
"Maaf, Ras." Mas Damar melepaskan rangkulannya dan berdiri sedikit menjauh.
Tak hanya aku, Mas Damar pun terlihat sangat kikuk. Dia makin menggemaskan saja kalau sedang salah tingkah begini.
"Aku permisi dulu, Mas. Mau makan," pamitku yang diangguki lelaki itu.
Ah kenapa aku jadi pingin senyam-senyum sendiri kayak gini? Aku meraba-raba bahu yang sebelumnya ada bekas tangan Mas Damar di sana, jadi males mandi kan aku, sayang banget kalau bekas tangan pria idaman luntur begitu saja.
"Ini handphonemu!" ucap kakek seraya menyerahkan handphoneku.
Saat hendak memasukkan ke dalam tas, betapa kagetnya aku saat melihat wallpaper yang sudah berubah, aku mendongak menatap ke arah kakek, yang ditatap malah senyum-senyum tak jelas.
"Sudah, biarkan saja. Kakek yakin nanti juga bakal kamu rubah kayak gitu. Jadi, ya, berhubung aku baik, aku bantuin ganti," jelasnya dengan senyum tanpa dosa.
Aku hanya membalas cengiran ucapan kakek. Sekali lagi aku memperhatikan gambar yang tertampang di depan layar, manis sekali. Mas Damar yang berdiri kaku dengan tangan merangkul bahuku, aku sendiri pun tak kalah tegang, yang berbeda hanya si Langit, bocah gembul itu tersenyum dengan riangnya, sepertinya dia merestui aku jadi mamanya.
Aku memilih memulai makan saat melihat Mas Damar datang mendekat. Entahlah, hanya sebuah rangkulan kecil sudah membuatku begitu salah tingkah.
Hari mulai beranjak sore, Kakek meminta untuk sekalian saja jalan-jalan ke salah satu obyek wisata. BNS atau Batu Night Spectaculer menjadi pilihan.
Sampai di parkiran, Mas Damar meminta agar dia saja yang menggendong Langit, mengingat tempat itu sangatlah ramai, tubuh kekar Mas Damar akan melindungi Langit dengan baik.
Mas Damar menggendong Langit di depan dengan gendongan model kangguru. Arin membawa tas peralatan Langit, kakek sendiri meskipun sudah tua, lelaki itu amat sangat sering menghilang, mau tak mau aku dan Arin bergantian mengawasinya agar tidak kehilangan jejak.
Pemandangan lampu dengan berbagai bentuk terlihat amatlah indah. Belum lagi banyak permainan-permainan yang seru dan menegangkan. Jujur saja aku dibuat kagum dengan obyek wisata ini.
Saking asyiknya menikmati pemandangan, aku tak sadar ada beberapa bocah yang berlarian menuju ke arahku, hampir saja aku terjatuh kalau tidak ada sebuah tangan menarikku dari kumpulan bocah-bocah.
"Berhati-hatilah dan tetap di sampingku! Tempat ini sangat ramai, jangan sampai kamu tersesat!" Seru Mas Damar dengan menggenggam erat tanganku.
Aku yang masih shok masih diam di tempat sembari melihat genggaman tangan Mas Damar di tanganku.
"Ayo! sampai kapan kamu mau diam di sini? Kakek dan Arin sudah lebih dulu di depan!" perintah Mas Damar lagi yang membuatku mengangguk sembari tergagap.
Entah lupa melepaskan atau memang sengaja, Mas Damar tak melepaskan tautan tangan kami. Lelaki itu tetap menggandengku dengan sebelah tangannya yang lain memegang Langit.
Aku masih diam membisu, menikmati setiap sentuhan tangan Mas Damar yang menggenggamku. Sebenarnya, bagaimana perasaan lelaki ini padaku? sikapnya ini hanya karena peduli atau justru ada perasaan lain dihatinya untukku. Apapun itu, aku berharap ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungan kami.
Arin dan Kakek menunggu di depan loket sebuah permainan. Entah disebut apa permainan itu, yang jelas itu permainan yang aneh, masa naik sepeda di atas? semacam sepeda layang begitu kah?
__ADS_1
Melihat tanganku dan Tangan Mas Damar yang masih bertautan, Arin menyipitkan mata. Aku tahu setelah ini, gadis itu akan memberikan banyak pertanyaan. Mas Damar melepaskan genggamannya saat kami sudah berada di depan permainan.
Aku duduk bersama Arin, sedangkan Mas Damar bersama kakek.
"Jadi, apa yang sudah terjadi?" tanya Arin saat kami sudah di atas sepeda.
"Terjadi apa maksudnya?"
"Itu, masalah gandengan tangan. Kalian terlihat semakin dekat saja."
"Doakan saja, Rin. Semoga aku tak perlu lagi capek-capek menikung Ardie Bakrie di sepertiga malam. Berhasil mendapatkan Mas Damar saja, aku sudaj ikhlas lahir batin," ucapku dengan senyum semringah. Mengingat bagaimana dia memegang tanganku saja, aku sudah tak karuan dibuatnya.
"Lah gimana kagak ikhlas, lah dapatnya juga bibit unggul. Tapi, aku ikut bahagia kalau kamu dengan Pak Damar, Ras. Aku lebih ikhlas kamu jadi majikanku dari pada si Nyi blorong itu."
"Oke, besok langsung naik gaji!" seruku yang mendapat jitakan Arin.
"Mangkanya sering-sering berdoa. Jangan cuma mikir mesum terus." Aku hanya terbahak mendengar ucapan Arin itu, apa aku semesum itu?
Usai puas bermain-main, kami memutuskan kembali ke Villa, capek tapi bahagia. Aku dan Arin langsung masuk kamar dengan Langit yang telah tertidur pulas.
Setelah cuci muka dan ganti baju, aku langsung merebahkan diri, hari ini benar-benar menguras tenaga.
Entah sudah jam berapa ini, aku terbangun saat perut merasakan keroncongan. Tadi siang, kalau tidak salah ada stok mie instan di dapur, setidaknya untuk saat ini, itu akan sedikit membantu.
Aku memberanikan melangkah menuju dapur, penasaran juga pingin tahu siapa di sana. Sembari menutup mata, aku melangkah pasti menuju dapur, dan akhirnya aki bisa bernapas lega saat melihat siapa yang ada di sana.
"Mas lagi ngapain?" tanyaku saat melihat Mas Damar sedang mencari-cari sesuatu.
"Eh, Ras, ngagetin aja. Ini mendadak perut kelaparan, jadi pingin bikin mie. Tapi bingung nyari pancinya," jelasnya dengan menggaruk kepalanya.
"Boleh aku buatin? kebetulan aku juga mau bikin mie," tawarku sembari mendekat.
"Boleh, makasih banget, ya, Ras." Aku tersenyum mendengar ucapannya sebelum akhirnya mulai sibuk membuat mie.
Mas Damar sudah mempersiapkan diri dengan duduk di meja makan. Tak butuh waktu lama, dua mangkok mie akhirnya siap di hidangkan.
Aku memberikan semangkok mie di depan Mas Damar, semangkok lagi untukku kubawah ke kursi yang bersebrangan dengan Mas Damar.
"Enak, Ras. Akhirnya kenyang juga, daritadi gak bisa tidur gara-gara lapar," ucap Mas Damar setelah semangkok mie tandas.
__ADS_1
"Kenapa gak bangunin aku saja, Mas. kan tadi bisa tak buatin."
"Gak enaklah ganggu istirahatmu. Kamu sendiri sudah pasti lelah."
"Lelah tak bisa melupakanku dari rasa lapar," ucapku yang akhirnya membuat kami tertawa bersama.
Untuk beberapa saat, kami sama-sama terdiam. Entah kenapa tiba-tiba saja aku marasa kikuk sendiri.
"Aku bersyukur bertemu denganmu, Ras. Kamu menjaga Langit dengan baik, Langit sendiri sepertinya juga sangat menyayangimu."
"Nona Angel nanti juga akan merawat dia dengan baik, Mas. Bagaimanapun juga, dia calon ibu dari Langit."
Entah apa yang salah dengan ucapanku, terdengar Mas Damar menghembuskan napas.
"Aku tidak yakin itu, Ras. Lagi pula aku sendiri tak yakin menikahi Angel."
"Loh, kenapa?" tanyaku penasaran, meskipun belum mendengar jawaban pasti, entah kenapa ini laksana angin segar bagiku.
"Aku tidak pernah mencintai Angel meskipun telah berkali-kali berusaha. Aku menerimanya karena dia dulu yang membantuku menemukan Darwin, orang yang menculik Langit. Namun, jujur aku tak bisa terus begini, mungkin suatu saat aku akan memutuskan hubungan ini."
Tanpa sadar, bibir tersungging. Si titisan Nyi Blorong, cintamu hanya bertepuk sebelah tangan, dan maafkan aku, jika sekali hempas saja, kamu pun akan terlempar jauh.
"Baguslah, Mas. Kamu terlalu baik untuk si titisan nyi blorong itu," ucapku dengan begitu bahagia.
"Maksudnya, Ras?" tanya Mas Damar dengan dahi berkerut.
"Ah, tidak-tidak. Maksudku, Angel memang terlihat tidak baik untuk Langit."
"Menurutku juga begitu. Oleh sebab itu, kedepan aku akan mencari calon istri yang lebih peduli kepada Langit, orang yang tak hanya cinta padaku, tapi juga sayang kepada Langit."
"Bener banget, Mas. Seperti aku contohnya."
"Hah? maksdunya, Ras?" Ucapan spontan itu membuatku langsung menutup mulut. Astaga, lagi-lagi keceplosan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yeaayy aku datang lagi.
Sudah update tiap hari dan lebih panjang, yakk, jadi jangan ada yang bilang cuma dikit dan kelamaan updatenya, ya?
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan coment.
Salam somplak dari Sarasπππ