Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Cinta Kadaluarsa


__ADS_3

"Hai, vin. Tumben di sini?" tanyaku kikuk. Bingung mau bertanya apa, selain gugup jelas karena lama aku tak bertemu dengannya.


"Justru aku yang mau tanya, tumben kamu di sini? Kalau aku sudah tiap hari langganan di sini," jelasnya dengan tersenyum manis dan aku makin kikuk dibuatnya.


"Ouw, gitu. Ini kebetulan lagi beliin Dini sih, dari semalam dia diare, mangkanya sekarang aku belikan ini saja," jelasku yang diangguki olehnya.


"Kamu sendiri gak makan?" Aiih ... sejak kapan Alvin jadi perhatian gini? Langsung kenyang kan aku.


"Ini beli dua, kok. Sekalian sama aku," jawabku bertepatan dengan si mamang bubur telah selesai menyiapkan pesananku.


"Haduh ... pakai uang pas aja, Mbak. Mamang belum ada kembalian," ujar si mamang saat aku menyerahkan uang seratus ribuan untuk membayar bubur.


"Waah ... gak ada, Mang. Aku cuma bawa uang ini, gimana dong?" tanyaku balik.


"Bayar sekalian punyaku aja, Mang. Ini uangnya." Tiba-tiba Alvin yang sedang menikmati sarapannya mengambil alih pembayaran buburku.


"Eh, jangan. Masa kamu yang beli satu malah bayarin aku yang beli dua?" cegahku saat Alvin hendak menyerahkan uang ke mamang bubur.


"Sudah, gak papa. Dari pada kamu ngutang ke mamangnya, kan mending ngutang ke aku aja."


"Ya sudah kalau gitu, besok aku ganti, ya, uangnya?"


"Santai saja, kamu ganti dengan makan siang bareng juga boleh?"


"Beneran?" tanyaku cepat dan tanpa sadar dengan volume di atas rata-rata. Seketika aku menutup mulut dengan tanganku. Malu saat orang-orang menatapku dengan senyum-senyum. Gusti ... kenapa jadi keceplosan gini sih.


"Iya, kapan-kapan kalau kamu ada waktu, bisalah kita makan siang bareng," jawab Alvin dengan menahan senyum akibat kelakuan absurdku. Demi menghindari kejadian yang tak mengenakkan lagi, aku pun pamit dan langsung nyelonong dari tempat itu.


Demi si Patrick bintang laut yang kagak tau kapan pinternya, mimpi apa aku bisa di traktir Alvin pagi ini. Bahkan sikapnya pun sangat manis, atau mungkin dia mulai sadar bahwa akulah wanita yang paling pantas bersanding dengannya? Gusti, jadi pingin cepat ngajakin dia ke KUA.

__ADS_1


Setelah memberikan sebungkus bubur untuk Dini, aku kembali ke kamar dan menikmati buburku sendiri. Lagi-lagi terpaksa aku harus mengajak Langit ikut bekerja, Dini memang libur, tapi melihat kondisinya tak mungkin menitipkan Langit padanya, bisa-bisa besok beliin bubur lagi.


"Ras, Langit biar sama aku." Panjang umur itu bocah, baru juga dipikirin udah muncul aja.


"Biar aku bawa saja, Din. Kamu kan sakit, istirahat saja," jawabku seraya merapikan pakaian Langit.


"Gak usah lebay! Cuma sakit gini aja. Sekarang sudah lebih baik ketimbang semalam. Sudah minum obat juga. Sudah biar Langit di sini, kasihan kalau harus tidur di gudang terus," jelas Dini yang akhirnya membuatku menurut.


Memang benar kata Dini, kasihan Langit jika harus tidur di gudang. Biarpun masih beralaskan selimut tebal, tapi tentu saja tak senyaman di tempat tidur. Namun, mau bagaimana lagi, kalau tidak terpaksa tidak mungkin aku mengajaknya.


"Din, kalau orang kemarin datang lagi gimana?" tanyaku pada Dini saat teringat pada kejadian kemarin.


"Nanti biar aku di kamar aja, sembari memastikan mereka datang lagi atau tidak. Lagian kemarin mereka sepertinya tidak curiga dengan rumah ini, karena mungkin ada tulisan indekos," jelas Dini yang kuangguki.


"Tapi tetap saja kamu harus hati-hati. Seperti kamu bilang, kita berhadapan dengan orang kaya, apapun bisa mereka lakukan."


"Kamu tenang saja. Kamu juga hati-hati. Kemarin mereka juga tak melihat wajah aslimu, jadi kita masih aman. Semoga mereka lelah dan tak kemari lagi."


Setelah memindahkan Langit ke kamar Dini, aku segera berangkat ke toko. Baru saja keluar gerbang, sebuah klakson motor terdengar dari arah belakang.


"Mau berangkat kerja, Ras?"Aiih ... dia datang lagi.


"Iya, kamu juga mau kerja?" tanyaku balik.


"Ayo sekalian bareng, searah juga, kan?" Gusti, ini kebetulan apa rencanamu? Kalau memang rencanamu, kalau bisa bawa kami sekalian menuju KUA.


Rumah Alvin dan indekosku terpisah lima rumah. Sebenarnya dari dulu pula, dia sering melihatku berangkat kerja dengan berjalan kaki, tapi selama itu dia hanya sekedar menyapa atau membunyikan klakson. Namun, hari ini entah ada angin apa hingga tiba-tiba dia memberikan tumpangan. Semoga setelah ini dia memberikan tumpangan hidup bersama.


"Gak ngerepotin, nih?" tanyaku sok menolak, padahal dalam hati amat sangatlah berharap.

__ADS_1


"Sudah, naik. Nanti telat loh!" ajak Alvin yang akhirnya membuatku menurut.


"Beberapa hari ini, kok kayaknya aku jarang lihat kamu, ya?" tanyaku basa-basi. Aneh aja kan satu boncengan gak ada obrolan, kayak naik ojok aja.


"Ouw ... iya, lagi di rumah sodara lagi nikahan."


"Dateng ke nikahan orang mulu, nikahan sendiri kapan?" celetukku pelan yang ternyata di dengar oleh Alvin.


"Hi ... ntar, jodohnya masih dalam pantuan hilal," guyonnya yang membuatku iku tertawa.


Entah kenapa angin pagi ini begitu sejuk. Tangan juga berasa gatel banget pingin meluk yang di depan ini. Peluk kagak, ya? Dipeluk bukan muhrim, kagak dipeluk kok, ya, berasa kagak menghargai ciptaan Tuhan. Gusti beri aku petunjukmu.


Baru juga meminta petunjuk, kami sudah sampai saja di depan toko. Jadi nyesel, kan kenapa cari indekos yang dekat dengan toko.


"Terima kasih, ya, Vin. Maaf ngerepotin," ucapku sok manis.


"Gak masalah, searah juga. Lain kali juga boleh kalau mau bareng," tawarnya yang membuatku pingin salto rasanya.


"Gak usah makasih, nanti kalau ketahuan Arsy --pacar Alvin-- bisa salah paham dia."


"Kami sudah putus kok." Woow ... salahkah jika aku menganggap ini sinyal? Alvin, akhirnya kamu tahu jalan pulang.


"Ouw ... maaf. Ya, sudah, aku masuk dulu, gak enak temanku sudah datang," ucapku karena melihat Heru sudah menunggu di depan toko.


Alvin mengangguk, sebelum memakai helm dia meninggalkan jejak senyuman yang langsung menancap di hati. Gusti, untung hati ini buatanmu, kalau buatan tetangga sebelah mungkin dia sudah melompat keluar saking girangnya.


"Sapa lagi tuh? Awas jangan selingkuh, aku bilangin bapaknya Langit loh," ancam Heru sembari menungguku membuka kunci toko.


"Kepo! Berasa kenal aja sama bapaknya Langit," balasku mencibir.

__ADS_1


"Lah emang kenal, penjual tahu bulat, kan?" Hampir saja aku kelepasan tertawa kencang, segitu percayanya dia sama ceritaku. Dari sini aku paham, mana lugu dan mana lemot. Kamu memang limited edition, Heru.


Saat aku dan Heru sedang sibuk membuka rolling door toko, mobil fortuner hitam yang kemarin melintas lagi. Plat nomor yang sengaja kuhapal pun sama persis. Tanpa banyak bicara, kubiarkan Heru membuka toko sendiri, segera kuhubungi Dini agar ia berhati-hati dan tidak keluar kamar. Gusti, lindungi Langit dan Dini.


__ADS_2