Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Misi Berhasil


__ADS_3

Sesuai dengan petunjuk Dini, akhirnya malam itu juga aku membeli perdana baru. Langit sengaja kutitipkan kepada Dini sebentar, tak baik untuk anak seusia itu keluar malam. Setelah siap, aku mencoba menghubungi nomor yang tertera diselebaran yang kutemukan tadi sore.


"Halo, selamat malam." Suara dari seberang menyapa.


"Malam, benar ini nomor Pak Darwin? Yang sedang mencari keberadaan bayi hilang?" tanyaku sembari saling pandang dengan Dini. Sengaja panggilan aku loudspeaker biar Dini bisa turut mendengarkan.


"Iya, benar. Kamu tau keberadaan bayi itu? Dimana dia sekarang? Kalau memang benar dia yang saya cari, saya akan beri imbalan kamu lima puluh juta." Mendengar nominal yang disebutkan, aku dan Dini spontan menganga bersama. Fix! Langit anak orang kaya.


"Saya butuh bukti apakah Bapak benar keluarga bayi tersebut, karena saya tidak mau bayi itu jatuh ke tangan yang salah."


"Saya Kakeknya! Kamu jangan main-main sama saya. Mana mungkin saya ada niat buruk dengan cucu saya sendiri," gertaknya dengan nada tinggi.


"Maaf, Pak. Saya hanya ingin melindungi bayi itu. Kalau begitu coba sebutkan baju apa yang terakhir bayi itu pakai?"


"Saya lupa bajunya, yang jelas dia pakai selimut warna biru. Bermotif binatang."


"Baik kalau begitu, besok kita bertemu di jalan pahlawan samping pom bensin, saya datang sekitar jam sepuluh pagi, jadi Bapak harus tepat waktu," ujarku sok tegas. Padahal jika boleh jujur aku sedang ketakutan setengah mati.


"Kenapa bukan saya saja yang menentukan tempatnya?" tawarnya, aku pun melihat ke arah Dini, gadis itu menggelengkan kepala tanda tak setuju.


"Maaf, Pak. Ini bagian persyaratan. Selamat malam. Sampai bertemu besok," ucapku mengakhiri telepon.


Dini segera mengambil handpone yang sedari tadi kupegang. Segera ia matikan dan mengeluarkan kartu yang baru kubeli tadi. Aku hanya mengeryitkan dahi melihat apa yang sedang ia lakukan.

__ADS_1


"Kenapa diambil lagi?" tanyaku padanya.


"Supaya dia tidak bisa melacak keberadaan kita. Antisipasi saja, sapa tau dia mau curi start terus melacak tempat kita sekarang," jelasnya yang masih membuatku bingung.


"Emang bisa begitu? Tapi buat apa? Besok juga kita ketemu."


"Kan aku bilang antisipasi. Segala kemungkinan itu ada. Kalau Langit ternyata anak orang kaya yang sedang diperebutkan karena punya warisan banyak, semua bisa jadi musuh untuknya, termasuk kakeknya juga," jelasnya lagi yang membuatku cuma bisa mencibir.


"Dasar korban sinetron! Pikiranmu kejauhan. Jangan kebanyakan nonton Detectiv Conan, sudah tua juga."


"Lihat saja kalau dugaanku benar. Kamu bakal berterima kasih padaku."


"Berterima kasih itu kalau ternyata bapaknya Langit itu duda kaya, ganteng, dan siap menikah denganku," jawabku dengan menerawang jauh. Namun, semuanya hancur saat Dini menoyor kepalaku. Dasar biji koala!


***


Pagi ini, sampailah kami di tempat yang di tuju. Langit berada dalam gendongan Dini, sedangkan aku merapikan diri kembali agar terlihat senatural mungkin.


Aku sengaja mengambil cuti, sedangkan Dini bertukar mengambil sift siang dengan temannya, karena tak mungkin jika dia cuti karena kemarin sudah libur. Beberapa kali melihat diri di cermin, sebal dan emosi bercampur jadi satu. Bagaimana tidak, supaya aku bisa leluasa mendekat ke arah orang yang mengaku menjadi keluarganya Langit, Dini menyuruhku menyamar menjadi orang gila, dan bodohnya lagi aku setuju. Dia korban sinetron, dan aku korban uji coba.


Sebenarnya bisa saja kami cuek dan menyerahkan Langit begitu saja. Kami dapat uang dan setelah itu tak perlu repot lagi merawat bayi kecil itu. Namun, entah mengapa aku dan Dini tak setega itu, kami tak mau Langit celaka, kami terlanjur sayang dengannya.


Semua rencana telah matang kami persiapan. Termasuk kode khusus saat harus mengeluarkan Langit atau tidak. Mengorek-ngorek upil tanda bahwa Langit dalam bahaya dan tak perlu keluar, tepuk-tepuk dan tertawa-tawa saat Langit bisa dikatakan aman. Semua ini jelas ide dari Dini. Gadis yang terobsesi dengan dunia selidik-menyelidiki.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, nampak sebuah mobil terios hitam parkir di ujung pom bensin. Beberapa orang berjas hitam turun dari mobil, ada seorang lelaki paruh baya juga terlihat turun dari mobil. Aku dan Dini saling pandang, merasa yakin jika orang itulah yang kami tunggu.


Kartu perdana yang semalam kubeli masih belum aku nyalakan. Kata Dini, jika mereka benar mencari keberadaan Langit, mereka pasti datang tanpa perlu memastikan sekali lagi, benar-benar sok detectiv gadis somplak itu.


Dini menggendong Langit sembunyi di dalam warung nasi dengan terus memantau. Aku sendiri dengan hati berdebar, mulai melancarkan aksi. Gusti, selamat nyawa hambamu yang manis ini.


Sembari memegang palstik yang berisi Es, aku pura-pura mendekat ke arah mereka. Mengarahkan sebelah tangan seolah-olah meminta belas kasihan, bukannya memberi, mereka malah membentak menyuruh pergi. Benar-benar adegan di sinetron.


Aku duduk sedikit jauh dari mobil mereka, seraya berpura-pura bersikap layaknya orang gila. Padahal, tanpa berpura-pura pun, banyak yang menyebutku tak waras. Lah mana ada orang tak waras semanis aku? Mereka saja yang berlebihan.


Untung saja mereka menunggu di depan mobil, jadi aku yakin bisa mendengar pembicaraan mereka dengan baik. Tiga orang yang berjas hitam terlihat sedang mengawasi sekitar, seseorang bahkan sempat melihat ke arahku. Semoga saja mereka tak curiga. Capek juga rasanya sedari tadi berpura-pura ngoceh dan cengar-cengir sendiri. Somplak memang si Dini.


"Kenapa bukan kamu sendiri saja yang menjadi orang gila? Kan kamu suka memecahkan misteri seperti ini, jadi pasti lebih ahli," protesku semalam saat Dini merancang rencananya.


"Jangan! Aku hanya bertugas mengamati. Aku yakin kamu tidak bisa membaca ekspresi wajah orang mencurigakan apa tidak, jadi biarlah itu memjadi pekerjaanku," jelasnya bangga yang membuatku mencibir. Sudah sok detectiv, sekarang bertambah jadi dukun pula. Jangan sampai dia sakit jiwa beneran.


"Brengsek! Jangan sampai wanita itu menipu kita. Kalau dia berani macam-macam, awas saja! Dia tak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Sebuah umpatan terdengar jelas dari mulut lelaki setengah baya itu. Aku bergidik ngeri mendengarnya, bagaimana kalau nanti dia benar-benar melakukan ucapannya, mati aku!


"Hubungi dia lagi!" perintahnya terhadap salah satu lelaki berjas hitam, orang yang diperintah pun mengangguk.


"Masih tidak aktif, Pak," jawab lelako berjas hitam.


"Brengsek!" umpat lelaki paru bayah itu dengan keras. "Kamu, tunggu di sini, amati barangkali ada yang mencurigakan. Laporkan setiap perkembangan padaku," jelasnya lagi kepada lelaki berjas hitam yang sepertinya adalah anak buahnya. Orang yang ia perintah itupun mengangguk.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil hitam mewah itupun pergi. Tersisa seorang anak buah yang mendapatkan tugas tadi. Seraya tetap berpura-pura layaknya orang gila, aku perlahan pergi menjauh meninggalkan tempat itu.


"Hei, kamu! Tunggu!" Panggilan lekaki itu spontan membuatku menegang. Gusti, jangan-jangan dia tau kalau aku sedang berpura-pura.


__ADS_2