Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Go To KUA


__ADS_3

"Berjarak gimana maksudnya, Mas?" tanyaku dengan alis bertautan.


"Ya, kamu jangan terlalu dekat dengannya."


"Beri aku satu alasan pasti kenapa aku harus berjarak dengannya," ucapku lagi.


Aku sengaja ingin memastikan maksud dia yang sebenarnya.Jika memang perasaanku berbalas, bukankah ini saatnya dia jujur.


Sesaat terlihat Mas Damar seolah berpikir. Aku melihat raut wajah yang kebingungan. lagian apa susahnya berterus terang? bukankah ini justru membuatnya tersiksa?


"Kamu ... kamu terlalu polos, Ras. Aku takut jika dia hanya mempermainkanmu," jawab Mas Damar dengan sedikit terbata.


Aku tersenyum miring, tak menyangka jika dia akan berkilah dengan jawaban seperti itu.


"Aku kenal Zakki bukan hanya kemarin sore, kami sempat tumbuh bersama meskipun tak dekat, jadi aku yakin dia tidak mungkin seperti itu."


"Semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, Ras. Apalagi dia selama ini di kota ini, kan? ini Surabaya, pergaulan di sini amatlah bebas."


"Jadi menurutmu aku juga terjebak di pergaulan seperti itu? aku juga empat tahun di sini, tak curiga kah kamu padaku?" Ucapku penuh tekanan, entah kenapa mendadak ucapannya terdengar amat menyebalkan.


Mungkin lelaki itu memang tidak berniat berbicara begitu, tapi cara dia menilai seseorang amatlah tidak logis. Bukan hanya lantaran tinggal di kota besar lantas bisa mengubah sifat seseorang, Ada mungkin beberapa orang seperti itu, tapi Zakki? aku benar-benar tak yakin.


"Aku tak bermaksud begitu, Ras. Aku kenal kamu, jadi tak mungkin kamu begitu."


"Aku juga kenal Zakki, Mas. Jadi tak mungkin dia juga begitu. Sudah malam, aku mau istirahat dulu. Mas Damar istirahatlah, bukankah kamu juga baru sembuh dari sakit."


Aku berdiri dan beranjak dari sana, jangankan dicegah untuk tidak pergi, sanggahan dari ucapanku pun tak ada. jujur saja, sebongkah daging merah di dalam sini, sedikit kecewa.


***


Aku dan Arin sedang menyuapi Langit di taman samping. Bukan menyuapi, tepatnya aku hanya melihat Arin. Gadis itu melarang keras aku memegang Langit, bukan tak boleh, dia hanya takut lukaku belum sembuh benar. Bukan hanya Arin, seluruh penghuni rumah pun melakukan hal yang sama. Wanti-wanti dari Mas Damar benar-benar mereka jalankan.


"Ras, Ada tamu di depan." Suara Mbak Indri dari arah samping menghentikan aktifitasku.


"Siapa, Mbak?"


"Gak tau, cowok, ganteng banget, loh, pacar kamu, ya?" Dahiku berkerut, siapa? tak mungkinkan kalau itu Alvin?


Aku berjalan menuju ruang tamu, sedikit kaget melihat sang tamu yang sudah duduk manis di ruang tamu.


"Zakki?" sapaku yang membuat si empuhnya nama menoleh.

__ADS_1


Lelaki itu seperti biasa, tampil menawan dengan senyum manisnya.


"Selamat Pagi, Saras."


"Kok tumben?" tanyaku seraya mendekat dan mengambil tempat duduk di kursi samping lelaki itu.


"Sengaja, sih, mau ngajakin kamu jalan, mumpung aku lagi libur, kamu bisa, kan? atau kalau perlu aku ijin sama bos kamu."


"Kok dadakan banget? Mas Damar sudah berangkat kerja dari tadi. Bukan aku nolak, tapi aku gak enak aja. Ini kan masih jam kerja." Terlihat ada guratan kecewa di wajah Zakki.


Sejujurnya, akupun ingin sekali berjalan-jalan keluar. berdiam diri dirumah tanpa melakukan apapun benar-benar membuatku bosan.


"Pergi saja, Ras. Langit biar aku yang jaga. Sepertinya kamu juga butuh hiburan." Aku dan Zakki menoleh ke sumber suara.


Terlihat Arin sedang menggendong Langit, sepertinya makan bocah gembul itu sudah habis.


"Eh, Maaf kalau nyela dan gak sengaja nguping," ucap Arin sembari nyengir.


"Gak papa, Rin. Eh tapi serius kamu gak papa aku tinggal?" tanyaku lagi memastikan.


"Gak papa dong, Sudah pergi, gih, tapi pulang jangan lupa oleh-oleh, ya?" Lanjut Arin dengan terkikik.


"Oke deh, aku ganti baju dulu, ya?" pamitku kepada Zakki yang diangguki oleh lelaki itu.


"Itu dokter yang kemarin ngerawat kamu kan? Berat nih saingannya Pak Damar," bisik Arin saat kami bersisian di tangga.


"Dia cuma temen, Rin. temen kecil."


"Dulu sih temen, sekarang jadi demen."


"Gak mungkin juga kali, Rin. Tapi kalau bener pun, gak masalah kali, ya? minimal gak dapat Mas Damar dapat yang keren juga," ucapku sembari menaik turunkan alis.


"Huu ... dasar! tapi boleh juga sih. Paling gak, besok lebaran sudah bisa bawa mantu buat emak."


"Doakan, ya, Rin. Biasanya doa orang teraniaya sepertimu malah diijabah." Arin membulatkan mata menatapku.


"Teraniaya gimana maksudmu?"


"Iya, teraniaya karena jadi jomlo akut yang entah kapan status itu bisa di ubah." Wajah Arin berubah bengis, sebelum titisan Dewi Kali itu murka, akan lebih baik aku pergi dari sini.


Aku tertawa sembari berlari dadi sana. Terdengar teriakan Arin menggema seantero rumah. Aku lupa jika gadis itu suaranya sebelas dua belas denganku, seperti TOA masjid.

__ADS_1


Kaos Putih yang tak terlalu pres bodi dengan celana jenas hitam ditambah cardigan rajut dan sepatu kets warna putih menjadi pilihan outfitku hari ini. Entah mau diajak jalan-jalan kemana hari ini, semoga aku tidak salah kostum.


Zakki berdiri saat melihatku turun dari tangga. Hari ini, lelaki itu tampak berbeda dengan beberapa kali saat kami bertemu. Kaos oblong warna navy yang mencetak tubuh atletisnya, dipandu dengan celana jeans hitam serta ditambah dengan jaket kulit yang dia kenakan. Fix dia lelaki incaran para mertua.


"Syukurlah kamu pakai celana jeans," ucapnya saat aku sudah berada didepannya.


"Kenapa?"


"Aku bawa motor, gak papa kan kita naik motor, biar romantis," bisiknya dengan senyum tengil.


"Eh, Gak papa, kok. Tapi kamu bisa nyetir motor? setahuku dulu kamu gak pernah pakai motor."


"Eh, ngeremehin, sekarang jangankan nyetir motor, nyetirin rumah tangga kita berdua saja, aku bisa kok." Lagi-lagi gombalan receh Zakki terlontar. Bikin GR saja itu laki.


"Sekarang jadi tukang gombal, ya?" ledekku yang justru membuat dia tertawa lebar.


Aku dan Zakki berjalan beriringan menuju motor. Sebuah motor sport warna merah terparkir di halaman. Zakki menaiki motor setelah memakai helm full face miliknya, berasa lagi lihat si Boy anak jalanan. Tuh, Kan korban sinetron lagi.


Zakki menyerahkan helm. Saat tanganku ingin meraihnya, Zakki justru berganti haluan menarik tanganku.


Diluar dugaan, dia memakaikan helm itu padaku setelah sebelumnya menata rambutku ke belakang. Sekian lama berteman, aku baru sadar jika lensa mata Zakki berwarna coklat, dipandu dengan bulu mata yang lentik, serta ditambah hidung mancung yang bagaikan papan prosotan, Duh Gusti, pahatanmu kali ini nyaris sempurna.


"Sudah siap, Ratu. Ayo naik!" Aku gelapan sendiri, semoga saja Zakki tak sadar jika aku sedang melongo menatapnya.


Aku menaiki sepeda dengan dibantu sebelah tanganya. Sikap manisnya benar-benar berhasil membuatku terlena, bahkan aku nyaris melayang.


"Sudah siap?" tanyanya di depanku.


"Siap," Jawabku mantap.


"Oke, kita berangkat ke KUA," jawabnya sembari tertawa.


Aku hanya bisa memukul punggungnya sembari tersenyum. Sikap manis ini tak pernah ini aku dapatkan dari lelaki siapapun kecuali bapak.


Mas Damar, jika memang perasaanku memang tak kunjung berbalas, maafkan jika akhirnya hatiku luruh pada lelaki di hadapanku ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hayooo ... maunya Saras sama Zakki atau Damar? aku maunya sih sama Juragan Ipan😅


Selamat Datang buat para reader baru, semoga cerita absurd ini menghibur kalian😘😘

__ADS_1


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2