Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Ubin Masjid


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 104


"Gimana, Ras?"


Damar menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa kamar. Wanita itu sedang menunggu putranya yang sedang tertidur pulas di ranjang.


"Hasilnya sudah keluar, Mas. Untungnya gak ada yang mengkhawatirkan, Langit cuma terkena radang tenggorokan."


Damar mengambil tempat duduk di samping istrinya. Semalam mereka bergantian menjaga Langit yang rewel, Arin sengaja Saras suruh pulang semalam, karena saat sakit begini Langit hanya mau digendong oleh Saras saja.


"Syukurlah kalau begitu. Capek ya?" tanya Damar seraya mengelus lengan istrinya.


"Sedikit, Mas. Hanya sedikit ngantuk saja."


"Tidurlah kalau begitu, aku yang akan jaga Langit."


Damar menarik Saras kedalam pelukannya. menyandarkan kepala istrinya itu ke dada bidangnya.


"Nanti saja di rumah, Langit sudah boleh pulang, kok. Lagian aku udah biasa gak tidur."


"Lah kenapa gak tidur?" tanya Damar heran.


"Iya, tiap malam ada aja yang nyari- nyari alasan. Minta di pijitlah, di kerokinlah, di dongengin lah, tapi ntar ujung-ujungnya diajakin main film. Yang ono durasinya cuma 19 detik, ini kalau gak 2-3 jam kagak kelar."


Damar hampir saja terbahak, tapi untung saja Saras menahan mulut suaminya itu. Tawa kencang Damar bisa-bisa membangunkan Langit yang sedang tidur.


"19 detik mana puas, Ras. Mangkanya aku ngajakinnya yang lamaan dikit. Kan Langit juga butuh teman," jawab Damar masih dengan tawanya.


"Dih! Alasan mulu! Untung sayang."


"Untung Enak, ya?"

__ADS_1


"Jangan disebut mulu, itu udah takline episode lalu."


"Eh, aku tadi ketemu Dokter Zakki loh di kantin. Kirain dia pacaran sama Sea, tapi ternyata enggak." cerita Damar yang diangguki oleh Saras.


"Mungkin Zakki belum move on."


"Terus kamu bangga?" Damar melepaskan pelukan, melihat wajah istrinya itu dengan seksama.


"Woyaa harus dong! Lah gimana lagi kembaran Nia Ramadhani memang gak ada duanya," ucap Saras dengan menepuk bahu kirinya.


Damar menautkan alis, memandang istrinya dengan wajah merengut.


"Uluhh ... uluh, Suami gantengku ini cemburu?"


Saras menoel pipi Damar, melihat tingkah suaminya yang tak bereaksi.


"Terus gak seneng dicemburuin?" tanya Damar dengan ekspresi yang sama, bahkan kali ini pria itu melipat kedua tangannya di dada.


"Seneng dong! Dulu aja dinginnya udah ngalahin ubin masjid, sekarang digoda gitu doang udah langsung cemburu," Saras terkekeh sendiri.


"Perasaan dulu julukannya cuma kanebo kering sama kulkas, kenapa sekarang jadi nambah?"


"Iya, tadi pas salat di masjid rumah sakit, kan aku duduk-duduk bentar tuh, sembari ngelurusin kaki. Lah kok ubinnya dingin banget, jadi inget kamu deh, Mas," urai Saras dengan nyengir tanpa dosa.


"Hmm ... terserah kamulah, paling gak itu lebih baik, jadi paling enggak kamu selalu ingat untuk mendoakanku setiap salat di masjid."


Damar mengulurkan tangan, membelai pipi istrinya itu.


"Gak perlu diminta kamu sudah selalu ada di dalam doa-doaku, Mas. Bahkan sejak dulu, disaat orang lain menikung di sepertiga malam, aku cukup menikungmu dengan ayat kursi, biar-biar setan yang mendekat kepadamu kabur semua."


Damar lagi-lagi harus menahan tawa, selalu saja ada tingkah istrinya itu yang membuatnya tertawa.


Damar meraih Saras dalam pelukannya kembali. Di sela-sela tawanya, dia begitu bersyukur dipertemukan bahkan menjadikan Saras istrinya.

__ADS_1


Wanita itu selalu cantik dengan kesederhanaanya. Selalu menarik dengan tingkah konyolnya, dan selalu bikin kangen dengan sikap polosnya. Damar benar-benar dibuat mabuk kebayang oleh Saras.


***


Zakki memasuki ruang apartemennya, di ruang tamu terlihat Sea sedang asyik menonton televisi.


"Eh, Dok. Sudah pulang? Maaf, aku masih di sini, tadinya aku mau pulang, tapi kok rasanya gak enak pergi tanpa pamit. Takut ada yang ilang."


Zakki mengangguk. "Gak papa, lagian apa yang ilang, aku gak punya apa-apa buat kamu curi."


"Masa? padahal ada loh, sayangnya aku belum berhasil mencurinya."


Zakki mengerutkan alisnya, "Apa?"


"Hatimu."


Sea terkekeh, Zakki hanya geleng-geleng kepala tak menganggapi. Zakki berjalan menuju dapur, dia mengambil air putih di dalam kulkas.


"Kamu sudah makan?" tanya Zakki setelah meminum segelas air.


"Nanti saja, Dok. Sekalian jalan pulang. Mumpung dokter belum tidur, aku mau sekalian pamit, sebentar aku kemasi barang dulu."


Sea hendak memasuki kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat Zakki memanggil.


"Sea, Kalau kamu mau, kamu masih boleh tinggal di sini dulu," ucap Zakki yang membuat Sea lamgsung mengerjab beberapa kali.


"Dokter serius?" tanya Sea tak percaya.


"Hingga keadaanmu lebih baik!"


Usai mengatakan hal itu, Zakki menuju kamarnya.


"Nanti aku akan pesan gofood saja untuk sarapan. Tunggulah! Aku akan mandi dulu."

__ADS_1


Zakki memasuki kamarnya, sedang Sea masih terpaku di tempat. Sejak mendengarkan cerita Damar tadi pagi, entah kenapa ada rasa kasihan di hati Zakki untuk Sea. Jadi, demi nama kemanusiaan, tak ada salahnya dia membantu sampai gadis itu keadaanya benar-benar baik.


__ADS_2