
"Ada apa, Buk?" tanyaku saat aku dan ibu sudah duduk di meja dapur.
"Dia siapa, Nduk? kalian ada hubungan apa?" todong ibu langsung.
"Dia Mas Damar, Bu. Majikan Saras. Kami memang baru-baru ini sudah dekat," jelasku sembari menunduk.
Terdengar ibu menghela napas.
"Dia Bapak anak yang kamu asuh itu?" tanya ibu lagi.
"Nggeh, Buk."
"Sejujurnya, Ibu tak melarang kamu dekat dengan siapapun, Nduk. Tapi Ibu cuma mau ingetin status kita. Kita cuma orang kecil, Nduk. Tadi pas Zakki ngelamar kamu saja, ibu sudah was-was, meskipun sebenarnya ibu senang sama dia.
Tapi kamu ingat, toh, bantuan yang diberikan pakliknya? masa iya, kita biarin mereka bertengkar cuma karena kamu? Belum satu masalah selesai, kamu nambah lagi sekarang bawa pacarmu pulang, terus ibu sama bapak ini kudu piye?"
Aku masih diam dan menunduk, tanpa sadar ada air mata lolos begitu saja dari mataku.
"Saras cinta sama Mas Damar, Bu. Tapi Saras juga gak enak sama Zakki, dia yang bantuin Saras sampai seperti ini. Selama ini Saras kira Zakki hanya anggap Saras teman, sebaliknya pun begitu. Ndak tahunya dia punya perasaan lebih kepada Saras," jelaku kepada Ibu.
Wanitaku itu meraih pundakku, mengelus-elus. menenangkan.
"Kamu anak baik, Nduk. Sudah sewajarnya bahagia. Kamu yakin sama lelaki itu? yakin masuk dunia dia yang orang kaya? apa keluarganya siap menerimamu?" cercaan pertanyaan ibu membuatku lagi-lagi gamang.
Benar ucapan ibu, bisakah aku yang gadis desa ini mendampangi Mas Damar yang tingkatnya jauh di atasku itu? bagaimana aku bisa bergaul di dunianya?
"Menurut ibu bagaimana?"
"Kamu yang jalani, Nduk. Kamu pasti tahu baik dan buruknya. Kalau boleh ibu tahu, kemana istrinya? maksudnya, dia kenapa menjadi duda?"
"Istrinya meninggal, Bu saat melahirkan anaknya dulu."
"Kalau begitu belum setahun?"
"Belum, Bu. Sekitar delapan bulan yang lalu." Ibu menghela napas lagi.
"Ibu semakin takut, Nduk. Yakin kamu bukan pelariaannya? Baru delapan bulan istrinya meninggal, dan sekarang dia sudah dengan wanita lain?"
__ADS_1
Deg, kata-kata ibu menancap persis di hatiku. Ibu benar, bukankah Mas Damar dulu pernah bercerita bahwa dia amat mencintai mendiang istrinya? bahkan dia dulu sempat sampai frustasi di buatnya. Dan baru lima bulan dia sudah berpaling padaku, benarkah rasanya padaku itu?
"Buk, Ibuuk." Suara bapak memanggil dari kamar. Ibu bangkit dari duduknya setelah sebelumnya menepuk punggungku pelan.
Aku bangkit, saat ini tak cuma perkataan ibu, aku juga memikirkan keadaan Zakki. Bagaimana dia sekarang? sudah pulangkah?
Selagi Mas Damar istirahat, aku berniat ke rumah Zakki. Di sana aku pasti bertemu juragan Ipan, bagaimana kalau dia menagih jawaban atas lamarannya? Ah, biarlah kuurus nanti, untuk saat ini aku ingin bertemu dengan Zakki.
Aku melangkah menuju rumah Zakki. Rumah Zakki terletak di paling ujung desa. Rumah paling besar dan megah, membuat berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya.
"Assalammualaikum," salamku sembari mengetok pintu.
"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari dalam.
Pintu terbuka, menampilkan sosok lelaki paruh baya yang selama ini membantu orang tuaku.
"Loh, Saras? Masuk Nduk," ucapnya mempersilahkanku masuk.
Dia menyuruhku duduk di ruang tamu, kebelakang sebentar lantas kembali lagi.
"Aku mencari Zakki, Juragan."
"Loh, kirain dia kerumah kamu, itu bocah tadi sudah pulang, terus keluar lagi, tapi itu mobilnya di rumah." Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Juragan. Benar, mobil Zakki terparkir di garasi.
"Juragan, mengenai lamaran juragan kepadaku," ucapanku menggantung, bingung harus memulai dari mana.
"Lah, lamaran itu? bukannya Zakki sudah cerita sendiri ke kamu?" Aku mendongak, tak mengerti maksudnya.
"Cerita apa, Juragan?"
"Bocah itu belum cerita, toh?" Aku menggeleng menanggapi.
"Lamaran yang seringkali aku tujukan padamu itu perwakilan dari Zakki. Bocah itu sudah suka sama kamu dari lama. Mangkanya saya berinisiatif ngelamar kamu biar gak diduluin orang, eh kamunya malah pergi gak balik-balik." Aku menganga, tak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Jangan-jangan kamu berpikir saya ngelamar kamu buat saya sendiri?" tanpa sadar aku tersenyum kecil, malu dengan salah sangkaku.
Juragan Ipan tertawa, bahkan sangat kencang. Duh, Gusti, kenapa ibu bapak juga mikir yang sama?
__ADS_1
"Oalah, nduk, nduk. Kamu itu anak kesayangan bapakku, jadi wes tak anggap anak juga, apalagi sekarang jadi wanita kesayangan ponakanku juga, masa iya mau tak kawinin sendiri?" Juragan masih tertawa, aku makin salah tingkah.
"Aku memang tak pernah menyebutkan nama Zakki saat mengutarakan lamaran kepada orang tuamu, karena Zakki sendiri bilang, dia mau jadi dokter dulu, mau memantaskan diri buat bersanding denganmu. Tapi aku cuma kasihan sama dia, sudah selama itu cinta sama kamu, kasihan kalau sampai di dahuluin orang." Hatiku makin teriris, sedemikian kerasnya kah usaha Zakki untuk mendapatkanku?
"Sejak kapan, Juragan? sejak kapan Zakki suka sama aku."
"Sejak dulu, Nduk. Sejak lulus SMP, tapi ngakunya pas lulus SMA. Aku sih gak kaget, kalau bapakku aja bisa sesayang itu ke kamu, wajar juga kalau Zakki ikutan naksir."
Sekilas aku mengingat bagaimana almarhum bapak juragan ipan memperlakukanku. Beliau dulu sering kali membelikan aku baju dan makanan, apalagi jika aku juara kelas, sebuah boneka besar dia kirimkan sebagai hadiah.
Selama itu? dan selama itu juga Zakki menutupinya dengan sangat baik? Ya Allah, kenapa serunyam ini.
"Kemarin, bocah itu cerita kalau mau ngelamar kamu sendiri, mangkanya aku gak kerumah kamu meskipun tahu kamu datang. Jadi piye? Mau jadi mantuku?" Deg, sebuah pertanyaan yang amatlah sulit aku jawab.
"Sekarang Zakki dimana juragan?" putusku, aku ingin bertemu lelaki itu sekarang, aku ingin mempertanyakan semua.
"Biasanya kalau gak dirumah ini dan dirumah kamu, paling dia main di pinggir kali selatan sana, loh? kamu tahu kan? saya juga heran sama dia, katanya dokter tapi mainnya di kali," aku terkikik, tapi lantas bangkit dari sana.
"Juragan aku mau ketemu Zakki dulu, pamit dulu, Juragan. Assalammualaikum." Aku mencium tangan lelaki itu.
Satu masalah selesai, tinggal menyelesaiakan yang lain.
Benarkah? benarkah yang aku dengar tadi? Zakki andaikan kamu utarakan dari dulu, mungkin keadaanya tak begini.
Bagaimana bisa aku mengabaikan lelaki baik sepertimu selama ini? ucapan dan tindakanmu selama ini, kenapa tak terbaca sedikitpun olehku?
Ya Allah, Ya Gusti, ampuni kebodohan hamba yang akhirnya menyakiti banyak hati ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku up lagi😍 Persiapkan hati, yak, bab-bab selanjutnya akan semakin menguras emosi. Tapi yang bikin sedih itu, dikasih part begini viewersnya makin turun🙄 Masa iya cerita partnya seneng terus, Enak banget itu hidupnya Saras.
Jangankan kalian, aku yang menciptakan karakter mereka saja rasanya juga deg-degan gak karuan. Tapi sama halnya dengan manusia, tak pernah ada karakter yang sempurna. Ada lebihnya pasti ada kurangnya. Kalau Damar selalu menyenangkan dengan sifat manisnya, tapi dia juga akan menyebalkan dengan sifat kurang pekanya. Zakki dan Saras pun begitu. Coba pahami baik-baik sebelum keburu emosi😂😂😂
Selamat pagi, selamat hari minggu dan selamat menikmati
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘
__ADS_1