Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Pernyataan cinta


__ADS_3

"Aku cinta kamu, Ras." Tangan yang sudah menggapai gagang pintu terlepas.


Amarah dan kecewa yang sebelumnya membara, meluap seketika. Gusti, tolong cubit hatiku, benarkah yang aku dengar? Itu bukan kehaluanku semata, kan?


"Maaf, aku tak bermaksud menuduhmu. Aku hanya belum siap kehilangan. Kedekatanmu dengannya membuatku sedikit ketakutan dan cemburu," lanjut Alvin seraya mendekat.


"Diam di tempatmu, Vin!" seruku mencegah dia semakin mendekat. Terlihat lekaki itu menurut.


"Pulanglah, aku lelah. Kita bicarakan itu besok," lanjutku dengan kembali membuka pintu kamar. Masih terdengar Alvin memanggil namaku, tapi aku mencoba tak peduli dan menutup rapat pintu kamar.


Sesampai di dalam, aku tak langsung beranjak. Tubuhku seraya kaku di balik pintu, dadaku berdebar hebat dan yang paling aneh, mulutku serasa tak bisa berhenti untuk tersenyum.


"Ras, kenapa tak langsung saja kamu terima ungkapan cintanya tadi?"


"Ras, kamu tunggu apa lagi? Bukankah cintamu akhirnya terbalas?"


"Jual mahal dulu, Ras. Kamu ada Damar sekarang. Bukankah dia jauh lebih jelas masa depannya?"


Suara-suara batin mulai berperang. Sebenarnya, bukan niatku untuk menghindar apalagi mengacuhkan alvin begitu saja. Aku hanya bingung bagaimana menyembunyikan debar hati yang sudah tak karuan. Pernyataan tiba-tiba Alvin tak hanya menancap di hati, tapi juga langsung tembus ke jantung.


Namun, anehnya kenapa ini semua tak semenggebu dulu saat aku melihatnya bersama sesil. Aku memang bahagia, tapi juga tak sedasyat dulu. Kala itu, saat pertama kalinya aku melihat Alvin, getarannya malah mengalahkan letusan gunung krakatau. Lebay? Memang sengaja kubuat seperti itu.


Mungkinkah ini hanya cinta semu? Mungkinkah aku tak benar-benar tertarik kepada Alvin? Atau mungkin rasa cintaku kepadanya sudah berpaling? Berpaling ke Mas Damar contohnya.


***


Pagi kembali menyapa, akibat berperang dengan batin semalam aku sampai tertidur tanpa mandi terlebih dahulu. Aku bahkan lupa mempertimbangkan permintaan Mas Damar untuk tinggal di tempatnya.


Suara pintu diketuk, pagi-pagi begini siapa lagi kalau bukan Dini. Belum sempat membuka pintu, terlihat Dini sudah berhasil masuk. Ahh ... aku bahkan lupa mengunci pintu, untung saja wilayah di sini sangatlah aman.


"Nasi pecel dengan tempe goreng anget kesukaanmu," ucapnya seraya menenteng kresek berisikan duan bungkus nasi pecel.

__ADS_1


"Tumben, dalam rangka apa?" tanyaku tanpa sedikitpun beranjak dari tempat tidur.


"Dalam rangka selamatan hari pertama kerja, lihat dong penampilanku, cocok tidak?" Celana kerja hitam dipadu dengan blouse sifon warna pink yang pas di badan, kuakui hari ini dia cantik.


Gadis itu masih berputar-putar sembari memamerkan penampilannya. Tak mungkin aku mengakui kalau dia terlihat cantik, bisa besar kepala itu bocah.


"Biasa aja," jawabku sembari beranjak dari tempat tidur.


"Masa gak ada yang spesial, gitu? Padahal aku udah dandan dari subuh tadi, loh?" kicaunya sembari memperhatikan penampilannya lagi.


"Ya, emang biasa aja, masa ganti baju aja kamu berubah jadi Nia Ramadhani?" balasku lagi seraya menahan senyum.


"Iish ... menyebalkan!" omelnya seraya membuka bungkusan nasi. Marah, kok bisa makan, aneh.


Tak memperdulikan gerutuannya, aku melangkah menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan gosok gigi aku segera menyusul Dini untuk sarapan.


"Iih ... jorok! Mandi dulu napa, sih!"


"Emangnya kamu gak kerja? Kok jam segini belum siap?"


"Bukan aku yang kepagian, lihat noh! Masih setengah enam pagi," ucapku seraya menunjuk jarum jam.


"Habisnya aku gak bisa tidur gara-gara saking semangatnya. Jadi, ya sudah, habis salat Subuh tadi aku langsung mandi, beli sarapan deh, takut telat," jelasnya dengan tersenyum nyengir.


"Eh, Din. Mas Damar menyuruhku tinggal di rumahnya," ucapku yang justru mendapat semburan dari Dini. Gak ada akhlak emang itu bocah.


"Dini! jorok! Jangan mentang-mentang aku belum mandi terus main sembur-sembur seenaknya!" ucapku seraya membersihkan makanan di wajahku.


"Maaf ... maaf ... habisnya aku kaget, masa baru sehari di sana kamu sudah di lamar aja, udah kayak sinetron beneran loh, Babu jadi mantu." Bukannya membantu membersihkan wajahku, Dini malah sibuk berpikiran yang kelewat jauh.


"Sapa bilang dilamar? Mangkanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu! Aku di suruh tinggal di sana biar lebih gak capek bolak-balik terus kalau Mas Damar keluar kota dia juga gak khawatir sama Langit," jelasku yang diangguki Dini.

__ADS_1


"Eh, terus aku gimana?"


"Aku kemarin juga sudah bilang sama Mas Damar kalau aku gak mungkin ninggalin kamu."


"Unch ... unch ... manis banget," sela Dini sembari mencubit hidungku. Jijik!


"Dengerin dulu orang ngomong!" bentakku yang akhirnya membuat cewek halu itu terdiam.


"Kata Mas Damar, bagian marketing itu sering lembur, kadang sampai jam delapan kadang juga lebih. Setelah itu kamu pasti pulang dalam keadaan capek, pasti jarang komunikasi sama aku," jelasku sembari mengambil suapan nasi yang tersisa.


"Lembur terus? Pasti capek dong, ya? Bisa gak aku, Ras?"


"Pasti bisa! Bukannya kamu pingin pulang kampung? Lah itu nanti uangnya bisa kamu pakai pulang, kan?"


"Ah, iya. Kamu pinter. Demi pulang kampung! Eh tapi, terus gimana? Kamu jadi pindah ke sana?"


"Kagak tau. Bingung. Enaknya gimana?"


"Aku juga bingung. Biarpun lembur, tapi kan bisa aku nyempet-nyempetin kemari bentar. Minggu juga kita masih bisa bareng. Namun, kalau itu perintah Mas Damar, ya, sudah kamu turutin aja, dari pada dipecat," ucap Dini yang entah sejak kapan dia jadi waras.


"Terus, aku jarang ketemu kamu, dong?"


"Kan aku bisa nyamperin kamu kalau hari minggu, sayang," kata Dini seraya hendak memeluk. Aku reflek menjauh dari jangkauan gadis itu. Lebay.


"Belum mandi. Jangan peluk-peluk!" ucapku seraya bangkit menuju kamar mandi.


Seusai aku mandi ternyata Dini sudah tak lagi di tempatnya. Mungkin gadis itu bersiap untuk berangkat kerja. Selesai berganti baju dan menyisir rambut, tak lupa kupoleskan sedikit bedak di wajahku. Lipstik warna nude juga tak lupa aku aplikasikan, sempurna.


Sejenak aku teringat permintaan Mas Damar kemarin. Aku harus jawab apa? Diskusi dengan Dini pun tak pernah mendapatkan hasil memuaskan. Gusti, beri aku petunjuk.


Entah apa yang akan kusampaikan kepada Mas Damar, biarlah menjadi urusan nanti. Aku bersiap untuk berangkat, saat hendak mengunci pintu terlihat sebuah motor yang tak asing di depan pagar. Tak jauh dari sana terlihat pemiliknya sedang berbincang dengan Dini.

__ADS_1


Masalah datang lagi ....


__ADS_2