Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Putus


__ADS_3

Makan semangkok bubur kacang hijau anget ditemani dengan orang ganteng yang kadarnya sebelas duabelas dengan Lee Min Hoo di hawa yang sejuk dan syahdu ini, Duh Gusti, ampuni hamba kalau sering lupa bersyukur dengan rejeki tak terkira darimu ini.


Usai menghabiskan bubur dan menambah dua bungkus untuk Arin dan Kakek kami memutuskan untuk mencari sarapan. Maklumlah, kami orang Indonesia tulen, belum kenyang kalau belum ketemu nasi.


Dua bungkus sarapan telah di tangan, kami pun segera meluncur menuju Villa.


"Assalammualaikum," teriakku saat melihat villa dalam keadaan sunyi.


Dari jauh, terlihat kakek tidur dengan pulasnya di kursi teras, setelah meletakkan bungkusan nasi dan bubur di atas meja makan aku menuju kamar melihat Arin dan Langit.


Arin dan Langit tampak meringkuk nikmat di atas kasur. Hawa dingin sepertinya membuat dua makluk ini begitu menikmati.


"Rin, Bangun. Sarapan dulu." Aku menggoyangkan sedikit tubuhnya hingga gadis itu menggeliat.


"Eh, sudah pulang, Ras. Hawa di sini ngebuat pingin merem terus. Apalagi ada yang meluk, biuh ... betah aku." Tanpa sadar, tanganku langsung menoyor kepala gadis itu.


"Gitu ngataian orang mesum, Lah situ apa kabar?" Gadis itu malah nyengir saja tanpa dosa.


"Sana, makanlah! biar aku yang menjaga Langit," ucapku yang diangguki oleh Arin.


Gadis itu langsung keluar kamar. Sepeninggal Arin, entah kenapa mataku mulai meredup. Sepertimya hawa di sini benar-benar membuat mata pingin merem terus apalagi ditunjang dengan perut yang kenyang, Sepertinya tidur sebentar memang obat terbaiknya.


"Ras, bangun!" Aku melonjak kaget saat Arin menepuk pipiku. Perasaan baru lima menit sudah datang aja itu bocah.


"Apaan sih, Rin? perasaan baru lima menit," omelku dengan membetulkan letak bantal.


"Lima menit apaan? Sudah setengah jam. Ayo kemasi barangmu, kita mau pulang."


"Hah? Pulang?" tanyaku dengan melonjak kaget.


"Ho'oh. Kakek minta pulang, tadi sempat berdebat sama Pak Damar, tapi kamu tahu sendiri kakek kayak gimana, jadi, ya kita tetap pulang."


"Ah, Kakek. Kesini kita cuma tidur doang ini," omelku seraya bangun dan mengemasi barang-barangku.

__ADS_1


Usai mengemasi barang-barangku dan barang Langit, kami bergegas keluar kamar. Terlihat Mas Damar memasukkan barang-barang ke dalam bagasi, dan kakek masih dengan santainya menikmati bubur kacang hijaunya.


"Sudah semua?" tanya Mas Damar saat aku memasukan barang ke dalam bagasi mobil.


"Sudah, Mas. Tinggal berangkat."


"Eh, nasi bungkus kamu masih ada, kan? Makan dulu deh, itu kakek juga masih makan. Dia yang teriak-teriak minta pulang, dia sendiri yang santai-santai," omel Mas Damar dengan bibir mengerucut, semakin menggemaskan saja.


"Ya, sudah,Mas tak makan dulu kalau gitu, sayang sudah dibeli, malah mubadzir nanti," ucapku yang diangguki Mas Damar. Aku lantas masuk ke dalam dan memulai makan.


Usai makan dan bersiap, kami pun meninggalkan villa. Kakek benar-benar gak ada akhlak, jauh-jauh kesini cuma nganterin dia tidur doang. Beruntung kemarin sempat ke BNS, kalau enggak bisa dibilang benar-benar nyari capek doang.


Mobil telah memasuki komplek, beberapa rumah lagi maka sampailah kami di rumah. Selamat datang di kehidupan nyata, Ras, masa-masa indahmu bersama Mas Damar kemarin hanya akan cukup menjadi kenangan.


***


Sore seperti biasa, setelah dua hari kemarin kami liburan, kini saatnya kembali pada rutinitas. Mas Damar sudah baerangkat ke kantor tadi pagi, Kakek pun sudah berpamitan pulang, Seminggu bersama lelaki tua itu, jadi merasa sepi pas dia tidak ada.


"Hei, Babu!" Aku hendak menuju dapur saat terdengar panggilan untukku.


Sebuah tamparan keras bersarang di pipiku, hampir saja aku terhuyung ke belakang kalau tak sigap berpegangan dengan pilar-pilar rumah.


"Kamu itu cuma babu! harusnya tahu diri. Berani-beraninya kamu menggoda calon suamiku!" Angel terlihat begitu berapi-api, sedangkan aku mencoba menetralkan diri sembari mengelua bekas tamparan yang memang terasa sangat panas.


"Maksud nona apa?" tanyaku mulai berdiri tegak.


"Jangan berlagak ******! Kamu kan yang meracuni Damar agar mutusin aku? Jangan mimpi kamu! harusnya kamu tahu diri saat memilih saingan." Meskipun aku mencoba mencerna, tapi tetap saja aku bingung dengan ucapan Angel.


"Kamu pergi dari sini! aku tak mau melihatmu lagi!" ucapnya dengan mencoba menarik lenganku.


"Maaf, Nona! Aku tak tahu apa maksud ucapan nona, tapi satu hal, nona tidak berhak mengusirku. Hanya Mas Damar bosku disini," jawabku dengan melepaskan cekalan tangannya.


"Kamu!" Lagi-lagi tangan Angel hampir saja menamparku, tapi karena aku tak ingin menjadi bulan-bulanan si kutil kecoa ini, maka dengan sikap aku menangkap tangannya.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Anda tidak berhak memperlakukan saya seperti ini," ucapku dengan menghempaskan tangannya begitu saja.


"Ouw, kamu berani? baiklah, kita lihat saja!" ucapnya lagi dengan tersenyum sinis.


"Satpam!" teriak Angel yang membuat dahiku mengkerut, apa lagi ulahnya kali ini?


Dua satpam yang merasa terpanggil masuk kedalam. Mereka juga menatap heran kepada Angel sebelum akhirnya semakin mendekat.


"Kalian, usir babu ini! aku tak mau melihat dia lagi di sini!" Dua satpam itu saling pandang, mungkin ragu harus melakukan apa.


"Kenapa diam saja! Buruan!" teriak Angel lagi saat melihat kedua satpam itu tak bergerak menuruti perintahnya.


Mungkin karena takut, kedua bapak tersebut lantas mendekat ke arahku. Tapi saat hendak memegangku, sebuah suara lantang datang dari pintu masuk.


"Ada apa ini?" Semua orang menoleh ke sumber suara, terlihat di sana Mas Damar yang mendekat ke arah kami.


"Aku mau ngusir dia dari sini. Gara-gara dia kan kamu mutusin aku?" ucap Angel yang membuat mataku membulat, Mas Damar mutusin Angel? Why?


"Aku sudah jelasin semuanya sama kamu, Ngel. Ini tak ada sangkut pautnya dengan siapa pun. Kenapa harus mempertahankan hubungan yang sia-sia?"


"Itu menurutmu, tapi tidak menurutku! Aku yakin kamu pasti bisa cinta sama aku kalau babu ini tidak datang kemari!" Angel semakin berapi-api.


"Aku dan Saras tidak ada hubungan apa-apa. Dan jangan libatkan dia dalam masalah kita."


"Kalau begitu, usir dia sekarang!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuhuu ... sudah nunggu lama, yak? Maafkan, ya. Ada beberapa kegiatan duta yang gak bisa aku tinggalin, Mungkin juga itu akan menyita waktu, jadi mohon maaf kalau mungkin updatenya bakal sedikit lama. yang penting, gak sampai dimatiin mic-nyaπŸ˜…πŸ˜…, Eh kagak nyambung yaak,πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kita mulai masuk konflik pelan-pelan, ya, Guys. tapi tenang saja, nanti pasti masih aku selipin sedikit ke somplakan Saras. Kalau ada yang tanya somplak mana Saras sama Authornya, jawabannya lebih somplak si KakekπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


So, biarpun jarang update, jangan pernah berpaling ya, Guys. Ditinggal pas sayang-sayanganya itu bikin laperπŸ˜…

__ADS_1


Kecup jauh buat kalian😘😘😘😘


__ADS_2