Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Apa kabar, Sayang?


__ADS_3

"Kami terserah Saras saja, Nak Zakki. Semua keputusan kami serahkan padanya, tapi ada satu hal yang belum kamu ketahui, nanti biar Saras yang akan menjelaskan," ucap Ibu yang membuatku nelangsa saja.


Ah, kenapa jadi serumit ini? Bagaimana bisa aku menjelaskan kepada Zakki tentang lamaran Pakliknya? Bagaimana juga aku bisa bicara jujur soal hubunganku dengan Mas Damar?


Aku mencintai Mas Damar, tapi akankah dia bisa menerima keluargaku sebaik Zakki? Aku juga menyukai Zakki, tapi hanya perasaan suka terhadap teman, karena hatiku sudah berlabuh kepada Mas Damar.


Mas kamu dimana? tak bisakah kamu bantu aku keluar dari kemelut ini?


"Ratu, apa jawabanmu?" tanya Zakki yang membuyarkan lamunanku.


Aku memandang ke arahnya, kemudian beralih memandang bapak dan ibu yang sepertinya juga menunggu jawabanku. Ada sebuah guratan kebahagian di mata mereka. Ah, andai saja hati ini tak terlanjur termiliki, tentunya aku akan menjawab iya dengan lantang, Zakk.


Melihat kedua orang tuaku yang menaruh harapan padamu, ingin rasanya aku musnakan semua dan memenuhi harapan mereka. Namun apalah daya, aku tetap saja wanita yang lemah jika dihadapkan dengan dilema sedemikian besar.


"A--Aku, aku butuh waktu, Zakk," jawabku sedikit tergagap.


Zakki tersenyum, tak kulihat ada kekecewaan di matanya.


"Aku akan menunggu, Ratu. Aku tahu ini terlalu mendadak dan mengejutkan. Aku hanya ingin membuktikan kepadamu bahwa aku serius, dan keseriusan ini aku bawa ke hadapan orangtuamu."


Ras, ingat Mas Damar, Ras, Ingat! jangan luluh! jangan luluh!


Sejujurnya, wanita mana yang tak melayang di perlakukan semanis itu? Zakki datang dengan sebuah kepastian dan kesanggupan. Dia bahkan memilih meminta ijin orang tuaku dulu ketimbang mempertanyakan perasaanku padanya. Adilkah jika sikap ini aku bandingkan dengan Mas Damar?


"Hei, kenapa bengong? Jangan jadikan ini beban, jawablah kapan pun kamu siap, Ratu."


Entah kapan lelaki itu pindah posisi, tiba-tiba saja dia sudah berdiri di sampingku. Aku hanya tersenyum kaku menanggapi ucapannya.


"Ya, Sudah, Ras, mana makanan bapak, bapak sudah laper itu," pinta ibu yang membuatku langsung mengangguk.


Kuberikan satu rantang makanan kepada ibu.


"Loh, Ras. Ini kok ada sambelnya? bapak belum boleh makan pedas," protes ibu yang langsung membuatku manarik kembali rantangnya.


"Ngapunten, Bu. Saras salah ambil," jawabku sembari menyerahkan rantang yang lain kepada ibu.


Entah kenapa mendadak aku menjadi salah tingkah sendiri. Lamaran mendadak Zakki benar-benar merusak konsentrasiku.


"Bu, Saras pulang, ya? gerah pingin mandi."


"Loh, itu makanan kamu belum di makan?" tanya ibu sembari menunjuk bungkusan yang tadi dibeli Zakki.


"Nanti saja, Bu. Tak maem di rumah."

__ADS_1


"Yawes, Ras. Ayo tak antar," tawar Zakki.


Belum sempat aku menjawab, pintu kamar terbuka. seorang suster masuk dan menyerahkan selembar kertas padaku.


"Mbak, ini ada resep yang harus di tebus. Tolong di tebus sekarang, ya? biar nanti bisa disuntikkan waktu kunjungan dokter," jelas suster itu yang aku angguki.


"Zakk, bantuin ambil resep aja gimana? aku pulang sendiri aja, gak papa," pintaku kepada Zakki.


"Aku ambil resep, kamu tunggin di sini nanti kita pulang bareng."


"Kamu katanya mau bujukin dokternya biat bapak pulang cepet? Wes gak papa, aku pulang sendiri. Titip Ibu dan bapak, ya?" Tak menunggu jawaban Zakki aku lantas pamit kepada Bapak ibu.


Zakki hanya melongo melihat kepergiaanku. Maaf, Zak. Bukan maksud menolak, aku hanya butuh waktu sendiri. Semua serba mendadak, aku belum siap dengan jawaban apapun.


Aku menyetop angkot yang lewat, butuh waktu dua puluh menit untukku sampai di depan desa. Masih ada beberapa meter lagi yang ditempuh untuk sampai di depan rumah, biasanya aku akan menggunakan ojek, tapi sekarang aku ingin berjalan kaki saja. Setidaknya aku bisa sambil berpikir.


Aku memekik kaget saat sebuah mobil menghadang jalanku. Fortuner silver, aku mengenali mobil ini. Tapi mungkinkah dia?


Tepat seperti dugaan, Mas Damar turun dari mobil. Aku yang masih kaget hanya berdiam diri di tempat.


Lelaki itu mendekat, dia menarikku dalam pelukannya. Aku masih terdiam, jujur masih belum percaya jika ini nyata.


"Maaf, Maaf aku tak ada saat kamu butuh," ucapnya tanpa melepas pelukan.


Mendengar suara itu, kesadaranku kembali. Kubalas pelukan lelaki itu, mencari damai yang beberapa hari tak kutemui. Aroma tubuh yang menjadi candu seakan menjadi penenang tersendiri akan pikiran kalut yang beberapa waktu lalu terjadi.


Kedua tangannya masih memegang bahuku, dia memindaiku dari atas hingga bawah. Aku melepas pegangan tanganku di bahunya.


Kupukul lengannya dengan kencang, dia mengaduh, entah sakit entah kaget, aku tak peduli.


"Kenapa dipukul?" rajuknya sembari mengelus-elus bekas pukulanku.


"Mas Damar kemana aja? kenapa gak bisa dihubungi? gak kasih kabar, gak apa. Aku bahkan sampai telepon Arin, tapi katanya Mas Damar juga gak kasih kabar," Lelaki itu terkikik.


"Khawatir?" tanyanya dengan senyum mengembang.


"Masih tanya?" jawabku sengit.


Apa dia gak mikir pertanyaan apa yang dia lontarkan? bisa-bisanya dia masih enteng menjawab, dengan ketawa pula.


"Maaf, Maaf, Sayang. Handphoneku kecopetan di bandara. Tadinya aku niat buat beli lagi, tapi gak sempat. Kerjaanku banyak banget."


Aduuh ... dipanggil sayang begini, hilang sudah amarah dedek, Bang.

__ADS_1


"Terus, kenapa sampai lima hari? bukannya bilang cuma dua hari?" jawabku tetap dengan muka ketus. Sekali-kali biarkan aku yang jadi kanebo kering, biar tahu rasa itu laki.


"Semua di luar prediksi, Sayang. Ada masalah besar di proyek, mau tak mau aku harus selesaikan dulu. Kemarin aku menyempatkan telepon rumah, kangen sama kamu, tapi kata Mbak Indri kamunpulang kampung, bapak kamu sakit, Aku langsung pesan tiket dan pulang. Tadi jam dua belas aku sampai bandara, aku langsung ke sini."


Aih ... aih, manis banget pacar aku ini, bela-belain langsung pulang saat dengar aku pulang kampung. Ternyata dia tak sedingin kulkas.


"Jangan marah lagi, ya?" bujuknya dengan menempelkan kedua tangannya di pipiku.


Kalau gini, sih, mana bisa marah, Babang. Yang ada hati adek terpotek-potek ini.


Aku mengangguk, memberikan senyuman terbaik untuknya.


"Mas, tapi maaf aku pulang ke sini bareng Zakki," ucapku jujur.


Mungkin lebih baik aku berterus terang lebih dulu daripada ketahuan. Aku masih ingat betul saat terakhir kali dia cemburu. Aku sih seneng-seneng aja di kurung di kamar, tapi kalau dikurungnya di rumah sini? Bisa di obrak-abrik sama Ibu bapak aku.


"Gak papa. Akan lebih baik kamu pulang dengannya daripada naik bis sendiri malam-malam," ucap Mas Damar dengan senyum. Lega rasanya ternyata lelaki ini menerim dengan baik keputusanku kemarin.


"Mas Damar gak cemburu?" pancingku dengan senyum jahil.


Lelaki itu tertawa, menoel ujung hidungku.


"Seneng banget, sih dicemburuin, mau dikurung lagi? hah?" bisiknya dengan mendekatkan wajah.


Aku tersenyum nyengir menanggapi ucapannya.


"Kan cuma ngetes aja, Mas," jawabku sok polos.


"Untuk kali ini, aku justru berterima kasih padanya, tapi lain kali tak akan kubiarkan lagi." tegasnya yang aku angguki.


"Ya, sudah, ayo nenggokin bapak!" ajak Mas Damar yang membuatku tersadar.


Duh Gusti, bagaimana ini? Di rumah sakit ada Zakki, Dan bagaimana tanggapan ibu bapak jika tiba-tiba ada Mas Damar datang? bagaimana aku menjelaskan juga tentang lamaran Zakki?


Terima kasih, Gusti. Cobaanmu kali ini berhasil membuatku tak berkutik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cie ...cie, Tim Damar yang lagi seneng sang pangeran datang, pasti lagi senyum-senyum tuh dipojokan, batakonya sudah habis? ganti nyemilin sandal gih, lumayan awet juga😂😂 becanda, yee.


Sekarang gak cuma Saras euy, aku sendiri juga bingung, mau dibawa kemana hubungan segi tak beraturan ini?😅😅


Sekarang aku kasih double up, tapi kalau tiba-tiba aku hilang, jangan nyariin yak, aku lagi semedi nyari Bang Edi dan Bang Ilham😅

__ADS_1


Ojok lali Vote, yo, Rek😅


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2