Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Roti Sobek


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 31


Mata telah lama terpejam, tapi kenapa tak ada sesuatu yang menyentuh bibirku? Eh, tunggu kenapa bau perfumnya berubah? kenapa secepat itu Mas Damar berganti parfum?


"Mbak ... Mbak Saras. Bangun Mbak sudah sampai." Tepukan pelan di bahuku membuat mataku terbuka.


Aku melonjak kaget saat melihat justru Pak Rusdi, sopir Mas Damar yang ada di sampingku.


"Maaf membuat Saras kaget, tapi saya disuruh bapak bangunin Mbak Saras," Jawab Pak Rusdi sembari mundur memberiku jalan.


"Ah, iya, gak papa, Pak. Mas Damar sama Arin sudah turun?"


"Iya, tadi bapak gendong Den Langit yang tidur, terus Mbak Arin bawa keperluan Den Langit, mangkanya saya yang disuruh bangunin Mbak Saras."


"Ya, sudah, Pak. terima kasih. saya masuk dulu," pamitku kepada Pas Rusdi.


Aku langsung menuju lantai atas, sampai di depan kamar Langit terlihat Mas Damar keluar dari sana, aku tersenyum kikuk, malu karena ketahuan ketiduran.


"Maaf tak sempat membangunkanmu, Ras. Kembalilah tidur di kamarmu, kamu pasti lelah," ucapnya yang membuatku mengangguk.


"Ras," panggilnya lagi yang membuatku batal beranjak.


"Iya, Mas."


"Terima kasih buat hari ini," ucapnya yang membuatku garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Terima kasih buat apaan, Mas? Aku gak paham," ucapki sembari nyengir.


"Sudahlah. Beristirahatlah," ucapnya dengan berbalik pergi begitu saja.


Aku yang masih belum paham hanya terbengong saja di tempat. ada apa dengannya? untung ganteng.


Waktu menunjukan pukul dua siang, sore ini, Dini mengajakku bertemu. Kangen katanya, dan bodohnya aku lupa meminta ijin kepada Mas Damar untuk pergi dengan Dini nanti.


Aku kembali berbalik dan mencari Mas Damar, aku harus meminta ijim Mas Damar dulu untuk bisa memastikan kepada Dini nanti.


Pintu kamar lelaki itu tertutup rapat, kuketok sekali tak ada sahutan, dua kali belum tersahut, dan tak perlu menunggu ke tiga kali aku mencoba membuka handel pintu.


Gusti, kebaikan apa yang aku lakukan hingga engkau memberi pemandangan seindah ini??

__ADS_1


Mas Damar keluar dari kamar mandi dengan keadaan telanjang, eeh tidak-tidak! maksudku dia hanya telanjang dada, masih ada celana pendek yang menutupi bagian bawahnya. rambutnya yang basah membuat dia terlihat begitu mempesona, aroma sabun dan shampoo yang begitu segar membuatku ingin sekali berada di dalam dekapannya, dan itu, roti sobek yang tercetak di perutnya begitu menggodaku untuk membelainya, Ya Allah jadi pingin dihalalin.


"Ras ... ngapain di situ?" Sebuah pertanyaan yang membuatku langsung gelagapan. Gusti, malunya aku kelihatan melongo, masih cantik kan, ya?


"Eh, Ma-ma-maaf, Mas. aku bener-bener gak niat ngintip, meskipun sebenarnya pingin." Opps ... langsung kututup mulutku dengan kedua tangan.


Bisa-bisanya berkata seperti itu. Ras ... ras, malu-maluin banget sih jadi perawan. Kulihat Mas Damar sedikit tersenyum melihat kelakuanku, Gusti ... jadi pingin ngelumat, eh apaan lagi sih ini! Dasar otak mesum!


Aku berbalik menunggu Mas Damar keluar dan memakai baju, meskipun sebenarnya aku pingin banget menawarkan diri untuk memakaikannya.


"Ada apa, Ras?" tanyanya saat sudah memakai baju lengkap.


"Ehm ... anu, Mas, anu ... aku mau ijin buat keluar nanti sore."


"Mau kemana?"


"Dini ngajakin keluar, sudah lama kami gak keluar bareng, tapi itu kalau Mas Damar ngijinin sih, kalau enggak, ya, gak papa."


"Oke, boleh. apa perlu aku antar?" tawarnya yang membuatku senyum-senyum sendiri, Gusti, manisnya.


"Gak usah, Mas. Gak usah. aku naik ojek saja."


"Baiklah kalau begitu. Jangan pulang terlalu malam, bahaya!"


"Iya, Mas."


"Ras, ada perlu lagi?" tanyanya saat melihatku yang masih terbengong.


"Ah, enggak-enggak, Mas. sudah, terima kasih. aku kembali ke kamar."


Aku pergi begitu saja dari sana tanpa menunggu jawaban lelaki itu. Malu berkali-kali ketahuan bengong gara-gara dia.


Setelah memberik kabar kepada Dini dan memastikan aku bisa pergi sore ini, aku memutuskan untuk tidur sebentar, sejam cukupalh sebelum nanti keluar bersama Dini.


Adzan Ashar berkumandang, tak sadar jika sejam sudah aku tidur. Aku bangkit dan segera menuju kamar mandi. Setelah mandi dan salat Ashar aku memustuskan untuk membantu Arin merawat Langit sebentar, tak enak jika terlalu merepotkan Arin.


Aku memasuki kamar Langit saat bocah itu masih mandi. Seperti biasa Arin menyambutku dengan sebuah senyuma. Usai mandi, aku mengambil Langit dari Arin, kusuruh gadis itu mandi sebentar, kasihan jika aku pergi nanti mungkin tak akan ada yang menggantikannya menggendong Langit.


"Rin, nanti aku mau keluar sebentar, titip Langit, ya?" ucapku kepada Arin saat gadis itu keluar dari kamar mandi.


"Oke. tapo memang mau kemana?"

__ADS_1


"Ketemu temen kos dulu, lama gak keluar bareng. gak papa kan kamu jagain Langit sendiri? andai saja bisa pingin banget aku ngajakin kalian berdua, biar rame."


"Tak masalah, Ras. itu juga tugasku. Nanti kalau kamu sudah jadi nyonya Damar, kamu bisa ngajak aku dan Langit keluar sesukamu," ucap Arin dengan tertawa terbahak.


"Apaan? Ngaco ih, ngimpinya ketinggian Rin."


"Ih, sapa tau aja. Mas Damar juga gak keberatan kan tadi waktu pelayan Restoran bilang kamu istrinya?"


"Tapi dia gak mengiyakan, Rin."


"Aminin aja kali sih, sapa tau jadi kenyataan."


"Gak mau. kalau jatuh sakit."


"Ya sebelum jatuh pegangan yang erat."


"Terserah kamu saja. Aku pergi dulu, yakk. mau nitip?"


"Titip jodoh, bisa?" tanya Arin yang lagi-lagi sembari tertawa lebar. Sepertinya aku bertemu teman yang klop di sini, sama-sama sangklek.


Menaiki ojek online, aku menuju indekos. Pintu kamar tertutup rapat, sepertinya bocah itu masih tidur. padahal dia yang memintaku untuk datang tepat waktu.


"Assalammualaikum, Din ... dini! Bangun woee!!" teriakku memanggil si penghuni kamar.


Entah datang dari mana, tiba-tiba saja sebuah jitakan mengenai kepalaku.


"Waalaikumsalam. Gak usah teriak-teriak juga." Aku menoleh ke belakang dan terlihat Dini sudah siap untuk pergi.


"Lah, kirain kamu di dalam lagi tidur, mangkanya aku teriak-teriak," ucapku sembari nyengir.


"Aku dari Nita tadi, nungguin kamu lama, mangkanya aku main dulu. yawes ayo berangkat!" Ajak Dini yang aku angguki.


Kami beriringan berjalan menuju pagar. Kami juga memutuskan naik angkot saja untuk menuju tempat tujuan. Suara klakson motor membuatku dan Dini dan berhenti sejenak. Sesal menghingapi saat tahu siapa yang ada di belakang kami.


Si kerikil got muncul lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai ... hai ... Aku menepati janji.


Terima kasih untuk antusiasme kalian yang luar biasa, minta seribu dapatnya 1700, ah cinta banget sama kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Jadi, sebagia hadiahnya, aku kasih part yang manis-manis dulu, yakk. Semanis authornya, hihihi ...


So, enjoy, Guys.


__ADS_2