
Bibit Unggul Mas Duda
part 65
"Terus, keadaan Bapak pripun, Bu?" tanyaku sembari menahan isak.
"Bapak belum sadar sampai sekarang. Pulang, ya, Nduk. Kasihan adikmu sendirian di rumah, sengaja gak ibu bawah ke rumah sakit," pinta Ibu dengan suara serak. Sepertinya wanitaku itu sudah menangis seharian.
"Njih, Bu. Saras pulang. Saras pulang langsung sekarang. Ibu tenang, nggeh. Semua pasti baik-baik saja. Saras mau siap-siap, pun nggeh. Assalammualaikum." Ibu menjawab salam dari seberang sana.
Aku melakukan salat isya dengan segera, tak lupa doa kupanjatkan untuk keselamatan bapak. Setelah melepas mukenah, aku bergegas menuju lemari.
Kupacking baju-bajuku ke dalam tas ransel, tak banyak yang kubuka, karena di rumah masih ada beberapa bajuku yang tersisa. Setelah semua siap, kini gantian aku harus meminta ijin kepada Mas Damar, bagaimanapun dia masih atasanku.
Handphone Mas Damar tak aktif, sepertinya dia sudah di dalam pesawat. Aku tak bisa menunggu lagi, nanti setelah aku sampai rumah biar kuhubungi lagi. Mas Damar pasti mengerti.
Usai berganti pakaian, aku menuju kamar Langit. Arin terlihat sedang melipat baju-baju Langit.
"Ras, mau kemana? kok bawa ransel?" tanya Arin saat aku masuk ke dalam.
"Aku mau pulang, Rin. Bapak masuk rumah sakit. Aku titip Langit, ya?"
"Innalillahi, kamu yang sabar, ya, Ras. Bapak pasti segera sembuh." Arin mendekat ke arahku, memberi sedikit elusan di lengan.
"Iya. Terima kasih."
"Kamu pulang sama siapa? Pak Damar sudah tahu?"
"Mas Damar tidak bisa dihubungi, mungkin sedang dalam pesawat. Aku pulang sendiri, tak apa sudah biasa." Ari mengangguk mengerti.
"Aku pulang dulu, ya, Rin. Sampaikan salamku kepada yang lain, aku tak bisa pamit satu-satu, terlalu lama," lanjutku lagi.
Arin lagi-lagi mengangguk. Dia memelukku sekali sebelum akhirnya aku keluar kamar. Aku menuruni tangga tanpa siapapun tahu, di depan pintu gerbang, terlihat salah satu satpam masih terjaga.
"Mbak Saras mau kemana malam-malam begini?" tanyanya menghampiriku.
"Mau pulang, Pak. Barusan dapat kabar dari kampung, bapakku masuk rumah sakit."
"Loalah, Mbak. Yang sabar, ya? semoga bapaknya cepat sembuh. ini Mbak Saras pulang sama siapa?"
__ADS_1
"Sendiri, Pak. Ini sudah pesan ojek online buat ke terminal," jelasku yang membuat bapak itu mengangguk.
"Yawes hati-hati, ya, Mbak. Semoga selamat sampai tujuan, saya bukain gerbang dulu." Lelaki itu lantas mengambil kunci gerbang di dalam pos.
Saat baru saja keluar gerbang, sebuah mobil sport merah berhenti tepat di depanku. Mataku menyipit, seperti mengenali mobil itu.
Benar saja, terlihat Zakki keluar dari mobil tersebut.
"Ras, Mau pulang, kan? ayo aku antar!" ajaknya yang membuatku kaget.
"Kamu tahu?"
"Paklik sudah cerita. aku yakin kamu akan langsung pulang saat mendengar kabar, mangkanya aku kemari. Ayo cepat naik!" perintahnya sekali lagi.
"Tapi, Zak. kerjaanmu gimana? aku bisa pulang sendiri."
"Itu bisa kuatur nanti. Sudah jangan berdebat terus, kamu gak mau sampai sana dengan cepat?"
Aku berpikir sejenak, benar juga, saat ini keadaan bapak jauh lebih penting. Aku mengangguk cepat, Zakki langsung masuk ke dalam mobil.
"Pak, aku berangkat dulu, ya?" pamitku kepada pak satpam yang sedari tadi masih menungguku.
Zakki menyalakan mobilnya, bersiap membelah jalanan malam menuju madiun.
"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. Menurut Paklik, bapak hanya terpeleset, untungnya saja tak jatuh ke sawah dan segera tertolong," urai Zakki yang tanpa sadar membuat airmataku menetes lagi.
"Terima kasih, Zak. Bantuau sangat berarti buatku." Zakki mengangguk, dan kini mulai kembali fokus pada jalanan.
Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa diam, memikirkan nasib bapak yang semoga saja benar baik-baik saja. Zakki sesekali menyuruhku tidur, tapi bagaimana aku bisa terlelap jika ibu sedang sendirian di sana menunggu bapak?
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kami sudah sampai Madiun, Zakki sengaja lewat tol, biar cepat sampai katanya. Zakki mengajak langsung ke rumah sakit, dia paham aku tak akan tenang jika belum melihat keadaan bapak.
Kami berada di parkiran rumah sakit tempat bapak di rawat. Aku sendiri belum sempat bertanya kepada ibi dimana bapak dirawat, tapi Zakki sudah langsung tahu. Beruntung aku bersamanya tadi, kalau tidak mungkin aku masih di dalam bis hingga sekarang.
Zakki mengandengku masuk ke dalam rumah sakit, aku hanya pasrah saja, pikiranku sudah sangat tak menentu.
Dari jauh, kulihat ibu sedang duduk sendiri didepan ruang IGD. Wanita itu menunduk, bahunya sesekali berguncang, ibu sedang menangis.
"Ibuk," panggilku saat sudah di depannya. Ibu menoleh, sedikit terkejut saat melihatku.
__ADS_1
"Saras," ucapnya seraya bangkit.
Aku menarik ibu dalam pelukan, terdengar ibu langsung menangis histeris, sepertinya sedari tadi beliau butuh tempat bersandar. Airmataku luruh juga, kami sama-sama menangis dalam pelukan.
"Ibu, bapak pripun? sudah ada kabar?" tanyaku melepas pelukan.
"Bapak belum sadar, Ras. Tadi ibu bawa bapak ke klinik, tapi di sana menolak, bapak butuh perawatan lebih intensif," jelas Ibu yang membuatku manggut-manggut.
Aku menarik ibu untuk duduk. "Bapak boleh dijenguk, buk?" tanyaku.
"Belum boleh, Ras. Bapak harus istirahat total dulu." Aku mengangguk.
"Buk." Zakki mendekat, mencium tangan ibu lalu mengambil tempat duduk di sisi kirinya.
"Zakki?" tanya ibu memastikkan.
"Nggeh, Bu."
"Kok bisa bareng Saras?"
"Tadi Zakki yang antar Saras kemari, Bu," jelasku yang membuat ibu kembali menoleh ke Zakki.
"Makasih, ya, Nak. Kamu dan Paklikmu sudah sangat membantu."
"Njiih, Bu. Bapak pasti baik-baik saja, jenengan sabar nggih," ucap Zakki penuh ketulusan. Ibu mengangguk, tersenyum menanggapi ucapan Zakki.
"Ibu pun maem? Zakki belikan makan, nggih?" tawar Zakki yang mendapat gelengan ibu.
"Ndak usah. Ibu gak bisa makan, masih kepikiran bapak."
"Ibu harus makan, kalau ndak makan nanti ibu sakit. Sapa yang bakal jagain bapak nanti? bapak butuh ibu, ibu harus kuat agar bapak juga ikutan kuat," bujuk Zakki yang akhirnya diangguki oleh ibu.
Diam-diam, aku hanya bisa tersenyum tipis. Senang rasanya Zakki bisa membujuk ibu seperti itu. Andai saja Mas Damar yang di sini, akankah dia juga melakukan hal yang sama?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halooo ... kita masuk part sedih-sedih dulu, ya, Guys. Tapi doain juga, biar bapaknya Saras cepat sembuh dan Saras bisa balik ke Surabaya.
Eh, tapi, sekali lagi, ya? Cerita ini belum selesai, jadi segala kemungkinan masih bisa terjadi, jadi jangan keburu emosi dulu, yak😅😅😅
__ADS_1
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘😘