Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Salah Paham


__ADS_3

Tak terasa hampir sebulan aku di rumah ini. Orang-orang yang awalnya terlihat menyeramkan kini sudah bagai teman bahkan saudara. Aku dan Arin pun makin kompak menjaga Langit. Sedangkan Mas Damar sendiri masih sibuk dengan pekerjaanya. Dalam seminggu bisa dihitung dengan jari kapan dia berada di rumah.


Hampir tiap hari Minggu, Dini tak pernah lupa berkunjung. Sesekali dia membawakan nasi pecel milik Bu Erna dan Alvin? Lelaki itu mungkin sudah benar-benar terjun ke laut. Tak pernah sekalipun ada kabar darinya, aku sendiri pun tak peduli, yang jelas aku sangat bersyukur tak sepenuhnya manaruh hati padanya, karena kalau tidak, mungkin saat ini aku sedang asyik menghabiskan tissu meratapi kepergiaannya.


Pagi ini, aku mengajak Langit berjalan-jalan di sekitaran rumah. Arin sedang sibuk membersihkan kamar dan baju-baju kotor Langit, jadi pagi ini kami hanya berdua. Beberapa hari ini, bocah itu sedikit flu, jadi kupikir, sinar matahari pagi akan membuatnya sedikit hangat. Sembari berjemur, tak lupa aku mengajaknya bermain dan bernyanyi, Langit terlihat begitu antusias, dia yang memang dari awal sangat murah senyum, sekarang makin tertawa lebar.


Sebuah mobil honda jazz memasuki pekarangan rumah. Pintu mobil belakang terbuka, memunculkan sosok yang telah lama tak muncul dipermukaan. Padahal sebulan ini rasanya begitu damai tanpa kehadirannya, jadi kenapa pagi ini harus ada dia di sini.


Wanita titisan Nyi Blorong itu tersenyum, tentu saja bukan senyuman sahabat, tapi senyum mengejek. Dia berjalan mendekat ke arahku dan Langit.


"Halo, Babu, ops maaf," ucapnya dengan sok menutup mulut dengan kedua tangannya. Drama.


"Siapa namamu? Aku lupa. Eh tapi gak penting juga sih." Aku hanya menggeleng melihat kelakuannya, lagi pula aku juga tak butuh berkenalan dengannya.


Setelah basa-basinya yang tak jelas, dia menunduk mendekat ke arah Langit.


"Halo, anak manis, apa kamu merindukanku? Aku juga sangat merindukanmu. Sengaja hari ini aku ke sini untuk mengajakmu jalan-jalan," ucapnya pada Langit. GR banget dia, memangnya tahu kalau bayi itu merindukannya? Aku hanya bisa menahan tawa melihat tingkahnya itu.

__ADS_1


"Kamu, siapkan perlengkapan Bintang, hari ini aku akan mengajaknya jalan-jalan," perintah titisan Nyi Blorong itu kepadaku.


"Maaf, Nona. Namanya Langit," protesku padanya.


"Terserah aku mau memanggilnya siapa. Kamu siapa berani mengaturku?" bentaknya dengan emosi. "Kamu dengar perintahku, kan? Siapkan perlengkapannya!" perintahnya lagi dengan nada makin meninggi.


"Maaf, Nona. Langit tidak boleh diajak keluar rumah tanpa ijin dari Mas Damar, dan itu berlaku untuk siapapun," bantahku dengan penuh penekanan.


"Kamu makin berani, ya! Aku calon ibunya! Jadi peraturan itu tak berlaku untukku!"


"Maaf, Nona. Aku hanya menjalankan perintah," jawabku yang tak kalah tegas.


"Maaf, Nona. Mas Damar sedang tidak di rumah. Dia sedang pergi keluar kota," cegahku saat melihat wanita itu hendak pergi menemui Mas Damar di dalam rumah.


"Oh, begitu. Baiklah. Aku akan telepon Damar nanti, sekarang aku akan membawa anak ini dulu pergi." Wanita itu berbalik dan hendak mengambil Langit dari keretanya.


Merasa Langit adalah tanggung jawabku, aku menarik kembali kereta Langit ke arahku. Namun, titisan Nyi Blorong itu nampaknya tak terima, dia tarik lagi kereta itu kerahnya. Aksi tarik menarik pun terjadi.

__ADS_1


Langit menangis histeris melihat kelakuanku dan Angel. Melihat Langit ketakutan, aku pun melepas tarikanku dan hendak menggendongnya, tak disangka ternyata Angel pun melepas tanganya. Kereta meluncur menuju pintu gerbang, aku yang kaget langsung berlari mengejarnya, untunglah ada satpam yang menangkap dan menghentikan kereta Langit. Segera kugendong bayi yang sudah menangis histeris itu.


Di saat bersamaan mobil Mas Damar datang. Lelaki itu baru saja pulang dari Bali. Terlihat dia begitu geram melihat kejadian yang baru saja terjadi.


"Ada apa ini? Kenapa ini bisa terjadi?" bentaknya saat melihat Langit menangis histeris. Dia ambil anaknya itu dari gendonganku dengan paksa.


"Ini gara-gara kelakuan pembantumu ini yang gak becus, Damar." Baru saja aku hendak menjelaskan, suara Angel menyela terlebih dahulu.


"Apa maksudnya?" tanya Mas Damar Lagi.


"Lihatlah! Dia terlalu asyik bermain Handphone hingga tak memedulikan Langit." Lagi, wanita itu mendahuluiku. Dia pun menunjuk bangku yang sebelumnya kududuki, dan benar di situ handphoneku tergeletak.


"Tidak, Mas." Aku mnggelengkan kepala mencoba membela diri.


"Maling mana ada yang ngaku! Ini yang baru ketahuan. Mungkin sebelumnya bisa lebih parah dari ini. Sudah, kamu pecat saja dia, Mar!"


"Bener, Mas. Tadi bukan seperti itu." Lagi, aku mencoba menjelaskan, namun belum selesai aku bicara, telapak tangan Mas Damar sudah terangkat menghadapku, tanda bahwa aku harus diam.

__ADS_1


Gusti, jangan sampai Mas Damar percaya dnegan titisan Nyi Blorong itu.


__ADS_2