
Bibit Unggul Mas Duda
Part 108
"Mas!"
"Hmmm."
Saras sebal setengah mati saat beberapa kali upaya membangunkan Damar tak kunjung berhasil.
Pagi ini, saat bangun tidur entah kenapa dia pingin sekali makan getuk lengkap dengan ketannya. Semalam dia bermimpi ada Harjunot Ali yang sedang menikmati getuk di bawah pohon pisang, dan itulah sebabnya dia ingin sekali memakan getuk pagi ini.
"Mas! Ayo bangun," rengek Saras lagi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Damar dengan suara seraknya.
Lelaki itu bukannya bangkit malah menarik Saras lebih mendekat. Menelusupkan kepala di dada istrinya dan memeluk pinggangnya.
"Jam empat. Bangun ayo subuhan habis itu kamu cariin aku getuk, ya?"
Damar bangkit dari posisinya, dahinya sedikit berkerut. "Gatuk? Kamu lagi ngidam itu?" tanya Damar.
Saras tersenyum semringah sembari menganggukkan kepala. Damar kembali merebahkan kepalanya seperti posisi semula, memeluk lebih kencang pinggang istrinya.
"Mumpung masih ada waktu buat subuhan, gak mau gitu kamu manja-manjaan kayak semalam?" tanya Damar sembari terkekeh.
"Enggak! Aku cuma mau getuk! Jadi, ayo bangun!"
Saras menyingkir dari tubuh suaminya itu. Damar hampir saja terjengkang kalau tidak dengan gesit memegang pinggiran dipan.
"Ya Allah, Sayang. Sadis bener. Kamu gak inget gimana semalam ngerengek-rengek minta itu?" Damar menaik turunkan alis, mencoba menggoda istrinya itu.
"Ish! Gak mau denger!" Wajah Saras memerah, dia ingat betul bagaiamana dia semalam, dia? Ah, jangan-jangan! Nanti kalian baper.
Saras beranjak menuju pintu. "Buruan, Mas! Nanti kalau udah adzan aku balik lagi, kita jamaah. Jangan tidur lagi!"
Tak menunggu jawaban lagi, Saras keluar dari kamar itu. Sedang Damar tiba-tiba saja terbahak.
Menghadapi wanita ngidam bukan hal baru bagi Damar. Tapi mendiang istrinya dan Saras sangat berbeda. Jika dulu Rachel bahkan dengan sekuat tenaga mengusirnya karena tak mau dekat-dekat, Saras justru berbeda.
Beberapa kali Saras bahkan memulai lebih dulu. Dia sangat manja dan agresif semenjak hamil, tentu saja itu disambut tangan terbuka oleh Damar. Tanpa diminta, Saras dengan senang hati menyerahkan diri. Bahkan beberapa kali dia harus terpaksa libur kerja karena Saras tak mau ditinggal. Benar-benar menjadi durian runtuh bagi Damar.
Damar tak pernah risih ataupun keberatan saat Saras terus-terusan merengek atau menahannya kemana-mana. Baginya, Saras tergolong gadis yang tangguh, gadis itu lebih mandiri dari istrinya dulu. Dia bahkan sering kali tersisih karena Saras bisa melakukan apapun sendiri. Tapi di saat sekarang istrinya itu berubah menjadi manja, tentu saja itu menimbulkan sensasi yang beda bagi Damar.
Akhirnya Damar merasa dibutuhkan, dia juga bisa berdekatan terus dengan istrinya tanpa takut di tolak. Setelah anaknya ini lahir besok, Damar bertekad akan membuat Saras hamil lagi dalam waktu dekat, supaya dia bisa terus-terusan nempel tanpa di usir.
"Mas!"
Teriakan Saras di depan pintu membuat Damar melonjak. Karena keasyikan melamun, dia lupa untuk segera mandi. Sedang istrinya di depan sana sudah menatap penuh amarah. Wajahnya yang manis terlihat menyeramkan berkali-kali lipat. Tak mau menjadi korban pembantaian, Damar bangkit dan langsung berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
****
"Kemana aja, sih, Mas? Ini sudah dua jam kok baru balik?"
Damar yang sudah berjalan gontai makin ingin ambruk saja saat mendapat sambutan mengerikan dari Saras.
"Susah nyarinya, Ras. Aku dari pinggir jalan sampai masuk Indoapril gak ada, Sayang," urai Damar sembari berjalan masuk dan duduk di ruang tamu.
Saras mengikuti suaminya itu dan duduk di sampingnya. "Kenapa gak ke pasar aja?"
"Udah. Tapi kehabisan. Aku kesiangan."
"Tuh, Kan! Mangkanya aku suruh berangkat pagi kan tadi?"
Damar menatap bingung kepada istrinya. Apa semua orang hamil hormonnya memang seganas ini?
"Lah tadi habis salat subuh kan udah mau berangkat, tapi siapa yang merengek-rengek minta serangan fajar, hhpp–"
Ucapan Damar terjeda saat Saras dengan gesit menutup mulut suaminya itu. Saras celingukan, jangan sampai ada yang dengar ucapan Damar barusan.
"Mas! Jangan keras-keras! Nanti ada yang denger."
Damar hanya manggut-manggut. Bekapan tangan Saras begitu kuat, membuat dia benar-benar tak bernapas.
Usai tangannya di lepas, Damar menghirup udara banyak-banyak. "Ya Allah, Ras. Tangan kamu kuat bener sih?"
"Maaf," jawab Saras sembari cengar-cengir tanpa dosa.
"Aku gak enak sama Mbak Indri ditanyain kenapa shampoonya cepet habis terus," jelas Saras dengan menunduk. Pipinya memerah membuat Damar makin gemas saja.
Damar terbahak, istrinya ini memang benar-benar mahkluk yang lucu dan menggemaskan. Tak tahan dengan bibir saras yang mengerucut, sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Saras.
Mendapat serangan tiba-tiba, Saras hanya melotot. Dia menatap suaminya tajam, sedang Damar masih dengan tanpa dosa melanjutkan tawanya.
"Mas kalau ada yang lihat gimana?"
"Ya, sudah ayo di lanjutin ke kamar saja."
"Gak mau! Beli getuk dulu!"
Damar merebahkan asal tubuhnya. Kenapa masih ingat getuk lagi sih?
"Biar pak Rusdi aja, ya, yang cari? Aku capek, Sayang," bujuk Damar dengan membelai pipi Saras.
Saras memutar bola matanya ke atas, mencoba berpikir sejenak kemuadian mengangguk.
"Boleh, asal kamu yang nyari bubur kacang ijonya?"
"Hah? Kenapa bukan pak Rusdi aja sekalian?"
__ADS_1
"Gak mau! Maunya kamu!"
Damar menghembuskan napas pasrah. Dia memang harus benar-benar sabar mnuruti tingkah istrinya itu. Untung saja cuma bubur kacang ijo, masih gampang nyarinya.
"Baiklah."
Damar bangkit dari duduknya, tapi langkahnya tertahan saat tiba-tiba Saras memanggilnya.
"Loh, mau kemana, Mas?"
"Kan katanya mau bubur kacang ijo?"
Saras meraih lengan suaminya, memaksa untuk duduk lagi di sampingnya. Dia mendekat, merebahkan kepalanya di dada sang suami. Damar yang sedikit bingung dengan tingkah Saras hanya diam dan pasra.
"Go food, ajalah. Aku mau deket-deket kamu dulu."
Damar langsung semringah. Dia girang bukan kepalang. Selain dia lolos dari tugas, dia juga mendapat bonus pelukan dari istrinya itu.
Lelaki itu membenarkan posisi duduknya. Memberi ruang agar Saras lebih nyaman dalam dekapannya.
"Oke. Siap, Tuan Putri. Jadi, sembari menunggu, aku kan menjamumu dengan baik." ucap Damar sembari membelai punggung istrinya itu.
Saras hanya mengangguk tanpa berkata. Damar mengambil handphonenya. Dia mengirim pesan kepada Pak Rusdi dan memesan gojek sekaligus. Andai saja sejak tadi Saras mau diajak bernegosiasi seperti ini, tentu saja dia tak perlu capek-capek muter-muter selama dua jam di jalanan.
"Mas."
"Hmm."
"Kok tiba-tiba aku pingin penyet ayam."
"Ya, udah pesen sekalian go food, ya?"
"Gak mau. Aku maunya makan di tempat langsung."
"Ya, sudah nanti sore saja."
"Tapi bukan sama kamu."
"Terus?"
"Sama Zakki dan Nia Ramadhani."
Damar auto salto di pojokan sembari ngemil batako cream keju.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Woyaa ... nungguin, ya? Maap, yak, kemarin lagi bantuin Damar nyari bubur ayam tapi yang ayamnya baru aja lahir. Emang si Saras kalau ngidam aneh-aneh, yakk😅😅
Sudah kangen belum sih?😅
__ADS_1
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘