Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Kembar?


__ADS_3

"Ouw ... baru muncul. Bagus. Udah puas jalan-jalannya? Seneng?"


Sea yang baru beberapa langkah masuk ke ruangan Zakki itu mendadak kicep. Belum apa-apa saja, Zakki udah mengomel tak karuan. Tamat sudah riwayatnya hari ini.


Zakki bangkit dari tempatnya, berjalan mendekat ke arah Sea yang masih mematung di belakang pintu.


"Kenapa diem? Ngerasa bersalah?" omel Zakki lagi.


"Enggak, gitu. Tadi aku–"


"Kalau emang ponselnya gak fungsi, ya, udah buang aja! Ngapain pakai bawa ponsel kalau gak bisa dihubungi juga!"


Belum selesai Sea menjawab, lagi-lagi Zakki memotong pembicaraannya. Semenjak lamaran tempo hari, Zakki memang memasang proteksi lebih kepadanya. Bahkan di saat-saat tertentu, pacarnya itu sering kali melakukan vidio call hanya untuk memastikan keberadaanya. Entah Sea harus bahagia atau susah menghadapi ini.


"Ponselnya aku silent, soalnya lagi bimbingan sama dosen. Pas mau dinyalain eh lowbad," jelas Sea buru-buru. Dia tak mau Zakki memotong penjelasannya lagi.


"Ya, kalau lowbad kan bisa dicas terus kasih kabar. Gak usah telpon, kirim pesan aja kan sudah bisa!"


Ah, lagi-lagi Sea salah. Sekarang aja ngomongnya kirim pesan kan bisa? Tapi kalau udah kejadian dia kirim pesan doang pasti ntar ngomel lagi.


'Kirim fotonya! Kenapa? Gak berani? Takut ketahuan kalau lagi bareng sama cowok?'


Sea menirukan ocehan Zakki dalam hati. Ya, saking seringnya Zakki berkata seperti itu, Sea sampai hapal.


"Kamu paham gak sih kalau aku itu khawatir, hah? Aku dari tadi sampai gak bisa konsen kerja cuma karena belum tahu kabar kamu. Ngerti gak?"


Sea mengangguk. Kali ini, sepertinya diam saja akan menjadi keputusan yang terbaik untuknya.


"Maaf," jawab Sea lirih.


"Jangan ngerti-ngerti mulu. Apa perlu kamu aku kurung terus keluar cuma pas ke kampus aja? Mau gitu?"


Zakki masih saja mengomel, dulu jangannkan ngomel seperti ini ngomong aja kalau gak ditanyain dulu gak bakal keluar suaranya.


Sea mendekat, bergelanjut manja di lengan Zakki. Lelaki itu mendengkus tiap kali dia marah Sea akan selalu seperti ini, membuat amarahnya selalu meluap begitu saja.


"Maaf, Sayang. Maaf. Janji deh gak gitu lagi," pinta Sea dengan manjanya.


Zakki menghembuskan napas pelan. Dia menoleh ke samping, ke arah Sea yang sedang menatapnya dengan mengedip-kedipkan mata. Mungkin Sea sedang terkena ayan.


"Udah makan?" tanya Zakki kini dengan suara sedikit melunak.


"Udah, yang belum cari baju pengantin. Jadi, kapan kamu libur?"

__ADS_1


Zakki kembali mendengkus, melepaskan tangan Sea yang ada di lengannya. Lelaki itu berjalan menuju sofa, mendaratkan pinggulnya di sana.


"Gak ada. Begini aja kamu belum bisa dikasih tanggung jawab, gimana kalau nikah nanti? Sekarang aja masih doyan kelayapan tanpa kabar. Bikin orang khawatir mulu, besok nikah bisa-bisa mati muda aku."


Sea menyusul langkah Zakki, ikut duduk di samping lelakinya itu.


"Ngomong apaan sih? Jangan bahas-bahas mati. Lagian kan kalau kita nikah itu bagus juga, kamu punya alasan buat ngurung aku seharian di kamar dan aku juga punya alasan biar bisa terus-terusan nempel sama kamu. Simbioasis mutualisme, kan?"


Zakki menoleh ke arah Sea dengan muka datarnya. "Itu sih mau mu aja."


"Emang gak mau?" Sea kembali mendekat, meletakkan dagunya di bahu Zakki, membuat posisi wajah dua orang itu kini begitu amatlah dekat.


Melihat ekspresi Sea yang menggemaskan Zakki jadi terkekeh. Diulurkan tangannya dan mencubit pelan ujung hidung gadis itu.


"Ya maulah, masak enggak!" jawaban Zakki sontak membuat dua orang itu tertawa bersama.


"Lagi-lagi gue datang gak tepat waktu."


Zakki dan Sea langsung menoleh bersamaan. Di depan pintu sana Reno sedang menatap mereka dengan gelengan kepala.


"Kebiasaan gangguin orang mulu!" sembur Sea.


"Bukan gue yang salah kalian aja yang gak tau tempat. Sudah tahu ini rumah sakit bukan tempat pacaran."


Zakki menutup mulut Sea dengan telapak tangannya. Mencegah keributan agar tak lebih besar lagi.


"Jam segini baru dateng, dari mana kamu?" Kini gantian Reno yang mendapat semburan Zakki. Hari ini mungkin Zakki sedang PMS, salah sedikit saja dia langsung ngomel gak karuan.


"Ck, kenapa sekarang aku yang kena sasaran? Tadi di depan ketemu suaminya Saras, ngobrol bentar. Udah tahu belum si Saras mau melahirkan?"


Zakkii langsung terdiam.


"Kak Saras mau lahiran? Beneran? Ah, mau lihat ke sana." Kini justru Sea yang terlihat antusias.


Sea bangkit dari kursinya, menarik sebelah tangan Zakki. "Sayang, ayo ke sana. Lihat dedeknya Kak Saras."


"Heh?" Zakki masih linglung.


Zakki masih shock dengan berita yang dia dengar. Bukan karena dia gagal move on, sungguh bukan. Dia hanya tidak menyangka Saras si cewek petakilan akan segera melahirkan. Masih belum bisa Zakki bayangkan gimana tingkahnya di ruang bersalin.


"Gak papa kita ke sana?" tanya Zakki memastikan. Dia ikut bangkit, berdiri tepat di samping Sea.


"Lah emang gak boleh? Kan kita nunggunya di luar."

__ADS_1


"Bukan itu maksudku." Zakki bingung sendiri saat mau menjelaskan.


Sea yang mengerti perubahan raut wajah Zakki langsung mendekat lagi.


"Kamu gak enak sama aku, ya?" tanya Sea pelan. Zakki tak menjawab, dia hanya menatap Sea dengan begitu menyesal.


"Kamu jangan salah paham dulu, aku benar-benar sudah gak ada rasa sama dia. Aku cuma pingin jaga perasaan kamu saja."


Sea terkekeh. "Apaan sih? Aku malah gak mikir ke sana. Kak Saras ngelahirin anak suaminya, kalau dia ngelaharin anak kamu baru aku gak baik-baik saja."


Zakki geleng-geleng kepala, dia ikut tertawa pelan. Sea memang selalu bisa bikin dia takjub.


"Ya, sudah. Ayo! Ren, aku balik dulu, ya."


"Oke. Baik-baik, ya? Ingat, setan muncul bukan karena adanya kesempatan, tapi karena adanya niat sang pelaku. Waspadalah! Waspadalah!"


Dan seketika itu sebuah jurnal tebal mendarat tepat dijidat Reno.


Zakki dan Sea tiba tepat saat ruang bersalin terbuka. Damar muncul dengan muka tak karu-karuan. Rambutnya acak-acakan, bekas goresan tak hanya ada di lengan, tapi juga full di seluruh wajahnya. Dia habis nemenin istri lahiran apa habis adu gulat?


"Pak Damar, kenapa berantakan gitu?" tanya Sea dengan polosnya.


"Eh, Sea, Dokter Zakki," sapa Damar saat mulai sadar kehadiran Dua orang tersebut.


"Anaknya sudah lahir? Sehat kan ibu dan anaknya?" kini giliran Zakki yang bertanya.


"Alhamdulillah sehat."


"Cowok?"


"Cewek?"


Tanya Zakki dan Sea bersamaan. Kedua orang itu saling pandang dan akhirnya terkekeh bersama.


"Dua-duanya."


"Maksudnya?"


"Mereka kembar."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Uwuu ... nih Saras Damar aku munculin.

__ADS_1


Next bab jenguk dedek bayi kembarnya Saras yeee


__ADS_2