
"Mau kemana?" tanya Zakki saat melihat Sea membawa sebuah tas besar.
"Ah, untungnya dokter sudah pulang. Aku akan pulang, sedari tadi aku menunggu tapi dokter tak pulang-pulang." jawab Sea dengan tersenyum manis.
Zakki meletakkan jas dokternya, dia berjalan menuju kulkas, mengambil satu botol air mineral dan meneguknya.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Zakki setelah meletakkan botol mineral ke meja.
Sea menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan Zakki. "Kok tanya begitu? Dokter gak rela aku pulang?"
Zakki mendadak salah tingkah dengan pertanyaan Sea. Iya, kenapa dia harus bertanya seperti itu? Bukankah akan lebih bagus kalau gadis itu pulang lebih cepat?
"Bukan begitu. Maksudku kan, kalau kamu memang buru-buru tadi tak perlu menungguku," jawab Zakki kikuk.
'Jawaban macam apa itu? Kenapa tak sesaui dengan pertanyaannya?' Sea membatin sendiri dalam hatinya.
"Kan aku tamu, gak baik pulang tanpa pamit. Nanti kalau ada yang hilang gimana?"
"Ya, sudah. Kamu pulang naik apa?" tanya Zakki lagi.
"Aku naik taksi saja, terima kasih buat tumpangannya selama ini, Dok. Maaf merepotkan."
Sea mengangkat tasnya dan berbalik ke arah pintu, tapi saat dia berhasil membuka pintu apartemen dia melonjak kaget saat Zakki tiba-tiba menarik tasnya.
"Biar aku antar," ucap Zakki datar.
Sea hanya diam di tempat. Gadis itu melihat ke arah zakki dengan sedikit melongo. "Dokter serius?" tanyanya.
"Jangan banyak tanya atau nanti aku akan berubah pikiran."
Zakki melangkah keluar terlebih dahulu, Sea membuntuti dari belakang. "Dok!" panggil Sea.
"Terima kasih," lanjutnya saat Zakki berbalik menatapnya.
Dua orang itu berjalan beriringan menuju parkiran mobil Zakki. Sea sesekali memperhatikan Zakki yang sedang berjalan lurus dengan menenteng tasnya.
__ADS_1
"Lihat depan! Jangan lihatin aku!" omel Zakki tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sea.
Sea tersenyum di tempatnya. Meskipun menyebalkan, tapi paling tidak dia tahu Zakki sedari tadi memperhatikannya.
"Dokter masih saudaraan ya, sama cenayang? Tau banget kalau lagi dilihatin."
Zakki tak menggubris ucapan Sea. Mereka sudah sampai di mobil Zakki, lelaki itu memasukkan tas Sea ke dalam jok belakang.
"Ngapain gak masuk?" tanya Zakki sat melihat Sea masih berdiri di samping pintu mobilnya.
"Eh!"
"Jangan bilang kamu nunggu aku bukain pintu? Ngarep!"
Usai berkata demikian Zakki masuk ke dalam mobil, duduk dibelakang kemudi seraya menunggu Sea. Gadis yang semula hanya melongo di tempat menjadi tergagap sendiri dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Dimana rumahmu?" tanya Zakki saat mereka sudah keluar dari parkiran.
"Perumahan Queen blok B no 26." jawab Sea singkat.
Sesuai dengan arahan Sea, Zakki menjalankan mobilnya menuju rumah gafis itu. Tak sampai satu jam mereka telah sampai di sebuah bangunan megah dengan pagar yang menjulang tinggi.
"Pak, tolong bukain," ucap Sea kepada seorang securiti yang berdiri di depan gerbang.
"Eh, Mbak Sea. Kirain siapa," tanya Securiti yang bernama Pak Budi itu.
"Mobil temen, Pak. Kok ada mobil papa, orangnya di rumah?" tanya Sea sembari memperhatikan mobil yang terparkir di depan garasi.
"Iya, Mbak. Sudah dua hari ini di rumah. Bapak nyariin mbak Sea terus."
Sea terdiam saat mendengar ucapan Pak Budi. Cukup mengejutkan baginya jika orangtuanya berada di rumah, apalagi sampai dua hari lamanya benar-benar rekor baru.
"Sea, aku langsung balik, ya?"
Sea memutar tubuhnya menghadap Zakki, memikirkan orang tuanya dia sampai lupa jika ada Zakki yang mengantar.
__ADS_1
"Masuk dulu, aja, Dok. Aku bikinin minum buat ucapan terima kasih," ucap Sea seraya mendekat ke arah Zakki.
"Baiklah, hanya sebentar."
Sea mengangguk antusias, dia tak menyangka jika dokter muda itu ternyata mau menuruti permintaanya. Sikap Zakki hari ini memang membuat gadis itu bertanya-tanya, dari yang menawarkan mengantar pulang hingga sekarang mau mampir. Entah apa sebabnya dia tak peduli, yang jelas semoga ini akan menjadi awal yang bagus untuk mereka berdua.
"Duduk dulu, Dok. Mau minum apa?"
"Terserah."
Sembari menunggu Sea yang berjalan menuju dapur, Zakki memperhatikan rumah gadis itu. Rumah yang bergaya aksitekstur Eropa ini menandakan bahwa si pemilik rumah menyukai desain klasik. Cat yang minimalis membuat kesan rumah ini terlihat makin mewah.
Namun, melihat keadaan ini membuat Zakki bertanya-tanya. Harusnya dengan kekayaan seperti ini, Sea akan menjadi gadis yang bahagia dan penuh kemewahan, tapi kenapa justru sebaliknya?
Sea memang selalu tampil ceria, dia selalu bisa membuat suasana menjadi ramai. Namun, itu semua tak bisa menutupi sebuah luka yang gadis itu sembunyikan. Umumnya, gadis seusianya akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk senang-senang dan shopping. Tapi sepanjang beberapa hari bersama, Zakki tak melihat itu pada Sea.
"Minum, Dok." ucap Sea sembari meletakkan segelas orange juice di atas meja.
"Terima kasih. Rumahmu sepi, kamu gak punya saudara?"
"Tiap hari memang begini, Dok. Hanya aku dan beberapa asisten rumah tangga di rumah ini. Aku punya saudara kembar, tapi dia sedang di luar negeri."
Zakki mengangguk mendengar penjelasan Sea. Mungkin inilah yang dimaksud Damar beberapa hari lalu. Sea memang punya saudara kembar ternyata.
"Kenapa kalian pisah?"
"Oh, Sudah pulang rupanya. Bagus sekali. Pergi dari rumah beberapa hari, nginep di rumah laki-laki mana kamu?"
Belum sempat Sea menjawab pertanyaan Zakki, suara bariton dari tangga lantai dua menyita perhatian mereka. Zakki menyipitkan mata melihat seorang lelaki yang kini sedang menatap ke arah mereka. Sedang Sea justru mengepalkan tangan dan menatap tak suka kepada lelaki yang berdiri jauh di sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Holaaa ... Maaf, yak. Baru muncul. Maaf kalau mungkin akhir-akhir ini aku jarang muncul. Semoga update'an ini bisa sedikit menghibur kalian yang sudah setia menunggu selama ini.
Kecup Jauh Untuk kalian semua😘😘
__ADS_1