Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Seribu Batako


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


part 76


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mau menerimaku."


Mas Damar mengangangkat kedua tanganku yang berada dalam genggamannya. Mendekatkan pada bibirnya, dan mengecupnya dengan lembut.


"Sama-sama, Mas. Aku juga bahagia. Semoga ini awal yang baik untuk kita," ucapku yang diangguki Mas Damar tanpa merubah posisinya.


"Aku janji, aku janji akan memberikan segala cinta yang kupunya untukmu."


Mas Damar mengangkat wajahnya, menatapku dengan penuh kelembutan.


"Berikan aku cinta yang paling sederhana, Mas. Karena aku juga mencintaimu dengan sederhana dan sebatas kemampuanku. sebatas untuk terus berada di sisimu baik suka dan duka, dan sebatas melihat kamu bahagia karenaku."


Ah, entah berasal dari mana kata-kata yang kuucapkan ini, entah nyomot di fb atau bahkan di belakang truck pengangkut, tapi yang jelas, itu bukan hanya sekedar kata, aku tulus mengucapkannya. Setulus aku menerimanya masuk dalam hidupku.


Mas Damar tersenyum, melepaskan genggaman tangannya. Lelaki itu kini justru mengangkat kedua tangannya dan membelai lembut rambutku.


Mata kami saling beradu, senyum manis tak sedikitpun lepas dari bibirnya. Entah sengaja ditarik, atau justru aku yang mulai tertarik, perlahan wajah kami mulai mendekat.


Degub jantung mulai bekerja tak semestinya. Kudua tanganku yang bebas dibawah, saling meremas, merasakan kegugupan yang tak pernah kurasa. Pikiran berkata untuk pergi , tapi hati justru menyuruh untuk berhenti. Hei, hati dan otak, kenapa kali ini kalian tak sinkron begini.


Mas Damar makin mendekat. Aku pernah mendengar istilah, bahwa sesuatu yang indah bisa dirasakan dengan menutup mata. Kali ini, aku hanya mengingat pepatah itu, tapi kenapa mataku justru berkata lain? Dia bahkan menutup dengan sendirinya tanpa kusuruh. Ada apa dengan tubuhku? kenapa mereka seolah bekerja tanpa peduli perintahku?


Ada sebuah sentuhan lembut yang mendarat di bibirku. Tubuhku mendadak tersengat. Ada sensasi lain yang belum pernah kurasakan. Tak hanya itu, sebuah isapan dan ******* kecil pun terasa.


Aku merasakan, bahkan hatiku pun ikut bergejolak. Namun sayangnya, pengalaman pertama ini membuatku hanya diam dan pasrah, menikmati hasrat baru yang belum pernah aku temui.


Mas Damar menghentikan ciumannya, tapi lelaki itu tak menjauhkan sedikitpun wajahnya. Kini dia justru menyatukan keningnya dengan keningku. Kedua tangannya yang masih berada di kepalaku justru kini berpindah ke pipi, membelai lembut di sana.


"Mas," panggilku lirih. Lelaki itu membalas dengan bergumam.


"Ini ciuman pertamaku dengan seorang laki-laki. Bersyukurlah kamu dapat bonus ini."


Lelaki itu tak menjawab, justru kedua tangan yang semula membelai ikut berhenti seketika.


"Jadi, maksudmu selama ini kamu ciuman dengan perempuan?" tanyanya dengan menjauhkan wajah dariku.


Aku terdiam sesaat, mencerna ucapannya sembari melihat muka penuh tanya di wajah Mas Damar. Sesaat kemudian aku terbahak, tak habis pikir dengan pemikiran Mas Damar.

__ADS_1


"Ya, Allah Gusti, Mas. Di novel ini yang boleh sangklek itu cuma aku, Arin, dan Dini. Tapi kenapa sekarang kamu juga ikutan sangklek?" Ucapku dengan masih tertawa.


"Lah, bener juga, ya," jawab Mas Damar dengan muka bertanya-tanya.


"Mungkin si othor keliru kasih peran kita, Mas. Dia mulai oleng."


"Bener juga. Atau bisa jadi dia cemburu karena kita bakal nikah," ucap Mas Damar yang aku angguki setuju.


Emang author gak ada akhlak, kan dia yang pegang nasibku, kenapa jadi dia yang cemburu?


"Kalau begitu, ayo kita lanjutin di kamar aja," ucap Mas Damar hendak beranjak.


Aku menahan tangannya, lelaki itu pun duduk lagi.


"Nanti aja kita lanjutinnya, kasihan tuh para reader udah pada baper, mana cemilan batakonya udah mau habis." Mas Damar mengangguk dan terkekeh mendengar ucapanku.


"Jadi, apa benar kamu selama ini ciuman dengan perempuan?" tanya Mas Damar lagi.


"Mas!" teriakku dengan memukul keras lengannya. Lelaki itu justru tertawa terbahak. Membawa hangat yang menyelimuti sanubari.


***


Kulirik sekitar, tak terlalu banyak tamu, hanya beberapa saudara dekat yang diundang. Ruang tamu pun disulap mendadak menjadi tempat Akad. Duh, Gusti, kenapa jantungku berdebar tak karuan seperti ini?


Mas Damar mengulurkan sebelah tangannya. Dibantu ibu, aku menyambut uluran tangan Mas Damar dan duduk di sampingnya.


Penghulu telah siap, saksi dan wali pun sudah duduk manis. Di sini, malam ini, semua orang akan menjadi saksi tentang fase baru yang akan kujalani.


Masih kuingat jelas bagaimana keributan yang terjadi selama dua hari ini. Bagaiamana aku dan ibu harus memutari pasar untuk mencari baju yang sama sebanyak tujuh biji. Padahal ini hanya akad nikah, resepsi akan dilangsungkan nanti tak perlu juga baju yang seragam. Tapi memang begitulah wanita, semua selalu dibuat ribet.


Untuk mencari cincin pun tak semudah perkiraan. Tak banyak toko emas di sini yang menjual cincin sepasang, kalau pun ada ukurannya tak sesuai dengan jari Mas Damar. Berkat kekuatan uang, kami berhasil mendapatkan cincin yang sama lengkap dengan ukiran nama yang hanya perlu waktu dua hari. Tentu saja dengan bayaran 2x lipat.


Aji mengurus surat menyurat dengan baik. Bahkan surat pindah sementara Mas Damar dari Surabaya ke Madiun pun dia dapatkan dengan waktu cepat. Hanya saja bayarannya cukup mahal, nomor handphone gadis Mahasiswa yang sedang magang di desa sebelah. Memang mengambil kesempatan dalam kesimpatan itu bocah.


Aku dan Mas Damar pun bahkan sedikit bertengkar soal mahar semalam. Maharku yang menurutnya aneh menjadi bahan perdebatan yang sengit antara kami.


"Kamu yakin mau mahar itu, Ras? aku bisa kasih mentahnya, atau bahkan lebih dari itu," ucap Mas Damar mencoba bernegosiasi semalam.


"No, Mas. Aki tidak mau yang lain. Aku hanya ingin apa yang jadi maharku bisa berguna dan menjadi kenang-kenangan."


"Tapi malu nyebutinnya, Ras."

__ADS_1


"Mas Damar nolak? gak cinta sama aku?"


"Baiklah, baiklah, terserah maumu saja."


Aku tersenyum sendiri mengingat persiapan dadakan kami selama dua hari ini.


Penghulu kembali mengecek surat-surat kami, saat dirasa semua benar, dia memulai acara.


Mas Damar mulai menjabat tangan Bapak. Bisa kulihat tangan Mas Damar sedikit bergetar, padahal ini bukan pernikahan pertamanya.


Dengan dipandu penghulu, bapak mulai bicara, sesaat kemudian kini berganti Mas Damar yang membacakan ijab qabulnya. Terdengar Mas Damar sedikit menarik napas, hingga akhirnya sebuah kalimat yang menghalalkanku untuknya terucap.


"Saya terima, nikah dan kawinnya, Saraswati Anjani binti Suwardi, dengan mas kawin seribu batako, satu truk pasir dan semen dua puluh sak, dibayar tunai." Ucap Mas Damar dengan mantap.


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah" jawab para saksi dan tamu serempak.


Tanpa sadar setetes air mata lolos dari mataku. Bahkan dibelakangku bisa kudengar ibu sedang terisak.


Detik ini statusku berubah, aku bukan lagi gadis bebas yang bisa bertindak seenaknya. Ada tanggung jawab lain yang kini beralih dipundakku.


Bahagianya suamiku, dukanya suamiku, lapar dan kenyangnya serta lelah dan letihnya. Kini semua ini menjadi tujuan utamaku.


Doa telah selesai dibacakan, aku mendongak, tepat di depan sana dipintu masuk, aku melihat Zakki yang kini berbalik arah, dia menjauh, meninggalkan hatinya yang sempat tersakiti olehku.


Ikhlaskan aku Zakki ....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Horeee akhirnya sampai di part ini. Seneng aku euy, tapi Sialan itu Saras, berani-beraninya dia ngatain, gua lempar batako juga nih.


Hei, kalian, udah sampai mana? Noh ditungguin Saras, jangan lupa amplopnya, ya? Kalau gak bisa datang, kasih vote aja deh, dari kemarin itu peringkat kagak naik-naik.


Nungguin malam pertamanya? Sabaaarr, aku aja yang nulis sabar, biarpun baper dikit๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Bertanya-tanya soal Mas Kawin Saras? besok kita bahas di part selanjutnya yak.


Sudah dibelian begadang buat part ini, jadi jangan protes mulu, yakk.


Kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2