
Sea menghembuskan napas pasrah melihat hasil ujian yang ada di tangannya. Pupuslah sudah harapannya untuk menikah muda.
Jika kalian pikir Sea pasti akan mendapat nilai sempurna dan akhirnya bisa menikah muda segampng itu, kalian salah! Ini bukan cerita film FTV apalagi sinteron ikan terbang yang semunya bisa terjadi secara kebetulan.
Sea memang sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan nilai sempurna, tapi kenyataannya? Kapasitas otaknya memang hanya seperti ini. Belum lagi jurusan yang dia ambil membuat otaknya bekerja secara ekstra. Untuk pertama kalinya, Sea menyesali keputusannnya untuk masuk ke fakultas hukum.
“Jangan diplototin terus, gak bakal berubah itu angka-angka di sana.”
Sea mendengkus mendengar ucapan Zakki. Ya, saat ini dia memnag sedang berada di unit Zakki. Dibandingkan Sea, Zakki yang lebih antusias menunggu hasil ujian gadis tersebut. Namun, saat hasil sudah keluar, lelaki itu justru tak merespon apa-apa. Bahkan dengan santainya memilih membuat susu cokelat dingin untuknya sendiri.
“Kamu pasti seneng kan nilai-nilaiku begini? Jadi, gak punya tanggungan buat menuhin janji sama aku,” omel Sea sembari menatap sebal ke arah Zakki yang masih berdiri di pantry.
Zakki mengangkat kedua alisnya. “Belajar jadi dukun di mana? Kok bisa baca pikiran orang?” ledek Zakki yang makin membuat Sea makin sebal saja.
“Tuh, kan! Padahal aku udah bayangin setelah ini kita menikah. Aku bahkan udah nentuin kalau kita bakal nikah out dor aja. Di taman atau di pantai kayak Raffi Ahmad begitu. Ah ... sebel! Sebel! Sebel!”
Sea memukul-mukul sofa yang dia pakai sebagai sandaran. Gadis itu benar-benar kesal. Sudah terlalu banyak mimpi yang ingin dia wujudkan. Namun, sekarang semua gagal total.
Zakki hanya memerhatikan Sea dengan sebuah senyuman tipis. Pemuda itu menggelengkan kepala berkali-kali melihat kelakuan kekasihnya itu. Zakki sedikit heran apa yang sebenarnya membuat Sea benar-benar ingin menikah muda? Padahal gadis seusianya banyak yang ingin menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.
“Emang kamu pikir nikah kayak Raffi Ahmad gak mahal? Sayang banget tahu uangnya,” ucap Zakki sembari berjalan mendekat ke arah Sea.
Pemuda itu mengambil tempat duduk di sofa, tepat di samping atas Sea.
Sea mendongak, menatap sebal ke arah Zakki. “Nikah itu sekali seumur hidup. Sesekali menciptakan kenangan terbaik kan bukan masalah. Ya, biarpun harus mahalan sedikit.”
“Sayang uangnya. Dari pada dipakai buat nikah semewah itu, mendingan buat beli rumah. Lebih terjamin untuk masa depan kamu dan anak-anakku kelak.”
__ADS_1
“Kamu gak perlu ngeluarin duit. Aku bakal minta semua sama Papa. Biar papa yang penuhi semua nikahan kita, bila perlu aku juga bakalan minta papa beli rumah buat kita.” Sea memiringkan tubuhnya, mendongak menatap Zakki yang juga sedang menatapnya.
Sebuah jentikan pelan mendarat di dahi Sea. Senyum gadis itu langsung memudar, berganti dengan kerucutan bibir dan dengkusan.
“Kamu pikir aku lelaki apaan, hah? Belum apa-apa aja aku udah menggantungkan hidup ke papa kamu, lalu apa tanggapan beliau tentang aku, hah? Kamu mau beliau gak restuin hubungan kita karena permintaan konyol kamu itu?”
“Apa yang salah?” papa pasti setuju kok. Aku ini putrinya, mama dan papa juga sudah suka sama kamu, jadi mustahil mereka keberatan.”
Zakki meletakkan gelasnya di atas meja. Lelaki itu turun ke bawah, ,mensejajarkan tubuhnya dengan Sea.
“Tapi aku akan lebih bangga jika semua itu akau lakukan dengan jerih payaku sendiri. Gak ada harga dirinya banget aku di depan orang tua kamu kalau sampai setuju dengan usulmu itu. bagiku lebih baik kita hidup sederhana asal bahagia daripada hidup mewah tapi orang melihatku hidup di bawah ketiak mertua. Malu-maluin banget!”
“Tapi kalau minta rumah aja boleh, ya?” Sea menaik-turunkan alis, lagi-lagi merayu Zakki denagn sebuah senyuman manis.
“Gak ada! Emang kamu gak mau tinggal di apartemen ini bareng aku? Atau jika suatu saat aku beli rumah dah hanya mampu di komplek perumahan sederhana juga gak mau?” pertanyaan Zakki langsung membuat Sea menggeleng keras.
Gadis itu hampr saja merebahkan kepalanya di bahu Zakki, tapi pemuda itu langsung mendorong kembali kepala Sea untuk menjuah. Lagi-lagi Sea hanya bisa mendengkus tanpa bisa berbuat lebih.
“Ya sudah. Kubur ide konyolmu itu dalam-dalam. Aku mau semua yang aku nlakuin untuk keluargaku nanti itu murni hasil kerja kerasku. Aku mau jadi contoh buat anak-anakku kelak, asal mau kerja keras apa pun yang mereka mau pasti terwujud.” Lanjut Zakki smebari melanjutkan minum susu coklatnya.
“Terus maksudnya nikah di KUA aja gitu? Ogah banget. Nikah itu impian para gadis, kapan lagi mereka bisa jadi ratu sehari kayak gitu.”
“Mau nikah di mana saja kan gak masalah. Yang penting sah di mata agama dan negara. Dan yang lebih penting lagi kan nikahnya sama aku. Kalau kamu gak mau, ya udah nikah ajaa sama yang lain.”
Sea mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di angkatnya kedua tangan yang masih terkepal itu tepat di depan Zakki. Tak hanya tangannya yang dia remas, mulut Sea pun komat-kamit tak terima. Andai saja bukan Zakki di depannya itu, sudah pasti Sea menghajarnya habis-habisan. Berhubung itu Zakki, Sea mana tega. Aset berharganya untuk masa depan itu.
Zakki yang memandang tingkah Sea itu hanya menaikkan sebelah alisnya. Sama sekali tak peduli dengan penolakan, Protesan apa lagi muka menyebalkan Sea.
__ADS_1
“Oke deal. Berarti kita jadi nikah tahun ini, ya?” Sea mengulurkan tangan, berniat menjabat tangan Zakki tanda setuju.
Zakki menepis tangan Sea begitu saja. “Gak ada! Benerin dulu nilai-nilai kamu!” usai berkata demikian, Zakki bangkit dari tempatnya dan berlalu menuju kamar.
“Mau diperbaiki gimana? Ini memang gak terlalu sempurna, tapi kan gak masuk dalam daftar remidian juga. Masa iya aku perbaiki di nilai ujian selanjutnya? Makin lama dong?”
Teriakan dan omelan Sea tak berdampak apa-apa. Karena nyatanya di kamar zakki justru sudah terbang ke alam mimpi.
\=\=\=\=\=\=BIBIT UNGGUL MAS DUDA\=\=\=\=\=\=
^^^ Frozen Man Sayang^^^
^^^ Ada buku jurnalku ketinggalan di roftop ^^^
^^^tadi pagi. Tolong ambilin dan simpenin, ya?^^^
Sea menatap sebal pada pesan yang Sea kirimkan padanya. Bisa-bisanya lelaki itu tega menyuruhnya datang ke roftop apartemen malam-malam begini. Lagian sejak kapan pacarnya itu bermain di tempat setinggi itu? jangankan naik ke roftop, bersantai di teras kamarnya aja amatlah jarang lelaki itu lakukan. Aneh.
Sea masih setia menunggu lift membawanya ke puncak tertinggi apartemen yang mereka tinggali itu. Demi sang pujaan hati, Sea dengan terpaksa menuruti permintaan lelakinya itu. lagi pula, jika di ingat-ingat selama ini Zakki hampir tak pernah meminta tolong apapaun. Justru Sea yang terus-terusan menganggunya. Bahkan bisa dibilang gadis itu mulai ketergantungan terhadap zakki.
Pintu lift terbuka. Sea buru-buru keluar besi kotak tersebut. Hawa dingin dan tempat sepi langsung menyambut Sea, padahal gadis itu belum benar-benar sampai di roftop.
Sea mempercepat langkahnya menaiki tangga hingga akhirnya dia sekarang ebnar-benar sampaoi di roftop.
“Kenapa gelap benget bagini? Gak ada lampu lagi emang? Awas aja kalau besok-besok nyuruh ke sini lagi, gak bakal mau aku. Untung sayang, kalau gak mana sudi.”
Demi menghalau rasa takutnya, Sea mengomel sendiri. Gadis itu berjalaan menuju meja yang Zakki maksud. Sea mengerutkan alisnya saat tiba di meja tersebut. Di samping buku jurnal ada sebuah benda aneh yang membuat Sea sedikit penasaran dan waspada.
__ADS_1
“Apa ini?”