Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Kebo Masak Sop


__ADS_3

Zakki mengerjab beberapa kali, lehernya terasa sakit. Saat membuka mata pertama kali, lelaki itu sedikit kaget karena melihat televisi yang menyala, itu berarti dia sedang di ruang tamu.


Zakki makin kaget saat melihat orang di sampingnya. Di sebelahnya, ada yang Sea yang juga tertidur dengan merebahkan kepala di atas sofa dan dia sendiri? Bersandar di bahu gadis itu.


Zakki mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dia sadar tadi dia berniat menonton TV sebelum akhirnya dia ketiduran. Di perhatikannya wajah Sea yang terlelap di sampingnya.


Gadis itu tampak tidur dengan damai. Zakki tahu, Sea memang gadis yang cantik, tapi di saat tidur begini wajahnya jauh lebih terlihat cantik natural.


"Aku gak tahu kalau kamu ternyata menyimpan duka begitu besar. Padahal jika terlihat dari luar, kamu nampak begitu tanpa beban." Zakki bergumam sendiri.


Pemuda itu melihat jam di dinding. Sudah jam enam sore, sebentar lagi dia harus berangkat ke rumah sakit. Zakki hampir beranjak, tapi diurungkan. Tak mungkin dia meninggalkan Sea tidur seperti ini.


"Sea, bangunlah!" Zakki mencoba membangunkan pelan.


"Sea!" Masih tak ada sahutan.


Zakki yang memburu jam untuk salat Magrib akhirnya mau tak mau mengangkat tubuh Sea dan bermaksud memindahkannya ke kamar gadis itu.


Dengan sekali sentakan, Sea sudah berpindah ke pelukan Zakki. Gadis itu benar-benar tak terusik dengan perlakuan Zakki


"Dasar Kebo!" omel Zakki sebelum akhirnya membawa gadis itu ke dalam kamarnya.


Sembari berjalan, Zakki memandang lekat wajah Sea. Bukan sekali ini dia menggendong seorang perempuan. Di rumah sakit, saat urgent melanda terkadang Zakki sendiri yang mengangkat dan memindahkan pasien dari satu ranjang ke ranjang lain. Dari Anak kecil, ABG, wanita dewasa hingga nenek-nenek pun pernah ada dalam pelukannya.


Namun sekarang, perempuan yang ada dalam pelukannya bukanlah pasiennya. Sea adalah wanita pertama yang bergelar orang lain yang pernah dia gendong. Matanya terlelap damai, hidungnya meskipun tak terlalu mancung, paling tidak dia juga tak pesek. Dan bibir mungil yang kemerahan itu?


"Astaga, Zakki! Mikir apa kamu!" Zakki memaki dirinya sendiri. Tak mau berlama-lama dengan posisi seperti ini Zakki bergeges membawa Sea ke kamarnya.


Usai meletakkan Sea ke kamarnya, pemuda itu langsung kembali ke kamarnya sendiri dan bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah 30 menit bersiap, Zakki keluar lagi dari kamarnya, Niat dia yang hanya sekedar minum mendadak terhenti saat melihat makanan lengkap di atas meja.


"Bukankah gadis itu tadi bilang sedang masak? Baiklah, dari pada mubadzir, biarlah aku makan sedikit."


Zakki mengambil piring dan sendok sebelum menarik kursi di meja makan. Usai mengisi piringnya, lelaki itu mulai melakukan suapan pertamanya.


"Tidak buruk. Ternyata gadis selebor itu bisa masak juga."


Zakki terus menikmati makannya dalam diam. Sejujurnya, dia amat merindukan masakan rumah seperti ini. Di rumah sakit, memang banyak sekali masakan khas rumahan seperti ini, tapi rasanya tentu saja berbeda. Perlahan pemuda itu memghembuskan napas, Zakki merindukan ibunya.


Sea belum menampakkan batang hidungnya semenjak tadi. Iyalah batang hidung, soalnya Sea gak punya batang yang lain. Skip!


Tak menunggu lagi, Zakki pun berangkat menuju rumah sakit. Meninggalkan Sea yang masih terlelap dalam tidurnya.


***


"Itu bedak masih utuh, kagak ada pasien?" ledek Zakki sembari terkekeh.


Digoda seperti itu, Reno langsung memasang muka garang. "Anjir! Emang aku si Rahayu, yang kalau dempulan setebel kenangan mantan?"


Zakki terbahak mendengar jawaban Reno. "Itu mantan apa buku jurnal? Tebel amat."


"Orang-orang pinter jaga kesehatan sekarang, UGD sepi seharian ini."


"Bagus deh, aku juga bisa tidur ntar malam."


"Eh, Zakk. Tadi dapat nasi tuh dari suster Rina. Dia ultah, mangkanya ngasih traktiran. Makan gih, biasanya kan kamu ke kantij dulu sebelum kerja." urai Reno smebari memberi bungkusan nasi tersebut ke Zakki.


"Ntar aja deh. Aku udah makann di apartemen."

__ADS_1


"Tumben."


"Sea masak, daripada mubadzir, ya aku makan."


Reno menyipitkan mata mendengar Zakki menyebut nama Sea. "Wah, udah mulai main masak-masakan sekarang? Besok bisa jadi kamar-kamaran nih."


Zakki spontan melempar buku ke arah Reno, sedang dokter muda itu langsung terbahak.


"Atau jangan-jangan memang udah main di kamar?" tanya Reno penuh selidik.


"Jangan mikir aneh-aneh. Bukan seleraku!"


"Jangan sesumbar dulu, Bro. Ingat pepatah jawa. Writing tresno jalaran soko kulino. Lagian, kalian berdua kan memang sama-sama single kalau memang saling nyaman, gak ada yang salah."


"Aku masih belum bisa ngelupain Saras sepenuhnya."


"Jangan hanya terpaku di tempat aja, Bro. Kamu harus terima kenyataan kalau Saras tak mungkin lagi kamu miliki. Lagipula, bukannya kamu bilang ikut senang karena Saras kelihatan bahagia?" Zakki mengangguk menjawab pertanyaan Reno.


"Sudah saatnya kamu bangkit. Bukan Sea yang gak masuk kriteriamu, tapi kamu sendiri yang memaksa semua orang agar berubah seperti Saras. Dan itu gak mungkin. Meskipun nyeleneh, Sea terlihat gadis yang baik, dia bakalan cocok untuk ngisi hidupmu yang lempeng aja kayak foto KTP."


Usai berkata demikian, Reno pergi menuju kamar mandi. Zakki berpikir sendiri, benarkah dia memang terlalu terpaku dengan sosok Saras? Sea? Entah kenapa tiba-tiba bibir Zakki melengkung tipis, "Apa gadis kebo itu sudah bangun?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuhuu ... Jangan ada yang tanya Denis! Dia lagi nyabut singkong di belakang rumahku!


Eh, kalian, jangan lupa mampir ke lapak Mbak Embun dan Arjuna, yak. Arjuna mah ngajarin kalian ngedeketin tante-tante🤭🤭


Kecuo jauh untuk kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2