Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Sakit


__ADS_3

Malam ini seperti biasa aku baru saja selesai mengunci jendala dan pintu lantai atas. Sebenarnya tugas itu akan diambil alih oleh Arin, tapi jelas saja aku menolak, aku masih cukup kuat untuk sekedar mengunci pintu. Lagipula semenjak sakit, aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu Arin menjaga Langit.


Aku hendak masuk kamar, tapi langkah terhenti saat mendengar derap kaki di tangga. Aku mncoba mendekat, dan sedikit terkejut saat melihat Mas Damar di papah oleh Pak Rusdi.


"Loh, Mas Damar kenapa?" tanyaku seraya membantu Pak Rusdi.


"Sepertinya Maag bapak kambuh, Ras," jawab Pak Rusdi.


Aku bergegas membukankan pintu kamar Mas Damar. Pak Rusdi merebahkan Mas Damar di atas ranjang dan setelah itu aku membantu menyelimutinya, udah berasa kayak istri saja.


Aku keluar kamar dan mengambil obat maag di kotak P3K, Setelah menemukan obatnya, aku membantu lelaki itu untuk sedikit bangun dan meminum obatnya.


"Mas Damar telat makan?" tanyaku saat Damar sudah terlihat lebih nyaman dengan posisi tiduran.


"Kerjaan sedang banyak, jam makanku sedang kacau, bahkan beberapa kali aku lupa makan," jelas Mas Damar dengan lemas.


Mendengar jawabannya, aku lantas membuang napas kasar, mungkin orang kaya selalu begini, gila kerja.


"Kerja keras boleh, Mas. Tapi kesehatan lebih penting. Kalau Sakit gini, lantas hasil kerja keras kamu selama ini buat siapa?" omelku yang membuat Damar mengangguk.


"Tunggulah sebentar, aku akan membuatkan bubur."


"Tapi tanganmu, Ras?" Aku hendak beranjak, tapi pertanyaan Mas Damar menghentikanku.


"Aku cuma ngaduk bubur, Mas, bukan ngaduk semen," jawabku seraya berlalu.


Di depan pintu aku melihat Pak Rusdi masih berdiam di sana.


"Pak Rusdi titip Mas Damar dulu, ya?" ucapku kepada Pak Rusdi. Lelaki separuh baya itu hanya mengangguk.


Aku turun ke bawah untuk membuatkan Mas Damar bubur. Melihat kondisinya, sepertinya bubur hangat akan membuatnya sedikit nyaman.

__ADS_1


Bahu yang masih sedikit nyeri menghalangi ruang gerakku. Namun, aku harus tetap membuatkan makanan untuk Mas Damar, selain agar lelaki itu bisa makan, kata orang kalau mau memikat hati lelaki, manjakan perutnya! siapa tahu setelah ini Mas Damar jadi kesensem, aminin aja deh.


Setelah beberapa menit, Aku kembali dengan semangkok bubur di tangan. Setelah meletakkan bubur di meja, aku membantu Mas Damar untuk duduk.


"Pak Rusdi kalau capek boleh istirahat dulu, aku sudah baikan," ucap Mas Damar kepada supirnya itu.


"Beneran gak papa saya tinggal, Pak? nanti kalau bapak butuh apa-apa gimana?" tanya Pak Rusdi memastikan.


"Ada aku di sini, Pak. nanti biar aku yang jagain Mas Damar," selaku yang akhirnya membuat Pak Rusdi mengangguk.


Lelaki itu pun undur diri untuk beristirahat.


"Aku bisa makan sendiri, Ras. kamu istirahat saja," cegah Mas Damar saat aku hendak menyuapinya.


"Aku akan istirahat setelah ini. Oh, ya, aku tidak tahu selera Mas Damar, aku juga tidak yakin Mas Dama akan menyukai masakanku atau tidak. Tapi untuk sementara ini, bubur ini akan cukup membantu memulihkan tenaga Mas Damar. Lagian, makan aja sih, ketimbang mati," omelku panjang lebar.


"Kamu pingin aku mati?" tanya Mas Damar.


Aku yang semula sedang mengaduk bubur teehenti sesaat, aku melihat Mas Damar yang mengerutkan dahi.


"Bukankah itu tujuanmu? kalau orang mau hidup, jelas dia makan dengan benar." Akhirnya hanya omelan ini yang mampu keluar dari mulutku.


Bukannya menjawab, terdengar Mas Damar terkikik, gini ganti aku yang bingung melihatnya.


"Kenapa tertawa?" tanyaku penasaran.


"Terim kasih sudah peduli padaku, Ras. Aku suka caramu mengingatkanku, Ekstrim," jawabnya dengan senyum. Aku makin geleng-geleng kepala saja. Diingetin mati malah bilang ekstrim, dasar lelaki jaman now! untung ganteng.


Tak lagi bicara, aku menyuapi Mas Damar perlahan. Lelaki itu memakan buburnya dengan lahap.


"Enak, makasih, Ras," ujarnya saat semangkok bubur telah tandas.

__ADS_1


"Oh, ya? aku kira Mas Damar tidak akan cocok dengan masakanku."


"Enak, Ras. Rasanya pas. Lain kali aku juga mau dibikinin lagi."


"Siaap," jawabku dengan tersenyum dan sok-sok'an hormat.


Jangankan cuma buat masak, buat dihalalin aja aku siap kok.


"Sudah malam, Mas Damar tidurlah. Aku akan kembali ke kamar, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk memanggilku," ucapku sebelum pamit dan membawa mangkok bekas bubur tadi.


"Makasih, Ras." Aku mengangguk dan berlalu dari sana.


***


Pagi ini, aku berniat membuatkan bubur lagi untuk Mas Damar. Sebelum turun ke dapur, tadinya berniat mengetuk pintu kamar dan bertanya keadaannya, tapi sepertinya Mas Damar masih tidur, tak ada suara apa-apa di sana.


"Eh, selamat pagi, Ras. butuh sesuatu?" tanya Mbak Indri saat aku sampai di dapur.


"Ouw, enggak, Mbak. Ini aku mau buatin bubur buat Mas Damar. Semalam waktu pulang Maagnya kambuh, aku buatin bubur dan dia suka. Mangkanya sekarang aku pingin buatin dia lagi," jelasku panjang lebar sembari menyiapkan sayuran dari kulkas.


"Ouw, perhatian banget, sudah pantes jadi istrinya, Ras," goda Mbak Indri sembari terkikik.


Aku berbalik menatapnya. "Boleh aku aminin gak, Mbak?" tanyaku yang berbalik membuat Mbak Indri melongo.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Holaaa aku datang, Guys. Kalau part ini kurang panjang, maafkan ya, Guys. Bisa aku panjangin, tapi postnya besok, bijimane?


Btw, keberatan kagak kalau aku minta di follow? like dan coment banyak tapi masak yang follow cuma 17orang, pan aye sedih, Guys.


Jangan bosan yak, kalau partnya masih yang receh-receh, kalau langsung aku buat PoV Damar, itu tandanya cerita ini akan menuju ending, So, aku minta sarannya, mau aku bikinin Pov Damar sekarang apa besok-besok saja? sekarang kita senang-senang dulu sama kecemburuan Damar, bijimane? setuju?

__ADS_1


Aku tungguin comentnya, yakk.


Kecup jauh buat kalian semua😘😘😘


__ADS_2