Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Bunda Saras


__ADS_3

Aku turun dari lantai atas di susul dengan Mas Damar di belakangku. Lelaki itu bisa-bisanya menbuatku mandi dua kali. Tak hanya shampoo, mungkin jatah beli sabun juga bertambah. Kecuali kalau sebelumnya Mas Damar memang biasa mainin sabun, Eh.


"Aku ke dapur dulu, ya, Mas. Mau buatin makanan Langit. Kamu mau sarapan sekarang, apa nanti saja?" tanyaku sembari berhneti sejenak dan menoleh ke arah Mas Damar.


"Iya, Aku mau nemuin kakek dulu, deh. nanti kita makan bareng-bareng, meskipun sebenarnya sudah kenyang habis makan kamu tadi," jawab Mas Damar dengan senyum jahil. Aku memutar bola malas.


"Dasar bucin," ucapku yang justru di tertawakan Mas Damar.


Aku masuk ke dapur di sertai tatapan aneh dari Mbak Indri dan Mbok Darmi. Ada apa dengan mereka?


"Kenapa sih, lihatin kayak gitu?" tanyaku seraya mencuci wortel.


"Katanya gak punya shampoo, kok keramas?" tanya Mbak Indri dengan tatapan menyelidik.


"Ouw, ini." Aku memegang rambutku yang masih basah.


"Tadi keramas pakai odol," jawabku sekenanya.


Aku melirik Mbok Darmi dan Mbak Indri yang saling tatap.


"Odolnya Mas Damar?" tanya Mbak Indri kali ini dengan tatapan menggoda.


"Menurutmu, Mbak?" tanyaku balik.


Setelah mengukus wortel, aku mengambil tempat duduk. Sembari menyaksikan Mbak Indri dan Mbok Darmi menyiapkan sarapan.


Mbak Indri tertawa, "Mangkanya tadi pagi pas kamu datang kok gak keramas, sempat bingung, bener ini pengantin baru? Eh, gak taunya nunggu serangan fajar." Aku terbahak, lucu mendengar istilah dari Mbak Indri.


"Dulu waktu pengantin bau, Mbak indri gitu juga gak sih, Mbak?" tanyaku mendengarkan dengan seksama.


"Lebih parah dari kamu, Ras. Sudah gak keluar kamar selama dua hari, makan di dalam kamar, parahnya lagi ranjang sampai patah. Harganya gak seberapa, malunya ituloh."


Aku dan Mbok Darmi langsung terbahak, tak menyangka ternyata kisah malam pertama tiap orang sangat lucu dan menegangkan.


Kukusan berbunyi, tanda wortel telah matang. Aku haluskan wortel dengan blender, kemudian menyaringnya.


"Mbak, tinggal dulu, ya? mau nyuapin Langit," pamitku kepada Mbak indri.


"Jangan anaknya terus yang disuapin, Ras. Bapaknya juga," sahut Mbak Indri setelah aku berjalan bebrapa langkah.


"Bapaknya sudah kenyang, tadi habis minum susu dua gentong," jawabku asal. Mbak Indri terbahak lagi, cepet amat nyambungnya kalau soal beginian.

__ADS_1


***


Usai menyiapi Langit, kini giliran aku dan Mas Dama untuk sarapan. Kakek ternyata setelah menghabiskan wedang jahe pamit keluar untuk melihat orang jualan kambing. Mungkin mau menambah koleksinya.


"Kamu gak kerja, Mas?" tanyaku seraya menuangkan nasi ke piring Mas Damar.


"Lagi males. Lagian hari ini aku ada janji sama orang WO, nanti kamu pilih sendiri konsep yang kamu mau."


"Gak bisa yang sederhana saja, Mas. Aku malu dilihat orang banyak." ucapku seraya duduk kembali.


"Gak bisa, Sayang. Aku mau semua orang tahu statusku sekarang. Emangnya kamu mau suamimu yang tampan ini digodain wanita diluar sana," ucap Mas Damar sembari senyum menggoda.


"Ihh, PDnya. Emang wanita-wanita itu ada yang goyangannya seenak aku?" jawabku seraya menaik turunkan alis, emang situ doang yang bisa sombong. Mas Damar justru terbahak.


"Ciee yang sudah mulai jago goyang. Kamu yang terbaik, Sayang. Jadi, boleh dong setelah ini nambah lagi?" Mas Damar mengedipkan mata, senyum jahilnya terbit dengan sempurna.


Aku menatapnya tajam. "Makan!" perintahku yang akhirnya membuat dia terkikik lagi.


Tak lagi bicara, kami memilih untuk menikmati sarapan. Kalau terlalu lama, kasihan Arin menunggu.


Usai makan, Mas Damar mengajakku dan Langit bersantai di ruang tamu. Mas Damar duduk di sofa dengan koran ditangan, sedangkan aku dan Langit lebih memilih lesehan di bawah, lebih leluasa untuk Langit bermain.


"Eh, Ras. Jadi Langit harus memanggilmu apa sekarang?" tanya Mas Damar tiba-tiba.


Mas Damar turun dari sofa, mendaratkan pinggulnya tepat di sampingku.


"Tapi sekerang kamu ibunya, Sayang," ucap Mas Damar seraya menyelipkan rambutku ke belakang telinga.


"Hmm ... dulu Langit panggil Mbak Rachel apa?" tanyaku seraya melihat arah Mas damar.


"Mama," jawabnya singkat.


"Kalau gitu cari panggilan lain saja selain Mama. Biar Mbak Rachel tetap jadi satu-satunya Mama Langit."


"Kalau begitu gimana kalau panggil bunda saja?" usul Mas Damar antusias.


"Emang pantes aku dipanggil bunda, Mas? di pikiranku itu bunda itu, manis, kalem, lembut bukan yang petakilan kayak aku gini."


Mas Damar membelai rambutku lagi.


"Cocok, Sayang. Kamu juga manis, kalem, lembut juga kalau di ranjang." Tepat di kalimat akhir, Mas Damar mendekatkan wajahnya, berbisik tepat dibelakang telingaku. Membuat merinding saja.

__ADS_1


"Dasar mesum!" omelku padanya.


"Cuma sama kamu, Bunda," jawab Mas Damar seraya terbahak.


Mendengar lelaki itu memanggilku bunda, entah kenapa membuatku geli sendiri. Ternyata aku sekarang ibu dari seorang bocah yang tampan dan menggemaskan.


"Ekhem," suara dehemab terdengar tepat di belakang kami.


Mas Damar menjauhkan tubuhnya, lelaki itu memandang kebelakang, yang kemudian kuikuti.


"Ada apa, Pak?" tanya Mas Damar kepada Pak Rusdi.


"Ada tamu diluar, Pak. Katanya dari Weding organizer," jelas Mas Rusdi yang diangguki Mas Damar.


"Suruh masuk, Pak." Mas Damar berdiri, siap menerima tamunya.


"Selamat Pagi, Damar. Akhirnya kabar baik datang juga darimu."


Seorang wanita dengan berpenampilan nyentik masuk ke dalam ruangan. Rambutnya yang merah persis arum manis tapi tak manis dia kibas-kibaskan ke belakang.


Dia menyapa Mas Damar, tak lupa dengan mendaratkan cipika-cipiki, dasar tukang nyosor! Aku aja belum pernah nyosor Mas Damar duluan kayak gitu.


"Duduklah, Erika!" perintah Mas Damar yang disetujui wanita itu.


wanita bernama Erika itu mengerdarkan pandangannya. Sejanak dia menatapku, kemudia beralih lagi ke Mas Damar.


"Jadi, mana wanita yang beruntung itu, Mar?" tanyanya.


Mas Damar menoleh ke arahku, "Kemarilah, Ras!" perintahnya padaku.


Aku berdiri, mendekat padanya dengan menggendong Langit. Erika menatapku dengan setengah tak percaya, dia memintaiku dari atas hingga bawah.


"Are U serious, Mar? Wanita ini istrimua?" tanyanya dengan nada, mengejek.


Dasar Kutil badak! Emang kenapa denganku? jelek-jelek begini, Mas Damar pernah bilang kalau is*p*nku tak tertandingi. Ngisap jempol maksundnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hayoooo pasti pada mikir jempol yang lain y?Dasar omesπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Mumpung lagi wekeend nih, yang baper, noh selimutin lawannya masing-masing.

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2