Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Memikat Tanpa Bisa Mengikat


__ADS_3

"Hah? Maksudnya, Ras?"


"Ya, Maksudnya, Langit butuh ibu yang sayang sama dia, contohnya saja aku, mungkin aku bisa untuk dipertimbangkan," ucapku sembari nyengir. Udah terlanjur basah keceplosan tadi, ya sudah, ceburin aja sekalian.


Mas Damar justru tertawa mendengar ucapanku, dia lantas berdiri dan berjalan mendekat ke arahku.


"Kamu itu memang gadis yang lucu," ucapnya sembari mengacak-acak rambutku, setelah itu dia berlalu begitu saja, masuk ke kamar sepertinya.


Ah, dasar lelaki aneh. Aku sudah meruntuhkan harga diri dan kecantikanku yang paripurna ini, tapi kenapa tanggapannya gitu doang? Niat untuk memikat, tapi tetap saja tak kunjung terikat, kamu benar-benar membuatku makin penasaran, Mas duda.


Usai membereskan piring bekas makananku dan Mas Damar, aku kembali ke kamar. Sedari tadi, terdengar suara aneh-aneh dari arah samping villa, tapi itu semua sudah tak membuatku takut, aku jauh lebih takut dengan penolakan Mas Damar.


***


Pagi ini, aku terbangun dengan Langit dan Arin yang sudah tak ada di sisi. Aah Gusti, gara-gara kekenyangan semalam aku bahkan lupa Salat Subuh, kalau minta aja gencar, tapi giliran disuruh menunaikan kewajiban, males-malesan, emang dasar setan gak ada akhlak!


Aku keluar kamar dengan tubuh sedikit gemetar. Entah terbuat dari apa air disini, meskipun sudah pakai air hangat tetap saja aku kedinginan. Sepertinya aku butuh kehangatan dari sumber lain, pelukan Mas Damar mungkin.


Arin sedang menyuapi Langit dengan Kakek yang juga duduk di sampingnya.


"Kesiangan, Ras?" tanya kakek yang membuatku malu.


"Iya, Kek. Semalam bangun bareng Mas Damar, sekarang malah kesiangan."


"Ouw, pantesan Damar juga belum bangun. Berapa ronde semalam?" tanya Kakek sembari tertawa lebar.


Arin cekikan mendengar ucapan kakek, sedangkan aku hanya bisa melotot.


"Hah? Kami gak ngapa-ngapain, Kek. Cuma bikin mie instan aja."


"Bikin anak juga gak papa." jawab Kakek dengan entengnya. Astaga, ini kakek, benar-benar vulgar.


"Selamat pagi, sudah pada bangun ternyata." Mas Damar datang dari arah kamar dan berdiri di sampingku.

__ADS_1


"Kamu apain Saras semalam, Mar? sampai ikut-ikutan kesiangan kayak kamu," tanya kakek yang membuat ekspresi Mas Damar sepertiku, melongo.


"Astaga, Kakek. Kami cuma makan, Saras bikinin mie untukku."


"Bikinin anak juga gak masalah sih." Mas Damar geleng-geleng kepala mendengar ucapan kakeknya.


"Baru kali ini ada orang tua nyuruh anaknya berhubungan sebelum nikah, barang langkah memang," gerutu Mas Damar yang ternyata di dengar oleh kakek.


"Kakek dengar loh, Mar. Itu karena kakek gak langsung tua, kakek pernah muda, apalagi ini Surabaya, hal semacam itu sudah biasa. Lagipula kakek gemes banget sama kalian, Kalau kalian sudah begituan dan Saras hamil, kan kamu jadi gak ada alasan lagi buat gak ngawinin dia." Mataku membulat mendengar ucapan Kakek.


Sebenarnya ingin sekali aku protes, meskipun sebenarnya aku juga mau dikawinin Mas Damar, tapi untuk perihal hamil diluar nikah, sungguh, aku menolak tegas! Dosaku sudah berlimpah ruah, aku tak mau menambah dosa lagi untuk sesuatu hal yang bisa kucegah.


"Kakek, Astafirullah. Ngomong apa sih! Sudah, Damar gak mau ngomongin ini lagi, Damar mau siap-siap cari sarapan!" ucap Mas Damar sembari berlalu. Untunglah dia berkata begitu, setidaknya kami tidak terjebak dalam keadaan yang menegangkan sekaligus memalukan ini.


"Ayo, kita cari sarapan, diam di sini saja gak akan bikin kenyang," ujar Mas Damar setelah keluar dari kamar.


"Kamu pergi saja sendiri, Mar, aku ingin di sini saja. Nanti bawakan saja sarapan untukku," jawab Kakek dengan merebahkan tubuhnya ke kursi.


"Loh, apa kakek gak mau jalan-jalan pagi di sini? kita ke sini kan gara-gara kakek minta jalan-jalan!" protes Mas Damar.


"Ayo, Ras, Rin! Kalian ikut saja kita cari sarapan di luar!" ajak Mas Damar.


"Loh, jangan pergi semua, Mas. Kasihan kakek sendirian, atau Mas Damar pergi saja sama Arin, biat aku di sini menjaga Kekek dan Langit." ucapku yang langsung mendapat gelengan Arin.


"Tidak! tidak! kamu saja yang berangkat sama Pak Damar, aku yang akan di rumah," pinta Arin.


"Loh, jangan dong," protesku lagi.


"Haduh, sudah, sudah, kamu aja Ras yang ikut denganku. Arin biar jaga Langit saja, lagian kasihan dia, diluar sana udara pasti masih amatlah dingin," ucap Mas Damar yang akhirnya mau tak mau kuangguki.


Saat aku berjalan ke arah mobil, terlihat Arin mengedipkan mata padaku, ah aku tau sekarang maksudnya gadis somplak itu. Menyebalkan memang, tapi kesempatan juga sih, kalau berdua gini kan jadi kayak pacaran.


"Maaf untuk semua kata-kata kakek, ya, Ras." Mas Damar mengawali percakapan saat sebelumnya kami sama-sama terjebak dengan kebisuan.

__ADS_1


"Gak papa, Mas. Kakek lucu malahan. Aku kira, dulu pas pertama kali kakek datang, dia akan menjadi majikan yang semena-mena, yang jahat kayak di tipi-tipi itu, eh tapi ternyata sebaliknya," jelasku yang malah membuat Mas Damar tertawa.


"Kamu terlalu banyak nonton sinetron, Ras. Kakek orang yang jauh dari kata kejam, yang ada malah menyebalkan."


"Ih, dosa tau Mas ngatain orang tua menyebalkan."


"Lah memang begitu kenyataannya. Tapi biarpun begitu, aku menyayanginya, Kakek satu-satunya keluar yang kupunya selain Rachel dulu."


"Kenapa kakek gak diajak tinggal di sini saja, Mas. Bareng Mas Damar dan Langit?"


"Dia gak mau. Cuma dengan rumahnya itu kakek bisa mengenang mendiang nenek. Tapi di sana aku juga tak membiarkan dia sendiri. Ada sopir, Asisten rumah tangga dan beberapa pekerja peternakan yang menemaninya." Aku mengangguk mendengar penjelasannya.


"Eh, Ras kamu suka bubur kacang ijo?" tanya Mas Damar tiba-tiba.


"Suka."


"Oke, kalau gitu kita makan bubur kacang hijau dulu, sepertinya cocok untuk sarapan."


"Lah, tapi kakek kan nungguin, Mas?"


"Bodo amat. Salah sendiri dia diajak gak mau."


Mas Damar membelokkan mobil menepi, terlihat di seberang jalan memang ada penjual bubur kacang ijo. Meskipun ini masih sangat pagi, tapi jalanan sudah sangat ramai.


Aku turun saat mobil telah terparkir. Jalanan amatlah ramai, kebanyakan mobil dengan plat luar kota, mungkin mereka sedang berlibur seperti kami.


"Jalanan sangat ramai, mendekatlah." Mas Damar meraih tanganku dan membawanya dalam gengaman. Kalau tidak ingat ini di jalan, ingin rasanya aku koprol saja.


Gusti, boleh aku tinggal di sini saja? Dua hari di sini entah kenapa aku merasa ada perhatian berbeda dari Mas Damar untukku. Dan aku menyukainya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hayolooooh nungguin yakk?? Maapin ya, lama, aku lagi mencoba meraba-raba apa yang bisa dilakukan di Malang sana, maklumlah, authornya anak rumahan, kagak pernah diajakin jalan-jalan, ajakin dong ,GuysπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Diam-diam, meskipun belum sempat balas coment, aku suka bacaian coment kalian loh, Guys, apalagi yang sampe ngomel-ngomel, ihh makin gemes tauπŸ˜…πŸ˜… Sisakan sedikit waktu kalian juga untuk menyapaku di coment dong, biar aku tahu pecinta Saras itu benar-benar adaπŸ˜…


Jangan lupa Vote, Like dan Coment ya, Guys. Kecup jauh darikuu😘😘😘


__ADS_2