Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Musim Kawin


__ADS_3

"Ini beneran kita kesini?" tanyaku yang sempat melongo melihat tempat tujuan Zakki.


Siapa yang tidak bingung jika tiba-tiba diajak ke kebun binatang? kemarin aku di katain Mas Damar bocah, lah sekarang ini malah Zakki yang kayak bocah.


"Lah iya, kenapa emang?" tanya Zakki setelah memarkirkan motornya.


"Mau ngapain? kayak bocah tau, gak, Zak," jawabku sembari menatap sekeliling.


"Sudah pernah naik gajah?"


"Belum pernah, sih," jawabku sembari malu-malu.


"Oke. Kita naik gajah sekarang. Seingatku dulu waktu kecil kamu pingin banget kan naik gajah? hanya saja di desa gak ada gajah."


Aku mematung sesaat, tak menyangka Zakki mengingat hal kecil semacam itu.


Dulu, aku pernah merengek pada ibu agar diajak naik gajah. Seorang teman yang kebetulan anak orang kaya memamerkan foto-foto hasil berliburnya. Di foto itu dia tersenyum cerah dengan duduk di atas gajah.


Sepreman apapun aku, dulu aku tetaplah anak-anak. Keadaan ekonomi yang tak begitu baik membuat ibu tak mempu menuruti keinginanku. Jadilah aku uring-uringan sepanjang hari. Dan Zakki, menjadi salah satu korban kekeselanku dengan terus aku bully seharian.


"Ras? Saras?" Zakky melambaikan tangan di depan wajahku. Seketika aku terkesiap dan kembali dalam lamunan.


"Ayo!" ajaknya lagi yang mau tak mau aku turuti.


Aku terus membuntuti kemana pun arah Zakki pergi. Lelaki itu saat ini sedang mengantri di loket. Mungkin karena bukan hari libur, Kebun binatang ini tampak tak seberapa ramai.


"Ayo, Ras!" Ajak Zakki lagi setelah membeli tiket.


Kami berjalan beriringan, lucu juga ternyata tanpa membawa bocah kecil, kami berjalan mengitari kebun binatang.


"Eh, serius kita naik gajah, Zak? Malu tau, masa gajah naik gajah?" tanyaku saat kami berjalan menuju arah stand gajah.


"Lah mana gajah yang lagi naik gajah?" tanya Zakki dengan raut kebingungan.


"Lah ini di depanmu," jawabku dengan menunjuk diri sendiri.


Zakki tertawa terbahak, sedikit kaget juga dengan responnya.


"Mana gajahnya, Ras? lah wong bodi lempeng aja gitu kok dibilang kayak gajah," jawab zakki masih dengan tawanya.


"Eh, Maksudnya apa lempeng? kenapa gak diperjelas aja datar gitu?" sahutku lagi dengan mengerucutkan bibir.


"Laah itu kamu tahu,"

__ADS_1


Fix! untuk kali ini lelaki itu amat menyebalkan. Memang sih tubuhku rata, tapi gak usah jujur gitu juga kali. Aku berjalan mendahului Zakki, tak peduli dengan lelaki itu yang masih terus tertawa.


"Ras, jangan ngambek dong," rayunya di belakangku.


"Bodo," jawabku tak sekalipun menoleh ke arahnya.


"Tapi bukankah Nia Ramadhani juga rata? kan kamu kembarannya, jadi wajar dong kalau sama-sama rata."


Mendengar nama Nia Ramadhani di sebut-sebut, aku berhenti seketika. Ah, Nia, kenapa kamu justru jadi kelemahanku?


"Setiap orang punya caranya sendiri untuk melihatkan keindahannya, Ras. Dan bagiku, kamu indah dengan segala apa yang ada di dalam dirimu. Kamu apa adanya, tak perlu memakai topeng untuk terlihat menarik. Dan itu nilai plus untukmu. Jadi, mau tubuhmu rata atau tidak, bagiku kamu tetap menarik."


Tubuhku makin menegang mendengar ucapan Zakki yang sepertinya kini berdiri tepat di belakangku.


Persis dengan ucapannya, jika setiap orang punya cara sendiri untuk melihatkan keindahannya, maka Zakki pun punya cara sendiri untuk memenangi hatiku.


Sejujurnya, aku sedikit membenci sifatku ini sendiri. Aku yang sedari dulu memang terlampau gampang menganggumi seseorang membuatku harus mengalami sakit berkali-kali.


Namun, biarpun begitu, aku tak pernah lebih dari menganggumi, bahkan mengatakan bahwa aku jatuh cinta pun tak pernah berani. Perasaanku dengan Mas Damar pun begitu, selama ini aku menganggumi sosoknya, aku terpesona dengan segala apa yang ada dalam dirinya, tapi jika mengakui jika aku benar-benar jatuh cinta pada dirinya, sungguh aku tak seberani itu.


Kini, tiba-tiba ada Zakki yang muncul dengan segala kekonyolannya. Dia menghujaniku dengan berbagai kalimat-kalimat indah yang belum pernah aku dengar, bahkan dari Alvin sekalipun.


Bagaimanapun, aku adalah seorang wanita. Makluk lemah yang bisa dengan gampang luluh apalagi jika terus-terusan di perlakukan manis seperti ini. Namun, sama kepada Mas Damar, aku belum berani jika berkata bahwa aku jatuh cinta.


Kami mendekat ke arah stand gajah, Zakki lebih dulu berjalan karena harus membeli tiket.


"Kamu naik duluan, biar aku tunggu di sini, nanti aku yang fotoin dari sini," Ucap Zakki seraya menyerahkan tiket untuk naik gajah.


"Eh, tapi malu, Zak. Masa udah segede ini naik gajah?" rengekku.


"Udah, anggap saja gak ada orang. Toh, kita gak kenal mereka. Sepulang dari sini mereka juga bakalan lupa sama kejadian ini. Sudah buruan sana."


Benar kata Zakki, toh aku gak kenal mereka. Bodo amatlah, ya. Lagian kapan lagi bisa naikin gajah kayak gini.


Aku mendekat ke arah gajah. Dengan di bantu pawangnya, aku menaiki Gajah itu sendirian.


"Bapak ini gajahnya udah jinak kan, ya?" tanyaku kepada bapak-bapak yang mengendarai gajah di depanku.


"Jinak kok, Mbak. Tapi kadang bisa berubah pas musimnya kawin," jawab bapak itu dengan tersenyum nyengir.


Gak gajah gak manusia, kalau musin kawin udah pada ngebet kali, ya?


"Saya juga waktunya kawin, Pak. Tapi kagak pernah ngamuk-ngamuk juga. Mau ngamuk juga percuma sih, kagak ada calon lakinya," cerocosku di balik punggung bapak tersebut.

__ADS_1


"Mbaknya jangan curhat. Nanti saya ikutan galau."


"Lah bapak galau kenapa?" tanyaku keheranan.


"Saya juga lagi dalam musim kawin, tapi janda sebelah rumah incaran saya, malah kawin sama aki-aki juragan tanah," Ujar bapak-bapak iti dengan muka melas.


Aku hanya bisa tertawa terbahak. ternyata nasib bapak ini lebih ngenes dari pada aku.


"Bapak sing sabar, Nggeh. Nanti tak doakan ada janda kembang lain yang naksir sama bapak." Doaku penuh ketulusan.


"Amin, Mbak. Lah bukannya itu yang dibawah pacar Mbak e, ya? ganteng loh mbak, kayak saya muda dulu."


Mendengar ucapan si bapak, aku spontan melihat Zakki yang ada di bawah. Terlihat dia mengarahkan handphonenya ke arahku, mungkin sedang foto.


Berhubung aku adalah model profesional yang cuma kalah nasib, melihat kamera menuju arahku spontan saja aku bergaya dengan segala rupa. Tak lupa aku mengajak bapak di depanku untuk ikut bergaya. Zakki hanya terbahak melihat kelakuan kami berdua. Ah, bahagiaku ternyata sereceh ini.


Aku turun dari Gajah setelah berjalan dua putaran. Kini gantian Zakky yang naik di atasnya. Aku memperhatikan Zakki yang sedang ngobrol akrab dengan bapak-bapak yang tadi denganku bahkan sesekali mereka tertawa dengan menatap ke arahku. Benar-benar mencurigakan.


"Mbak, tak doain setelah ini doa pingin kawinnya terkabul, ya?" teriak bapak tadi saat menurunkan Zakki dari gajah.


Dahiku hanya berkerut, tak tahu maksud bapak itu.


"Kalian ngobrolin apaan? kenapa dia ngomong kayak gitu?" tanyaku pada Zakki saat kami telah berjalan beriringan.


"Gak ngobrolin apa-apa, kok. Eh, gimana? seneng?"


"Seneng, kok. Makasih, ya?" jawabku dengan antusias.


"Tunggu aku punya alasan yang pas, aku janji akan berusaha terus membuatmu senang," ucap Zakki yang kini dengan raut muka serius.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Haloo ... lama, yak? Maafin, ya? sengajaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Hayooo ... mana tim Zakki? Mana juga nih suara timnya Damar?


Banyak yang bilang, kalau sesuai judul harusnya Saras sama Damar, yakin? Bukankah kalau sesuai judul Saras harusnya malah sama Langit?


Bibit Unggul Mas Duda, Di sini mas dudanya sapa? Damar, kan? Bibitnya? Langit, kan? Jadi sebenarnya judul tak mempengaruhi Saras harus sama siapa, kecuali kalau judulnya, 'Menikah dengan mas duda', lah kalau ini sudah jelas harus sama siapa. Sepakat ibu-ibu, bapak-bapak?πŸ˜…


So, tim siapapun kalian, coba sini rayu othornya dulu, kasih alasan kenapa Saras harus sama Damar atau Zakki. Pan biar sekali-kali othornya ada yang ngerayu gitu, gak Saras mulu.πŸ˜…πŸ˜…


Aku tungguin, ya, Guys.

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2