
"Sejujurnya, saya kecewa sama kamu, Ras. Saya mengajakmu kemari untuk menjaga Langit, tapi sekarang kamu malah membuatnya hampir celaka." Aku menunduk pilu mendengarkan ucapan Mas Damar.
Saat ini, bukan saatnya untuk membantah apalagi membela diri. Aku tahu persis sifat Mas Damar, jika dia sudah mengangkat tangan, itu tandanya dia benar-benar tak mau di sela.
Kulirik sekilas ke arah Nyi Blorong yang sedang berdiri di samping Mas Damar. Terlihat dia sedang tersenyum penuh kemenangan. Dasar permen karet sisa! tunggu saja pembalasanku!
"Kali ini, aku memaafkanmu, Ras. Aku anggap ini kesalahan pertama dan terakhirmu. Kamu tahu betul, sejak kejadian penculikan Langit tempo hari aku tak bisa toleransi tentang apapun yang berhubungan dengan keselamatan Langit, jadi saya harap kamu bisa bersikap lebih baik lagi," tegas Mas Damar yang membuatku mengangguk.
"Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Kejadian seperti ini tak akan terulang lagi, aku janji," ucapku masih dengan menunduk merasa sangat bersalah.
"Baiklah," jawab Mas Damar seraya berjalan masuk ke rumah.
Aku menghembuskan napas kasar. Lega rasanya kejadian ini tak membuatku di pecat.
"Kamu sudah lihat, kan resikonya menantangku? Kali ini kamu selamat, tapi kalau kamu masih bersikap sok, aku pastikan kamu terbuang dari sini, Babu!"
Usai berkata begitu, jelmaan Nyi Blorong itu mengikuti Mas Damar masuk ke dalam. Aah ingin rasanya kubungkam saja mulutnya itu dengan kaos kaki bekas. Dasar menyebalkan!
Aku mengikuti dua orang itu untuk masuk ke dalam. kulihat Arin sudah ada di sana dengan menggendong Langit. Sepertinya Mas Damar benar-benar marah, buktinya dia lebih memilih memanggil Arin daripada menyerahkan Langit padaku.
"Ada apa? kenapa wajah kalian tegang semua?" tanya Arin saat aku mendekat ke arahnya. Mas Damar sendiri sudah berjalan menuju kamarnya, tak lupa di susul dengan Nyi Blorong yang mengikutinya dari belakang.
"Aku hampir saja mencelakai Langit, dan Mas Damar marah besar," jelasku lesu yang membuat Arin menganga kaget.
"Kok bisa? bagaimana ceritanya?"
__ADS_1
"Nanti saja aku ceritakan. Aku mau menenangkan diri dulu, aku titip Langit sebentar, ya?" Aku berlalu menuju kamar tanpa menunggu jawaban Arin.
Saat melewati depan pintu kamar Mas Damar terdengar suara Nyi Blorong itu berteriak.
"Tapi babu itu sudah membahayakan anakmu, Mar!" Samar, masih bisa kudengar Angel membahas tentang kejadian barusan.
"Jangan pernah ikut campur urusanku, Angel. Akan lebih baik kamu pergi dari kamarku sekarang! Aku lelah!" Kini suara Mas Damar yang ganti mendominasi.
"Tapi, Mar!" sela Angel lagi.
"Sekarang!" Bentakan terakhir Mas Damar sepertinya berhasil membuat Angel bungkam.
Pintu kamar terbuka, terlihat Angel membuka pintu dan membantingnya keras. Melihat aku berdiri di depan sana, matanya menatap tajam padaku.
"Lihat apa? Kamu nguping? Dasar babu kurang ajar!" Spontan wanita itu mendorongku keras.
Aku menghempaskan tubuh begitu saja ke ranjang. Entah kenapa melihat sikap Mas Damar kepadaku, hatiku mendadak pilu. Dia memang memberiku kesempatan lagi, tapi aku tak tahu apa dia benar-benar telah memaafkanku.
Suara dering handphone berbunyi, tertera nama ibu di sana. Ahh ... wanita hebatku itu selalu saja tahu saat aku dalam masalah, saat aku butuh tempat untuk sekedar melepaskan penat.
"Assalammualaikum, Bu?"
"Waalaikum salam, Ras. piye kabarmu, Nduk? sehat kan?" sahutan dari sana membuatku tersenyum simpul. Hanya mendengarkan suaranya saja entah kenapa membuatku tenang.
"Alhamdulillah, sehat, Bu. Jenengan sama bapak pripun? sehat, kan?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat, Ras. Kemarin Adi tiba-tiba ke rumah terus kasih uang ibu, katanya itu kiriman dari kamu, bener?"
"Nggeh, Bu. Saras habis gajian, maaf kalau gak ngabari dulu, kemarin kebetulan Saras lagi keluar rumah, jadi sekalian transfer buat ibu dan bapak."
"Tapi kok banyak, Nduk? kamu punya pegangan di sana? Uang sisa panen kemarin masih ada, seharusnya kamu gak usah transfer dulu, kamu pakai buat keperluan kamu saja."
"Itu gaji pertama Saras jadi pengasuh, Bu. Alhamdulillah, gajinya memang lumayan. kemarin yang Saras transfer ke Ibu itu cuma sebagian aja, Saras masih pegang uang lagi, kok."
"Tapi kamu betah di sana?" Aku memejam sejenak mendegar pertanyaan ibu. Sebetah-betahnya aku di sini, akan lebih enak di rumah sendiri, berkumpul bersama keluarga.
"Alhamdulillah betah, Bu."
"Syukurlah kalau begitu. Kemarin Juragan Ipan kerumah lagi, Nduk. Dia tanyain kami terus."
"Terus, Bu?"
"Ya, tak jawab aja kamu betah di sana. Maaf gak bisa ngasih kepastian tentang lamaran dia, kami menyerahkan sepenuhnya padamu."
"Kenapa gak langsung di tolak aja toh, Bu?"
"Pinginnya begitu, Ras. Cuma ibu ndak enak. Kamu tahu kan, Ibu tak pernah berniat menjodohkanmu dengan juragan, tapi kamu tahu sendiri bagaimana jasa bapaknya juragan kepada kita. Itu yang jadi pikiran ibu."
Ah, iya, kejadian lalu itu entah kenapa jadi menjadi momok tersendiri bagi kami.
Lantas aku harus bagaimana?menolak permintaan itu, kami seperti orang yang tak tahu balas budi, tapi jika menerima, akankah aku siap? bersanding dan mengabdo seumur hidup dengan orang yang bahkan pantas kupanggil bapak?
__ADS_1
Gusti, berikan petunjukmu.