Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Sabiru dan Jingga


__ADS_3

“Kembar? Bukannya dulu katanya Cuma satu? Itu pun hanya perempuan, kan?”


Damar tak langsung menjawab pertanyaan Zakki. Lelaki itu mengambil temapt duduk di samping ruang tunggu. Sea dan Zakky langsung mengikuti.


“Bayi kembar kami baru terdeteksi saat kandungan Saras menuju tujuh bulan. Merasa sehat, dia jarang banget mau diajak ke rumah sakit. Memang dia sangat sehat, karena yang tiap hari mengalami morning sicknes itu aku. Terkadang dengan sangat terpaksa aku memanggil dokter kandungan ke rumah untuk meriksa keadaanya. Ya, karena gak mungkin USG di rumah, akhirnya kami hanya melakukan pemeriksaan biasa.”


Damar menghela napas, menetralkan napasnya dari kejadian di dalam ruang bersalin barusan.


“Saat sudah usia tujuh bulan dokter mulai curiga, karena berat badan Saras berkembang sedikit berlebihan. Tubuhnya masih normal, tapi kenapa perutnya makin membesar? Akhirnya dari situlah aku paksa dia USG dan baru ketahuan ada dua janin. Saat USG sebelumnya dia masih sembunyi,” urai Damar sembari terkekeh.


Sea dan Zakky saling menatap, merasa lucu dengan kejutan tak terduga itu.


“Baru di dalam kandungan saja dia sudah pinter main petak umpet, luar biasa pasti lucu banget,” sahut Sea dengan mata berbinar.


“Tapi Saras dan si kembar sehat-sehat saja, kan? Ini tadi lahiran normal?” tanya Zakki yang langsung diangguki Damar.


“Keren banget.” Lagi-lagi Sea heboh sendiri, gadis itu bahkan bertepuk tangan dengan semangatnya.


Melihat ekspresi Sea damar hanya melengos. Tak ada yang tau perasaanya, tak ada pula yang tanya keadaanya, sungguh terlalu.


Ingatan Damar melayang pada kejadian semalam, sehari sebelum Saras melahirkan.


Damar merasakan nyeri di perutnya semenjak hendak berangkat kerja,. Berkali-kali lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk buang air besar. Tapi anehnya dia dia tak ingin melakukan itu. Damar bahkan meminum obat maag karena mengira penyakitnya itu sedang kambuh tapi tetap saja obat itu tak membantu.


Menjelang sore perut Damar makin terasa, lelaki itu pulang dengan keadaan tertatih. Saras menyarankan untuk memanggil dokter tapi Damar menolak. Hingga kenyataan terkuak saat Saras mengeluarkan bercak darah yang diduga proses kelahiran akan segera di mulai.


Damar sudah menyarankan Saras untuk langsung ke rumah sakit, memastikan keadaan dia dan bayinya tapi Saras menolak. Mbak Indri dan Bik Darmi yang sudah berpengalama memberikan banyak wejangan yang membuat Saras enggan ke rumah sakit sebelum perutnya benar-benar terasa sakit.


Damar ingin sekali protes, jelas saja rasa sakit Saras tak kunjung datang karena sama halnya morning sikcnes kini kontraksi pun terjadi pada Damar bukan kepada Saras.


Damar menyayangi istri dan calon bayinya, tapi ini sungguh menyiksa.


“Sayang, aku udah gak kuat, sakit banget kita ke rumah sakit, ya?” rengek Damar yang langsung ditolak oleh Saras.


“Aku udah browsing ke si mbah, katanya kalau frekuensi kontraksinya belum lima menit sekali jangan ke rumah sakit dulu. Tenang dulu di rumah. Karena pikiran yang tenang dan nyaman akan mempermudah jalannya melahirkan.” Jawaban Saras benar-benar menohok hati Damar, tapi sekali lagi dia tak bisa menolak.


“Itu siapa sih yang bikin artikel gendeng begitu. ini sudah sakit banget, loh. Atau kita sesar aja, ya? Kamu gak sakit aku juga gak sakit.”


Saras langsung melotot tajam saat Damar mengusulkan hal tak logis itu.


“Gak ada! Tahan! Bikinnya aja semangat giliran nahan sakit sedikit aja protes mulu. Kamu gak tau mas sanksi sosial yang bakal aku dapatkan kalau lahiran sesar. Beberapa orang akan menganggap aku bukan ibu yang sempurna karena gak ngerti rasanya melahirkan normal.”


Damar yang sedari tadi sudah belingsatan di atas kasur makin ingin tenggalam di dalam kasur itu.


“Kenapa peduliin omongan orang sih? yang penting kan kamu dan anak kita sehat dan selamet. Yang bikin aja aku, jadi kenapa harus dengerin omongan orang,” protes Damar tak terima.


“Ya, tetep aja mana mau peduli mereka. sesar itu masih dianggap tabu di negeri ini, dan aku ogah!”

__ADS_1


Damar mengusap wajahnya berkali. Kenapa rakyat Indonesia sedemikian kolotnya. Bukankah martabat seseorang tidak dilihat dari cara dia melahirkan. Kenapa memang kalau lahiran sesar? Apa dia tak mempertaruhkan hidupnya juga? Apa dia tak pantas disebut ibu meskipun dia yang mengandung selama sembilan bulan lamanya? Apa itu juga bisa menjadi patokan bahwa dia tidak akan menjadi ibu yang baik? Ah ... ingin sekali Damar berkata kasar saat ini. K-A-S-A-R!


Hingga malam tiba Saras dengan enaknya tidur dengan pulas dan Damar hasus begadang karena menahan sakit. Hingga akhirnya saat subuh menjelang Saras mulai merasakan kontraksi yang sesungguhnya.


Tanpa banyak perdebatan lagi, Damar langsung membawa Saras ke rumah sakit. Damar pikir penderitaan dia telah berakhir, tapi ternyata dia salah.


“Sakit, Dokter! Sakit!” teriak Saras sembari mencakar lengan Damar.


Damar hanya meringis tanpa bisa protes.


“Sabar, Bu. Pembukaannya belum sempurna. Sebentar lagi, ya?” ucap suster berusaha menenangkan.


"Suster enak bilang sabar-sabar. Dikira ini gak sakit apa?" omel Saras.


Suster yang kena omel itu hanya meringis, Damar menutup malu mukanya. Tadi saja pas dia yang kesakitan, Saras gak peduli. Giliran ngerasain sendiri ngomel-ngomel gak jelas.


"Sayang, jangan teriak-teriak terus, malu. Sabar, ya?"


Kini mata nyalang Saras berpindah ke Damar. Lengan suaminya yang masih di genggamannya itu ditekannya kuat-kuat. Membuat si empuhnya lengan meringis menahan sakit.


"Malu-malu! kamu pikir gak sakit hah? Sudah aku kapok, besok jangan pegang-pegang aku lagi. Aku kapok! kapok!" kicau Saras.


Damar makin meringis mendengar ucapan Saras. Dia mengedarkan pandangan, tersenyum malu kepada para perawat dan bidan yang menatapnya dengan senyum tertahan.


"Halo, Bu Saras. Gimana? Udah siap ketemu dedek bayinya, sabar, ya?"


Seorang dokter paruh baya menyapa Saras yang sedari tadi merintih dan ngomel-ngomel tak jelas.


Dokter bernama Arum itu tersenyum mendengar omelan Saras. Dia mendekat, membelai lembut bahu wanita yang sebentar lagi menjadi ibu itu.


"Sabar, toh. Nunggu pembukaan lengkap dulu. Dulu aja pas bikin sembunyi-sembunyi gak ada suaranya sampai reader penasaran, masa giliran mau lahiran teriak-teriak sekampung dengar, ora isin opo karo reader?"


Saras mendadak langsung terdiam mendengar ucapan dokter yang masih ayu walau tak lagi muda itu. Meskipun menahan sakit, wanita itu masih bisa nyengir kuda. Benar-benar tanpa dosa.


Waktu yang ditunggu pun tiba, pembukaan sudah lengkap, kontraksi pun makin hebat. Damar masih setia menemani istrinya itu, meski sekarang tak cuma lengan, hidung, telinga, rambut tak lepas dari cakaran dan colokan Saras, untung saja mata Damar tak kena colok juga.


"Pak, boleh lihat Kak Saras dan si kembar?" pertanyaan Sea langsung menyadarkan Damar dari lamunannya.


"Eh, iya. Saras lagi disiapin buat pindah ke ruang perawatan, kita ngobrol di sana aja biar enak, ya?" ajak Damar dan diangguki oleh Sea dan Zakki.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Saras kini telah berada di ruang perawatan. Sea dan Zakki menatap gemas kepada dua bayi mungil yang sekarang terlelap di box bayinya.


"Kalian kapan nyusul?" tanya Saras kepada Sea dan Zakki.


Zakki langsung berbalik menghadap Saras. "Nyusul apanya dulu? Nyusul buat jadi korban cakaran seperti Pak Damar? Mohon maaf, aku sih ogah." jawab Zakki yang langsung mendapat tinjuan pelan dari Damar.


Saras langsung terkekeh. "Buru nikah, Zakk. Mumpung Sea belum sadar dari khilafnya, ntar kalau sadar berabeh loh," lanjut Saras.

__ADS_1


"Kalau sadar membuat aku lupa padanya, aku lebih milih gak sadar selamanya aja, Kak," sahut Sea seraya menatap Zakki dan menaik turunkan alis.


"Dasar bocah tukang gombal," Zakki menarik pelan hidung Sea.


"Duh ... ciee, manis banget sih kalian. Zakk, Jangan mau kalah dong, masa kamu justru digombalin cewek?"


Zakki terkekeh. "Sudah tua, Ras. Bukan jamannya ngegombal lagi."


"Lagian dia ngegombalnya dalam bentuk berbeda, Kak," sahut Sea langsung.


"Emnag gimana?"


"Sejam sekali harus kasih kabar + foto update terbaru. Orang pakai baju ketat dikit kenal omel, Waktunya tidur masih online langsung pidato. Ya, gitu itu deh. Tapi sialnya, aku suka diperlakukan seperti itu." Urai Sea dengan menatap lembut Zakki.


"Aih, kalian ini. Buru dinikah deh."


"Tunggu undangannya." kini giliran Zakki yang menjawab.


"Jadi, siapa nama mereka?" tanya Sea sembari menunjuk si kembar yang masih tertidur.


"Yang jelas namanya tak jauh-jauh dari Langit."


"Coba aku tebak!" Sea bersemangat, memutar otaknya berpikir nama apa yang berhubungan dengan Langit.


"Ah, pasti bulan dan bintang?"


Saras menggeleng. Sea kembali berpikir


"Pelangi dan Matahari?"


Saras menggeleng lagi, membuat Sea makin penasaran.


"Terus apa dong? Biasnya itu yang dipakai nama."


"Namanya, Sabiru dan Jingga." jawab Saras dengan tersenyum manis.


"Sabiru dan Jingga?" Sea mengulangi ucapan Saras.


"Bagus sih, tapi kenapa nama itu? padahal yang nampak jelas di langit kan nama-nama yang aku sebutin?" Sea kembali bertanya.


"Bener. bulan, bintang, matahari, pelangi mereka memang pemadangan indah di langit. Bahkan terkadang kehadiran mereka melupakan fungsi langit itu sendiri. Mereka juga indah, kehadirannya memang selalu pasti, tapi tak selalu menemani. Ada kalanya bintang dan bulan harus menghilang dan digantikan oleh matahari.


Kenapa Sabiru dan Jingga? Karena dua warna itu pasti ada dan selalu menemani langit. Mereka melebur jadi satu dengan langit, meskipun langit terlihat biru, tapi sebenarnya ada warna merah jingga di sana. Mereka tak menunggu sore atau pagi untuk sekedar hadir.


Untuk itulah, aku ingin Sabiru dan Jingga bersama dengan langit. Bukan terlihat menonjol sendiri dan akhirnya tak mengaggap langit tak ada. Aku tak ingin ada perbedaan diantara mereka, meskipun Langit tak lahir dari rahimku, tapi dia tetap anakku. Langit, Sabiru dan Jingga, akan melebur dan berpelukan satu sama lain. Sabiru dan Jingga akan tetap aman dalam rengkuhan Langit." Saras menghentikan ucapannya. Dia tersenyum memandangan ke luar, ke arah langit yang saat ini terlihat begitu indah.


Damar mendekat, memeluk dari samping istrinya itu. Dia bersyukur Langit mempunyai ibu sambung sepertinya, wanita yang akan marah sekali padanya saat dia terlalu sibuk dan jarang meluangkan waktu untuk Langit.

__ADS_1


Sea dan Zakki pun melihat pemadangan di depannya dengan sebuah senyuman. Tangan mereka saling bertaut, ikut merasakan bahagia yang saat ini sedang tercipta.


"Kak Saras. Kamu ibu yang luar biasa."


__ADS_2