Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Curhat?


__ADS_3

Bab 17


Curhat


"Dia bukan pembantu, dia yang jagain anakku kalau aku kerja," ucap Mas Damar mengoreksi ucapan si mak lampir.


"Ouw ... baby sitter? Sama aja, kan? Pembantu juga?" jawabnya lagi tetap dengan tatapan mengejek. "Ya, sudahlah, gak penting. Eh by the way, lama gak ketemu, kamu gak mau gitu ngajakin aku makan sekalian di sini?" lanjutnya hendak mengambil kursi di sampingku.


"Maaf, ya, Rin. Bukannya gak boleh, cuma kebetulan kami lagi nungguin orang juga, kursinya juga pas, jadi lebih baik kamu cari meja lain," jawab Mas Damar dengan memandang wanita itu sekilas.


Yes, pingin rasanya ngakak pas lihat ekspresi mak lampir itu ditolak mentah-mentah oleh Mas Damar. Muka yang sebelummya merah karena blush on, makin merah saja karena menahan amarah. Tanpa pamit wanita itu lantas pergi begitu saja. Syukurin! Dasar mak lampir lambe turah!


"Maaf, ya, Ras. Dia dari dulu memang begitu, seneng banget ngerendahin orang," ujar Mas Damar sembari melahap makanannya.


"Gak papa, Mas. Saya sudah biasa digituin. Eh, tapi memang Mas Damar beneran ngajak orang lain lagi?"


"Enggak. Sengaja aja bohong biar dia gak ikut nimbrung di sini. Eh kamu gak bisa makan, ya? Sini langit biat aku gendong," lanjut lelaki berhidung mancung itu seraya hendak mengambil Langit dari gendonganku.


"Eh, gak usah, Mas. Biar aku gendong aja. Mas makan aja dulu, katanya tadi lapar."


"Oke, bener, ya, gak papa?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan. "Mungkin kalau almarhumah istriku masih hidup, dia bakal kayak kamu, mendahulukan kepentinganku dari pada dirinya sendiri," celoteh Mas Damar dengan tetap melahap makanannya.

__ADS_1


"Maaf, kalau boleh tau istri Mas Damar meninggal kenapa?"


"Dia meninggal waktu melahirkan Langit. Waktu itu Dia terjadi pendarahan hebat, padahal aku sudah menyiapkan rumah sakit dan dokter hebat untuknya. Dari situ aku paham, uang dan kekuasaan tak akan pernah bisa membeli takdir yang maha kuasa." Aku mengangguk mendengar penjelasannya. Melihat ekspresi Mas Damar yang bersedih, jadi pingin menjemin bahu buat dia bersandar.


"Dia satu-satunya wanita yang tahu perjuanganku. Kami berpacaran sejak jaman SMA, dia tahu bagaimana jungkir baliknya aku buat mencapai semua ini. Dia juga bersedia menunggu tanpa sedikitpun berpaling." Mas Damar menghela napas sejenak. Matanya sedikit berkaca-kaca, mungkin dia merindukan istrinya itu.


"Lebih dari delapan tahun kami berpacaran, sikapku yang egois selalu dia imbangi dengan sikap lemah lembutnya. Hingga setahun yang lalu, kami meresmikan hubungan. Sebulan setelah menikah, dia langsung hamil. Kebahagiaanku sempurna saat itu, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain," urai Mas Damar mengakhiri ceritanya. Aku hanya bisa diam mendengarkan, karena aku tahu saat ini dia hanya butuh teman untuk mendengar keluh kesahnya.


"Ah, maafkan. Aku sampai lupa kamu belum makan." Tangisan Langit sepertinya membuyarkan lamunan Mas Damar. Lelaki itu bangkit dan mengambil Langit dariku.


"Tak apa, Mas. Aku tak keberatan jika kamu butuh teman untuk berbagi," ucapku saat Mas Damar kembali duduk di kursinya.


"Hei, jangan melamun, Ras. Makanlah," ujar Mas Damar seraya mengibas-kibaskan tangannya di depanku. Aku tersenyum kikuk, malu rasanya ketahuan sedang melamun, apalagi kalau lelaki itu tahu aku melamunkannya.


Aku mulai melahap makanan lezat yang telah dihidangkan. Benar-benar hari penuh keberuntungan, jangankan bisa makan masakan Itali, memimpikannya saja aku tak pernah berani. Kunikmati dengan seksama setiap makanan yang ada, karena aku tak tahu kapan lagi bisa menikmati masakan seperti ini. Mas Damar pun sedang asyik bergurau dengan Langit, sepertinya dia memang memberiku waktu untuk menikmati makanan.


Butuh beberapa saat saja untukku menghabiskan semua makanan. Ada sekitar empat jenis makanan yang terhidang, Mas Damar hanya menghabiskan satu piring saja, sisanya? Tentu saja aku. Semoga saja lelaki itu tak ilfiil kepadaku.


"Mbak, ini tolong totalin, sekalian bungkusin spageti satu lagi," jelas Mas Damar pada seorang pelayan. Lah tapi kok pakai dibungkus? Jangan-jangan sebenarnya tadi dia masih lapar tapi sudah keburu aku habisin semua makanannya. Duh ... Saras. Mangkanya jadi cewek jangan rakus, malu-maluin!


"Ras, ini nanti aku bungkusin buat Dini, kamu kasih sekalian, ya?" Oalah buat Dini, syukur deh berarti aku salah sangka.

__ADS_1


"Oh, iya, Mas. Tapi repot-repot banget Dini pakai dibungkusin," ucapku sok basa-basi.


"Gak papa, aku tahu kalian berdua soulmate, nanti kalau kamu cerita habis makam di sini, terus dia ngiler? Kan kasihan," jawabnya dengan tertawa. Aku pun ikut tertawa mendengarnya. Lucu juga ini sugar dady, jadi pingin ngunyah.


"Issh ... Mas Damar bisa saja. Namun, memang gitu sih, nasib anak kos, kagak bakal makan enak kalau gak tanggal muda atau nunggu ditraktir," tambahku yang lagi-lagi membuatnya tertawa.


Makanan yang telah dipesan sebelumnya telah siap, kami pun beranjak pulang. Diperjalanan, tak banyak yang kami bicarakan, selain karena Langit yang sedang tertidur anteng dipangkuanku, mataku pun mulai tak bisa diajak kompromi. Penyakit lama, ngantuk setelah kenyang.


"Ras, besok pagi kamu mulai ke rumah, ya? Urusan kamu dengan Pak Jefri udah aku kelarin, gaji terakhirmu akan segera ditransfer," jelas Mas Damar saat sudah sampai di depan indekos.


Aku mengangguk menjawab ucapannya. Kuserahkan Langit kembali kepada ayahnya. Sebelumnya, Mas Damar telah meminta sopir untuk menyusulnya ke restoran, karena tak mungkin baginya mengemudi sendiri dengan membawa Langit. Seenak itu jadi orang kaya, butuh pembantu? tinggal cari, butuh sopir? tinggal telepon, butuh jodoh? Aku datang.


Mobil Mas Damar telah berlalu, aku sendiri memilih untuk langsung merebahkan diri di kamar. Jarum jam masih mengarah ke angka delapan, Dini pasti belum pulang. Kuambil spagetti yang Mas Damar belikan untuk Dini, kuambil gambar dan segera kukirimkan pada Dini.


Benar saja, tak perlu menunggu lama gadis itu langsung membalas dengan emot ngiler. Sengaja pesan darinya hanya kubuka tanpa berniat membalas. Bisa terbayang bagaimana sebalnya dia.


****


Waktu menunjukkan pukul enam pagi, sengaja setelah Subuh tadi aku memilih untuk tidak tidur lagi, takut kesiangan. Kemarin, aku lupa bertanya pada Mas Damar harus jam berapa kerumahnya, jadi kuputuskan berangkat lebih pagi untuk mencegah segala kemungkinan.


Berbekal kartu nama yang Mas Damar berikan tempo hari, aku bersiap untuk menuju rumahnya. Semoga tidak tersesat dan semoga saja ini akan menjadi awal yang baik untuk hidupku. Bismillah ....

__ADS_1


__ADS_2