Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Untung Sayang


__ADS_3

Aku dan Mas Damar sedang dalam perjalanan menuju butik baju pengantin yang direkomendasikan Erika. Semalam wanita itu menghubungiku untuk mengabarkan bahwa pakaian pengantin kami telah siap.


"Selamat datang pengantin baru," sambut Erika seraya membuka kan pintu masuk kami.


Aku tersenyum, Erika meraihku dalam pelukannya tak lupa cipaka-cipiki pun dia berikan. Berasa aneh dicium wanita begini.


"Selamat pagi tuan dan nyonya, selamat datang di butik kami," seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan hangat.


Sama dengan Erika tadi, wanita itu juga memelukku dan mendaratkan cipika-cipikinya, habis sudah pipiku dengan dua wanita ini.


Kata Erika, wanita itu adalah si pemilik butik, sesuai dengan arahan Erika dan permintaanku, wanita itu merancang baju pengantin yang pas untukku dan Mas Damar.


Dibantu Erika, aku menuju ruang ganti, sedangkan Mas Damar diarahkannya ke kamar lain.


Ada dua orang di kamar tersebut, mereka langsung berdiri dan menunduk menyapaku. Gini, yak ternyata jadi orang kaya. Padahal dulu aku yang nunduk waktu pelanggan datang, sekarang ganti posisi.


"Selamat pagi, Nyonya. Kami akan membantu nyonya berganti baju," dua wanita itu mendekat, mereka tiba-tiba saja melepaskan switer yang aku pakai.


"Eh, Mbak, saya bisa ganti sendiri"," ujarku seraya berusaha menghindar.


Serem nih mbak-mbak, cantik-cantik belok semua. Duh, Mas Damar aku masih doyan terongmu, apa kamu rela sarangmu nanti lecet gara-gara mereka ini, tolong aku, Mas.


"Nyonya, tolong diamlah, kami tidak bisa bekerja kalau anda menghindar terus seperti ini."


"Tapi saya bisa sendiri, Mbak."


Erika muncul, mungkin karena mendengar suara ribut-ribut.


"Ada apa ini?" tanyanya seraya melihatku dan kedua wanita itu.


"Kami hanya mau membantunya berganti baju, tapi dia terus saja menghindar," jelas salah satu dari mereka.


Erika menatapku, kemudian mendekat padaku.


"Ras, mereka hanya membantu, percayalah, tidak akan terjadi apa-apa. Kamu pasti kesulitan memakai baju itu sendiri."


Aku melihat Erika, wanita itu mengangguk meyakinkan. hingga Akhirnya dengan sangat terpaksa aku pun setuju.


Aku hanya bisa pasrah saat tubuhku di grepe-grepe dua wanita itu. Andai saja ini Mas Damar, aku pasti sudah dengan pasrah mengikhlaskan. Ini malah Mahkluk yang sama-sama punya lubang kayak aku.


Setengah jam berlalu, aku berdiri takjub di depan kaca. Baju ini sungguh sangat indah, membuatku yang pada dasarnya manis semakin menarik.


Rambutku di sanggul ke atas, menunjukkan leher jenjangku. kata mbak-mbak tadi, besok saat hari H, akan ada mahkota yang bersarang di kepalaku.


Duh, Buk, besok jangan kaget kalau anakmu lebih cantik dari si Andin artis andalanmu itu.


Dua wanita itu menuntuku keluar, di luar sana, ada Mas Damar yang sudah menunggu dengan setelan jas berwarna abu.


Pandangan kami bertemu, Aku begitu takjub dengan Mas Damar. Dia memang selalu menarik, tapi kali ini ketampanannya sudah tak terbantahkan lagi. Jas yang melekat pas dibadannya makin menunjukan body mas Damar yang aduhai.

__ADS_1


Duh, bangganya aku karena setiap malam cuma aku yang bisa grepe-grepe badan sixpack itu.


Aku mendekat malu-malu kepada Mas Damar, lelaki itu masih belum melepas tatapannya sedikitpun dariku.


"Mas, ngapain ngelihat begitu? aku cantik, ya?" bisikku agar tak terdengar orang.


"Cantik, sih. Cuma aku lebih kaget sama itumu," Aku mengikuti arah mata Mas Damar.


"Kenapa?" tanyaku sembari memegang dadaku.


"Perasaan biasanya tak sebesar itu, bahkan semalam aku masih bermain-main di sana, aku tahu betul ukurannya tak segitu." Aku memukul gemas lengan Mas Damar. Bisa-bisanya dia justru memperhatikan dadaku, bukan baju pengantinku.


"Kamu tahu, mereka memaksaku memakai busa tambahan, terlalu datar katanya. Kalau dibiarin gak enak dilihat," bisikku semakin mendekat ke arah Mas Damar.


Lelaki itu terbahak, aku memukulnya lagi, mengundang tatapan aneh semua orang saja.


"Pantas saja. Aku sebenarnya lebih suka ukuranmu yang sekarang, imut dan menggemaskan. Tapi kalau kamu memang mau sebsar ini, aku dengan senang hati membantu," Mas Damar menaik turunkan alis. Mengabaikan tatapan tajamku.


Dasar suami mesum! Untung sayang.


***


Author POV


Zakki sedang memeriksa pasien saat seseorang memanggil namanya.


"Halo, dokter Zakki ganteng, apa kabar pagi ini?" Sea, gadis yang kemarin memaksanya untuk ronsen datang menyapa.


"Saya tidak sedang mengganggu, cuma sekedar menyapa saja," ujar Sea lagi.


Zakki tak memedulikan gadis itu, resep yang tadi ditulisnya diberikan kepada keluarga pasien.


"Dok, pacarnya, ya? cantik," ucap Bu Astika, pasien yang kini sedang zakii periksa.


"Bukan, Bu. Hanya gadis iseng," jawab Zakki sekenanya.


Nampaknya Sea mendengar ucapan Zakki, gadis itu mendekat, membungkuk hormat kepada Bu Astika.


"Belum jadi pacar, Bu. Masih proses doain, ya?" ucap Sea yang membuat Zakki langsung menoleh ke arahnya.


"Bu, saya permisi, semoga cepat sembuh." Usai pamit, Zakki langsung pergi dia sangat malu dengan tingkah gadis yang bahkan tidak dikenalnya itu.


"Dok, sepertinya dia naksir dokter," ucap suster yang sedari tadi menemani Zakki.


"Masih bocah. Tapi kenapa dia pakai baju pasien? dia di rawat?" tanya Zakki menoleh sejenak kepada susternya.


"Harusnya hari ini dia sudah boleh pulang, Dok. Tapi dia bersikeras untuk tinggal. Bahkan dia mengatakan kepada Dokter Arifin kalau dia kenapa-kenapa diluar nanti berarti sudah jadi tanggung jawabnya. Akhirnya dokter Arifin menyerah dan membiarkan gadis itu di rawat kembali."


"Gadis aneh," gumam Zakki.

__ADS_1


Usai melakukan tugasnya, Zakki berdiri di depan meja suster, dia berniat menunggu Reno untuk bertukar sift.


"Dokter ganteng, sudah makan belum? kalau tidak keberatan aku mau traktir dokter sebagai ucapan terima kasih," Zakki menatap Sea. Gadis itu kenapa selalu muncul di mana saja.


'Padahal dia berjalan saja setengah pincang, tapi masih sempat-sempatnya keluar hanya untuk mengajak makan' pikir Zakki


"Tidak perlu, saya sudah makan, sebaiknya kamu kembali saja ke ruanganmu biar itu kaki cepat sembuh," jawab Zakki.


"Saya pasti sembuh kalau dokter mau menerima ajakan saya," Sea tak pantang menyerah


"Saya sudah mau pulang, ini hanya menunggu dokter jaga selanjutanya." Sea memutar otak, bagaiamna lagi dia membujuk Zakki.


"Hai, bro. Maaf telat, biasa, macet." Ornag yang ditunggu pun tiba. Zakki bersukur Reno datang, paling tidak dia punya alasan untuk menghindari gadis aneh itu.


"Ya, sudah, deh, kalau gitu. Dokter ganteng terima ini saja. Biar gak minum es sembarangan." Sea menyodorkan sebotol air mineral.


Untuk kali ini, Sea memang harus mundur dulu, tapi lain kali kalau ada kesempatan, Sea tak boleh gagal.


Zakki hanya menatap botol mineral pemberian Sea tanpa berniat menerimanya. Reni sedari tadi menyenggol lengannya tanda ingin tahu.


"Dokter sudah menolak ajakan saya, jadi jangan lagi tolak minuman ini. Tenang saja, saya tak punya kenalan dukun yang bisa buat guna-guna. Tapi kalau dokter punya kenalan, boleh rekomendasikan ke aku," ucap Sea tanpa beban.


Zakki langsung menerima minuman dari Sea. Dia tak mau gadis itu makin berbicara ngawur.


Sea semringah saat Zakki menerima pemberiannya. Ternyata Zakki memang cukup sulit di taklukan. Sea tak pernah mendapatkan penolakan sebelumnya, tapi Zakki sudah membuat dia tertantang. Untung sayang.


Gadis itu melambaikan tangan lantas berlalu dari sana.


"Ada cinlok, nih?" goda Reno menyenggol Zakki.


"Cinlok apaan? Dia gadis aneh."


"Tapi dia naksir kamu, tuh sampai dikasih air minum."


"Apa istimewanya? Dulu, waktu SD ayah juga sering membawakan air seperti ini buat bekal sekolah. Terus itu Pak Sardi, juga tiap hari bikinin minum, kopi malahan. Apa itu pertanda dia naksir aku?" ucap Zakki seraya meninggalkan Reno.


Reno menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa, sejak ditinggal menikah cinta pertamanya, Zakki lebih menutup diiri. Bahkan cenderung selalu antipasi jika ada wanita mendekat.


Cinta, dari dulu deritanya memang tiada akhir.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



Hai-hai, itu bukan visual Saras dan Damar, yakk. Entah kenapa aku naksir aja sama baju pengantinnya, cakep euy.


Maafkan aku ganti pov lagi, ya? Aku kehilangan kesomplakan Saras kalau pakai PoV 3, jadi khusus Dasar, aku tetep pakai PoV Saras, ya.


Jangan lupa like, coment dan vote, yakk. Seikhlasnya kalian aja deh, sapa tau kalau minta seikhlasnya malah dapat banyak🤣🤣

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘


__ADS_2