Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Dijodohkan?


__ADS_3

"Kakek, kok datang gak kasih kabar?" tanya Mas Damar sembari mendekat dan mencium tangan orang yang dia sebut kakek itu.


Tanpa diduga, sebuah pukulan melayang ke kepala Mas Damar. Aku berjengkit kaget, terasa ikut ngilu lihatnya, sedangkan Mas Damar sendiri hanya meringis menahan sakit.


"Cucu kurang ajar! Lupa kalau masih punya orang tua, hah? kenapa gak pernah main ke rumah lagi?" bentaknya kepada Mas Damar.


"Maaf, Kek. Damar lagi banyak pekerjaan. Gak bisa ditinggal."


"Alasan saja bisamu itu!"


Setelah membentak Mas Damar, lelaki itu lantas memandangi aku dan Arin bergantian, setelah itu dia memandang ke arah sang cicit. Dia ambil Langit ke dalam gendongannya, sepertinya dia memang merindukan cicitnya itu.


"Damar, sebagai hukuman, sekarang kamu push up!" perintah sang kakek.


"Kek, Kan Damar sudah minta maaf, masa mau dihukum? lagian Damar juga malu sama mereka." Uwuu ... Mas Damar yang biasanya tegas mendadak melankolis seperti ini, semakin menggemaskan saja, Langit kalah telak kalau begini.


Mendengar kata 'mereka' sang kakek lantas kembali memandangi ke arah kami. Tatapan tajam menuju ke arahku sekarang, aku tersenyum sembari menundukkan kepalaku padanya.


"Ouw, jadi kamu malu sama pacar barumu ini? manis juga meskipun tipis."


What the ****!


Apa dia bilang? tipis? aku memang tipis, tapi masalah service aku yakin bisa bikin Mas Damar meringis. Eh, tapi tunggu, pacar? Aiih, lampu ijo nih dari sumber bibit unggul, asekk ... aseek.

__ADS_1


"Kakek! apaan, sih. Saras kenalin, ini kakekku," ucap Mas Damar yang kini berganti menghadapku.


"Saya Saras, tuan," ucapku sembari mengulurkan tangan. Bukannya membalas uluran tanganku, lelaki yang sudah mempunya banyak keriput itu justru mendekat ke arahku.


"Hati-hati, meskipun kelihatan tegas begitu, Damar itu manjanya minta ampun, siap-siap saja dikurung di dalam kamar terus." Mataku membulat seketika saat kakek membisikkan kata-kata itu padaku.


Aku mendadak senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang bakal kami lakukan terus-terusan kalau di kurung di kamar. Aiiih ... Bu, Saras pingin kawin.


"Kakek, jangan ngomong macam-macam, ya? Jangan malu-maluin Damar, lagian Saras ini bukan pacar Damar, dia jagain Langit di sini," protes Mas Damar.


"Pacar juga gak papa, kelihatan dia lebih sayang ke cucuku daripada si topeng monyet itu," jawab Kakek sembari bermain-main dengan Langit.


"Topeng monyet?" tanyaku yang penasaran.


Hampir saja tawaku meledak kalau tidak ingat ada kakek di sini. Sedangkan Arin yang dibelakangku sedari tadi sudah cekikikan sembari menarik-narik bajuku.


Kakek masih santai meskipun mendapatkan protes terus dari cucunya. Sepertinya, kakek akan menjadi sekutu yang baik untukku mendapatkan Mas Damar. Baiklah kakek, restui gadis manis nan imut ini menjadi cucu mantumu.


Mas Damar mengajak kakek dan yang lain masuk ke dalam rumah. Untuk hari pertama ini, Langit makan dengan lahap, semoga dia akan terus seperti ini, tidak rewel saat makan.


Aku dan Arin berniat mengajak Langit masuk ke kamar, tapi kakek melarang. Dia masih rindu cicitnya itu katanya. Akhirnya Arin menyuruhku untuk menemani Langit saja, sedangkan dia ingin membereskan kamar Langit.


"Kakek, sebenarnya ada perlu apa? aku tahu kakek pasti punya tujuan lain datang kemari."

__ADS_1


"Kamu itu sudah gak nengokin, ada orang ke sini malah dicurigai, dasar cucu durhaka!"


"Bukannya begitu, Kek. kan tiap kakek datang ke sini pasti ada aja ulahnya. Terakhir kesini masa kakek bawa kambing satu truk buat makan di kebun Damar, gak salah kan sekarang Damar curiga."


Hah? bawa kambing satu truk? gokil juga ini kakek, jiwa sangklekku meronta-ronta pingin keluar. Seru kayakn6a kalau bercanda sama orang berumur kayak kakek gini.


"Lah itu kan kambing-kambing kakek baru beli, nanti kalau mati dijalan gara-gara kelaparan gimana? rugi dong, mangkanya kakek bawa makan dulu ke rumah kamu."


"Terus sekarang niatnya mau apa?"


"Sekarang sih niatnya mau jodohin kamu. Kebetulan kemarin ada lamaran bagus buat kamu. Anaknya masih perawan, dan bodinya? biuuhh truk gandeng lewat deh," ujar kakek dengan mata berbinar-binar. Tua-tua gitu tau saja body montok.


Eh tapi ada apa? Mas Damar di jodohin? Gusti, jangan patahkan hatiku, jangan sampai aku kalah sebelum berperang. Ini namanya luka tapi gak berdarah, perih.


Ya Allah Ya Tuhanku, jika memang aku tidak ditakdirkan menjadi jodoh Mas Damar, ambil saja nyawa jodohnya, aku males ribut. Amin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Kejutan ... aku datang lagi dong. gimana ceritanya? seru dong, ya?


Ada yang bertanya-tanya gimana perasaan Damar ke Saras? Ada yang mau PoV Damar biar tahu isi hatinya? Biisaaaa ... semuanya bakal aku kasih buat kalian semua pembaca setia Damar Saras.


Eh, Saran dong, ini cerita mau dikasih konflik yang berat apa biasa-biasa saja? Mau dibikin Saras yang patah hati atau justru Damar yang patah hati? Sedikit bocoran nih, nanti akan ada gebrakan dasyat waktu menuju ending, So jangan pernah berpaling ya, guys.

__ADS_1


Jangan Lupa Vote dan Likenya, ya? Cinta kalian semua😘😘😘😘**


__ADS_2