak Indri berdiri di depan kamar dengan ekspresi yang tak kalah kaget dengan Arin tadi.
"Oh, iya, Makasih, Mbak. Sini biar aku yang bawa masuk," ujar Mas Damar seraya mengambil alih nampan yang berisi makanan.
Mas Damar membawa makanan masuk, sedangkan aku ke lemari untuk mengambil pakaian.
"Kamu makan sendiri gak papa, ya? kasihan Arin sudah nunggu di bawah," ujar Mas Damar sembari memelukku dari belakang.
"Iya, gak, papa, Mas," jawabku sembari tetap mengambil baju.
"Ngapain sih, pakai baju, nanti juga dilepas lagi," ucap Mas Damar sembari tetap di belakangku. Tanganya kini mulai melancarkan aksi, menelusup masuk ke jubah mandi.
"Mas, ih. Nakal banget itu tangan." omelku seraya memukul tangan Mas Damar.
Lelaki itu terkikik dan melonggarkan pelukan. Aku mundur beberapa langkah untuk menutup lemari.
"Eh, tunggu!" seru Mas Damar seraya menahan pintu lemari.
Aku digesernya ke samping, sedang dia maju dan mengambil sebuah bungkusan yang aku tahu pasti apa isinya.
Mati aku! Fellingku gak enak ini.
Mas Damar mengambil bungkusan tersebut, setelah melihat dalamnya dia melirikku dan tersenyum penuh arti.
"Mau aku ajarin pakai ini nggak?" godanya seraya mengeluarkan kain jala dari tasnya.
"Ogah, Mas. Nanti aku masuk angin. Lagian emang aku ikan disuruh pakai jala?" omelku yang membuat Mas Damar terbahak.
"Padahal aku pingin banget lihat kamu pakai ini, meskipun lebih seneng lihat kamu gak pakai apa-apa sih," ujarnya dengan satu kedipan mata.
"Ish, Mas Damar mesum banget sih sekarang." Mas Damar terbahak lagi, dia meletakkan kembali kain jala itu ke dalam lemari.
"Sudah, kamu makan dulu, soal lingerie nanti kita diskusikan lagi." Mas Damar mencium keningku, kemudian berbalik meninggalkan kamar.
Aku melirik sekilas kepada si kain jala, bukannya membahagikan suami itu pahala, coba jangan?
Usai berpakaian, aku duduk di meja rias untuk mulai makan. Ah, entah apa yang dipikirkan orang-orang si bawah sana, pasti kejadian ini membuat mereka mempunyai bahan ghibah yang panas.
Aku menghentikan makan saat mendengar suara gaduh dari bawah. Dari suaranya sepertinya tak asing. Penasaran, aku berjalan tertatih keluar kamar.
Dari lantai atas aku melihat Mas Damar yang berdiri kikuk dengan menggaruk-garuk kepalanya. Para Asisten rumah tangga berkumpul di sana, tapi karena mungkin takut, mereka memilih milihat dari jauh.
"Dasar, kamu, ya! berani-beraninya merawani anak gadis orang tapi gak nungguin aku datang dulu. Apa sudah segitu gak betahnya kamu jadi duda, hah!"
__ADS_1
Mas Damar hanya diam, tak membalas satu katapun.
"Apa segitu gak tahannya burungmu itu buat singgah di sarangnya? takut sp*rm* kamu berubah jadi odol?"
"Astagfirullah, Kakek. Malu di dengar orang," protes Mas Damar.
Aku sendiri hanya bisa menutup mulut, kaget dengan ucapan kakek yang amatlah vulgar.
"Hei, Cucu Mantu baruku, kenapa diam di situ? ayo sini!" Aku melonjak kaget saat kakek meneriakkiku. Ternyata dia sadar aku sedang memperhatikannya.
Semua mata beralih menatapku, tak terkecuali Mas Damar.
"Hmm ... Kek, Saras lagi gak enak badan, besok aja ngobrolnya, sekarang kakek istirahat saja," bujuk Mas Damar kepada kakek.
"Sakit? dia seger buger gitu," ucap Kakek kembali menatapku.
"Hmm ... itu, Kek. Aduh, gimana ngomongnya." Lagi-lagi Mas Damar terlihat salah tingkah.
Aku pun sama, hanya bisa tersenyum nyengir dari atas sini.
"Ouw kakek tahu, jangan-jangan kamu baru saja bikin dia jebol, ya? sekarang dia lagi gak bisa jalan?" todong kakek yang membuat Mas Damar langsung memukul dahinya.
"Kakek, sudah. Ayo istirahat. Bikin gaduh saja." tegas Mas Damar seraya meraih tangan kakek.
"Baguslah Anak muda. Paling tidak kamu bisa membuktikan kalau juniormu itu masib tajam. Awet muda kamu, Mar. dapat perawan lagi." Kakek terus saja mengoceh, padahal Mas Damar sudah menuntunnya menuju kamar tamu.
Dari arah tangga bisa kulihat Arin sedang naik dengan menggendong Langit.
"Ouw, pengantin baru, pantes aja dikurungin dari tadi," goda Arin saat sudah di dekatku.
"Mau tak ceritain rasanya gak? tapi jangan deh, nanti kamu baper," ucapku sembari terkikik.
"Ish, nyebelin banget, sih. Ah, Saras, kamu bikin ngiri aja," rengek Arin padaku.
"Ngiri soal apa?"
"Ya, itu, dari pembantu jadi ratu, aku kan juga pingin."
"Eh, jangan coba-coba, Mas Damar sudah jadi suamiku sekarang."
"Yee, aku juga tahu diri kali. Lagian sapa yang mau juga, stempel kepemilikanmu sudah melekat noh di lehernya, kirain tadi digigit semut, eh taunya digigit vampir perempuan." Aku terbahak mendengar ucapan Arin. Apa iya kelihatan? ah, berarti besok-besok bikin stempelnya di bagian dalam saja, di bawah mungkin. Ehh.
Arin melangkah menuju kamar Langit, bocah itu sudah tertidur di gendongannya. Aku mengikuti dengan sedikit tertatih.
"Pantesan makannya dikamar, lah wong jalan aja sudah sebelas dua belas sama bocah habis sunat." Aku hanya nyengir, sembari menahan nyeri.
__ADS_1
"Serius, Rin. ini sakit, tapi enak." Arin menoyor kepalaku, aku hanya terbahak melihatnya.
"Jadi, kemarin ke mediun karena bapak sakit atau mau kawin sih?" tanya Arin saat kami sudah duduk di kamar Langit.
"Semuanya serba mendadak, Rin. Ceritanya panjang deh, lain kali aku ceritain."
"Terus nasib dokter ganteng itu gimana? patah hati dong."
"Lah gimana lagi, perasaan gak bisa dipaksa. Kamu mau sama dia?"
"Ogah, dia pasti belum move on, males banget hidup dibawah bayang-bayangmu."
Pinti terketuk, terlihat wajah Mas Damar di balik pintu.
"Ras, ayo tidur, sudah malam. Biarin Arin istirahat," ucap Mas Damar yang kuangguki. Mas Damar menutup pintu kembali.
"Ciyee, yang mau digempur," goda Arin saat aku berdiri.
"Mau usaha, biar adiknya Langit bisa segera muncul. Lumayan kan kamu jadi ada tambahan momongan. Ternyata malam-malam kalau ada yang meluk enak banget, loh, Rin. Anget." godaku yang langsung dilempari bantal oleh Arin.
"Dasar resek!" ucap Arin saat aku keluar pintu.
Di luar, aku dikagetkan oleh Mas Damar yang sedang menunggu dibalik pintu.
"Loh, Mas, ngapain di sini?" tanyaku padanya.
"Nungguin kamu." Aku mengangguk, lantas berbalik berjalan menuju kamarku.
"Eh, mau kemana?" seru Mas Damar yang membuat aku berhenti.
"Lah, katanya disuruh tidur, ya, aku kekamar."
"Tadi sudah di kamar kamu, sekarang kita ganti suasana dikamarku, biar gak diganggu Arin lagi."
Belun sempat aku menjawab, Mas Damar sudah lebih dulu mendekat dan menggendongku dalam pelukannya.
Siap-siap digempur lagi nih, susahnya kalau nikah sama duda yang lama puasa, kagak dikasih kesempatan pakai celana dalam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sapa kemarin yang nyariin kakek? Noh, orangnya udah dateng.
Nulis cerita soal pengantin baru, dari kemarin muternya seputar kamar dan sel*ngk*ang*n aja๐๐ Aku sendiri mulai bingung diputer bijimane ini cerita๐ ๐
Dan kalau ada yang kecewa karena banyak adegan di sensor, mohon maaf, Guys, karena aku bukan spesialis penulis vulgar, dan maaf memang tidak berniat ke sana.
__ADS_1
Btw, sudah sampai segini banyak part, aye kagak pernah loh nangkring di deretan vote 10 besar, kalian gak kasihan sama aku? Bagi poinnya dong, Guys. Biar aye bisa nangkring dan banyak yang baca ini cerita absurd๐
Kecup jauh untuk kalian semua๐๐๐