
Aku menghirup napas lega saat baru saja turun dari mobil. Delapan hari di rumah sakit, kini aku seakan merasakan kebebasan yang tak terkira. Benar kata orang, sehat itu amatlah mahal, aku pastikan itu.
Mas Damar membantu membawakan barang-barangku. Aku membuntuti lelaki itu untuk masuk ke dalam.
Sesampainya di sana, terlihat Mbak Indri, Arin dan yang lain berdiri di ruang tamu, mereka tersenyum dan kemudian menyambut kedatanganku.
"Selamat datang kembali di rumah, Saras," sambut Mbak Indri seraya mendekat ke arahku, dia mengelus lenganku sebentar, kemudian berbalik ke Mas Damar dan mengambil alih barang-barangku.
Arin dan yang lain pun ikut mendekat, terharu rasanya bisa mendapat perhatian seperti ini, padahal jika dihitung dari awal aku kerja, aku belum genap tiga bulan di sini, tapi mereka memperlakukan dengan sangat baik bahkan sudah seperti saudara sendiri.
"Selamat datang kembali, Ras. Rumah sepi gak ada kamu," ucap Arin.
Gadis itu menggendong Langit, aku menciumi bocah gembul yang menggemaskan itu. Sayang sekali aku belum bisa menggendongnya.
"Aku memang sengangenin itu," jawabku smebari kedip-kedip mata. Arin sontak memukul lenganku. Aku mengaduh membuat semua orang mendekat termasuk Mas Damar.
"Aduh, Ras. Maaf, aku lupa. Sakit banget, ya?" tanya Arin dengan nada khawatir.
"Kamu gak papa?" Mas Damar ikut menimpali.
"Yee ... ketipu, kan yang sakit sebelah sini," ucapku sembari menunjuk lengan kiriku.
Arin langsung menatapku kesal, sedangkan Mas Damar geleng-geleng kepala saja.
Setelah acara kangen-kangenan yang entah beneran kangen apa enggak, aku dibantu Mas Damar naik ke kamar. Semakin hari dia seperti bos rasa pacar saja, eeh belum jadi pacar ding.
Aku berjalan beriringan dengan Mas Damar, sedikit berbincang tentang masa depan bersama, yang ini jelas bohongnya, Yess'in aja yak wahai para reader.
Dering telepon membuat aku berhenti sesaat, melihat nama yang tertera di layar. Mas Damar pun ikut berhenti.
"Istirahat dulu, Ras. Kalian baru bertemu beberapa menit lalu, malah belum genap sejam, tak ada alasan jelas jika dia khawatir," ucap Mas Damar dengan berdiri di sampingku.
Aku mendongak menatapnya, Dia pun sama, untuk beberapa saat tatapan kami terkunci, hingga tanpa sadar panggilan dari Zakki pun terhenti.
Sesaat aku mengaggumi wajah tampan di hadapanku ini. Alis hitam pekat yang menunjukan ketajaman, hidung mancung yang mirip papan perosotan, dan bibir itu? Duh, Gusti jangan uji hamba dengan godaan yang belum tentu bisa hamba hindari.
__ADS_1
"Ayo!" seru Mas Damar memutus pandangan.
"Eh, cium! cium! cium!" Spontan aku langsung menutup mulut. Ah, dasar mulut lucnut, bisa-bisanya latah begitu, malu-maluin aja!
Mas Damar berlalu dengan senyum di bibirnya. Semoga tidak makin ilfiil saja lelaki itu padaku.
Sejujurnya, Aku masih belum mengerti jelas sifat Mas Damar akhir-akhir ini. Apalagi jika semua menyangkut Zakki, dia langsung memasang muka yang sangat sulit kuartikan. Apakah ada yang lagi panas tapi bukan kompor?
Mas Damar berhenti di depan pintu, membukakan pintu dan menyamping memberiku jalan.
"Istirahatlah! jangan lakukan hal berat dulu, kalau butuh apa-apa hubungi saja Mbak Indri atau aku," jelasnya yang membuat aku mengangguk.
Mas Damar menutup pintu lantas berlalu. Kirain mau sekalian ikut masuk dan jagain, ternyata cuma di bukain pintu, padahal aku udah siap banget bukain baju, eeh maksudnya bukain hati. Mohon maap wahai reader, Saras keceplosan mulu.
***
Waktu menunjukan pukul dua siang, akibat rindu dengan kamar, aku sampai tak sadar sudah tidur selama itu. Aku bangun dan memutuskan pergi ke kamar Langit, masih kangen sama bocah itu.
Arin sedang tidur saat aku masuk ke kamar. Langit pun sama. Mungkin mereka kelelahan, tak mau menganggu aku memutuskan keluar kamar lagi.
Aku turun ke bawah dan menuju dapur, Ada Mbak Indri dan Mbok Darmi yang sedang masak.
"Enggak, Mbak. Makasih. Nanti kalau lapar aku bisa ambil sendiri, kayak nyonya aja pakai disiapin," jawabku sembari terkekeh.
"Enggaklah, kamu kan lagi sakit. Lagipula ini perintah Pak Damar, kamu kalau butuh apa-apa kami harus siapin, tangan kamu kan masih sakit."
"Sudah agak mendingan, Mbak. Lagian cuma tangan kiri yang sakit, tangan kanan kan gak kenapa-kenapa. Aku cuma belum bisa gendong Langit, tapi untuk yang lain masih bisa."
"Buat gandeng Pak Damar juga masih bisa kan?"
Aku yang sedang minum langsung tersedak mendengar godaan Mbak Indri, Terdengar Mbok Darmi pun terkikik.
"Astaga, Mbak Indri, bikin keselek aja," omelku yang membuat Mbak Indri makin tertawa.
"Biasanya kalau orang salting kayak gitu, Ras."
__ADS_1
"Mbak Indri sudah kayak Arin, aneh-aneh aja ngomongnya. Aku cuma pengasuh Mbak, gak mungkin Mas Damar suka sama aku," jelasku dengan mengambil tempat duduk di meja makan.
"Lah, siapa yang bilang suka? kan aku cuma bilang gandengan. Ciye ... ciye, ada yang suka," ledek Mbak Indri lagi.
Sudah bisa kupastikan mukaku seperti kepeting rebus sekarang. Mbak Indri bisa tua secara usia, tapi untuk urusan ledek meledek, dia seperti remaja jaman now, menyebalkan.
"Siapa yang lagi suka, Mbak?"
Kami menoleh bersamaan saat mendengar suara dari arah lain.
Mas Damar berdiri di depan pintu dengan bersendekap, memamerkan wajah manisnya.
Selalu seperti ini, malu-maluin.
"Loh, gak balik kantor, Mas?" tanyaku mrmcoba mengalihkan perhatiannya. Mas Damar mendekat, mengambil tempat duduk di seberang mejaku.
"Males. habis jemput kamu tadi, aku langsung tidur di kamar. Jadi, siapa yang suka tadi?" Ini laki masih inget aja, padahal sudah di alihkan juga.
"Itu, Mbak Indri, lagi suka sama Pak Rusdi," jawabku sembari nyengir.
Mbak Indri manatapku tajam, sedangkan Mas Damar mengerutkan kening.
"Lah, emang dari dulu gak suka? lah emang dulu nikahnya dijodohin ya, Mbak?" tanya Mas Damar heran.
Aku? malah makin kaget. Bodohnya aku, masa bisa lupa kalau Mbak Indri dan Pak Rusdi suami istri.
Gusti, boleh gak aku nyemblung di empang sebentar? Aku malu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Woha ... ada yang gemes sama Saras? Sama, aku juga gemes. Ayo timpukin bareng-bareng, biar Saras sadar bahwa ngehalunya sudah ketinggian😂😂😂
Ada yang merindukanku? Gak ada? Ya, sudah aku pergi, mau nyari sarapan😅😅
Oh, ya, terima kasih untuk Kakak Susant Sing Rajputh, Eh bener kagak tulisannya gini? Maaf kalau salah, Kak. Terima kasih buat vote 5000-nya, aku lopein sekebon😍😍
__ADS_1
Terima kasih juga buat semua kakak-kakak yang sudah menyempatkan waktu dan poinnya untuk membaca dan vote karya recehku ini. Aku bukan apa-apa tanpa kalian.
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘