
Hari ini aku bersiap untuk pulang, rindu sekali dengan kasur kamar rasanya. Rindu dengan Langit, rindu dengan Mas Damar juga tentunya, eaa ... eaa ...
Sembari menunggu Mas Damar pulang dari meeting dan menjemput, aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke taman rumah sakit. Bosan terus-terusan berdiam dikamar terus.
Suara handphone berdering, terlihat nama Ibu tertampang di layar. Sejak kejadian dengan Angel kemarin, aku belum menghubungi wanita terkasihku itu.
"Hallo, Assalammualaikum, Bu," jawabku menjawab salam.
"Waalaikumsalam, Nduk. Kamu piye kabare, beberapa hari ini ibu kok kepikiran kamu terus, mau telpon kok gak ada pulsa, kalau nungguin kamu yang telpon, mau sampai BTS rilis lagu religi juga gak bakal telepon," omel Ibu yang membuatku terbahak.
"Ibu tahu BTS?" tanyaku penasaran, heran saja, aku sendiri gak hapal personil BTS, bagaimana ibu bisa tahu?
"Tau, mereka yang seneng joget-joget itu, kan? mereka menang putih saja, coba kalau bapakmu putih juga, gak kebanyakan di sawah, pasti bapakmu gak kalah ganteng sama mereka." Aku makin terbahak mendengar ucapan Ibu.
"Jelas bapak ganteng, Bu. Kalau enggak dari mana punya bibit anak gadis bak Nia Ramadhani gini?"
"Yo jelas karena ibumu juga ini. Wong dulu ibu pas muda jadi kembang desa kok, inceran pemuda tetangga sebelah," protes ibu tak terima.
"Injjih, Bu. terserah ibu ae. Ibu pripun kabare?"
"Ibu baik. Lah tadi ibu kan tanya kabarmu, kok malah belum dijawab?"
"Eh, iya, Saras baik, Bu," jawabku berbohong. Tak mungkin aku mengatakan keadaanku yang sesungguhnya, bisa-bisa ibu khawatir dan langsung nyusul kemari.
Dari jauh, kulihat Zakki datang mendekat, aku melambaikan tangan untuk membalas sapaannya. Lelaki itu langsung duduk di sampingku, mendengarkan aku mengoceh dengan ibu.
"Eh, Bu aku ketemu Mbah Ciplek loh di sini, ini orangnya ada di sampingku," ceritaku yang membuat Zakki menoleh.
"Mbah Ciplek sapa? Memangnya ibu kenal? nama kok aneh gitu," gerutu ibu.
"Walah, Bu. Ituloh si Zakki, anak Pak Kasmadi yang dulu sering Saras ledekin." Zakki menoleh lagi kepadaku, kali ini tangannya pun mengacak-acak pucuk kepalaku. Jadi ingat Mas Damar.
"Oh, iya-iya, Ibu ingat. Kerja dimana sekarang itu anak?"
"Jadi dokter sekarang, Bu. Mana ganteng lagi sekarang, padahal dulu kan ingusan mulu," ucapku seraya tertawa, Zaki melotot tajam ke arahku, sebelum akhirnya dia merebut handphoneku.
"Assalammualaikum, Bu. Ini Zakki. Ibu apa kabar?" ucapnya menyapa ibu.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, aku tak bisa mendengar ucapan ibu, saat aku menyuruh Zakki untuk loudspeaker, lelaki iti menolak.
__ADS_1
"Njiih, Bu. Jenengan bantu doa, nggeh? Doakan semoga doa jenengan sama doa saya satu tujuan dan langsung tembus ke langit," ucap Zakki seraya tersenyum.
Aku hanya mengerutkan kening, tak tahu apa yang jadi bahan perbincangan mereka. Lagipula sejak kapan mereka jadi akrab begitu? setahuku dulu, si Zakki juga gak pernah main kerumah. Namun, bagaimana mau main ke rumah kalau tiap ketemu, dia habis menjadi bahan bullyanku. Duh, Gusti ampuni kelakuan hamba di masa lalu, hamba janji, setelah menjadi istri Mas Damar nanti, hamba akan menjadi istri yang sholehah, Janji! kalau aku lalai, kutuk saja aku jadi makin cantik, hamba ikhlas.
"Ngobrol apaan sih sama ibu? kok kalian jadi akrab banget?" tanyaku setelah menutup panggilan dari ibu.
"Rahasia dong, obrolan calon mantu dan mertua," jawabnya dengan tertawa.
"Halaah lagakmu!" timpalku tanpa menganggap serius ucapan Zakki.
"Kapan nikah, Zak? sudah ada calon pastikan?" lanjutku seraya mengubah posisi menghadapnya.
"Ada, sayangnya ...." jawab Zakki menggantung.
"Sayang kenapa?" tanyaku penasaran.
"Aku gak kenapa-kenapa, Sayang," jawabnya dengan terbahak, sontak aku memukul lengannya.
"Gombalan receh anak SMA tuh," cibirku.
"Oh, ya? berarti pernah digombalin kayak gitu juga dong?"
"Mereka aja yang ****, gak bisa lihat kalau ada Mutiara di balik tepung rempeyek."
"Ya, memang gak ada dodol! Dibalik tepung rempeyek adanya cuma udang, minimal kacang," bantahku
"Laah, emang sudah ganti? perasaan dulu pepatahnya begitu?" jawab Zakki yang malah berbalik tanya.
"Ish, bercanda mulu nih daritadi. Seriusan, kamu kapan nikah? besok nikahnya di sini apa di desa?"
"Sapa yang bercanda, seriusan aku. Kamu siapnya kapan, aku pasti langsung tentuin tanggal."
"Bodo amat, ah." jawabku yang mulai sebal, dan sedikit berharap tentunya. Ah, elah Saras, di gombalin dikit langsung meleleh, kan. Kebiasaan!
"Ih, Ngambek. Makin cakep deh," jawabnya sembari tangannya menusuk-nusuk pipiku.
"Ehem, Ras," Sebuah sapaan dan usapan di rambut membuatku menoleh.
Mas Damar berdiri di sampingku dengan senyum manisnya. Zakki yang semula masih tertawa penuh kemenangan berhenti seketika. Aku sendiri sedikit terkejut dengan tindakan Mas Damar, sejak kapan dia hobi elus-elus rambutku? kan pipiku jadi ngiri.
__ADS_1
"Eh, Mas. Sudah datang," ujarku sembari berdiri di sampingnya.
"Ayo pulang. Aku tadi nyariin kamu di kamar, taunya ada di sini."
"Bosan di kamar, Mas." Mas Damar mengangguk, sesaat kemudian dia meraih telapak tangan kiriku, mengajakku pergi dari sana.
Belum tuntas rasa kagetku dengan tindakan Mas Damar, tangan kananku tertahan sesuatu.
Zakki menahanku, membuatku terhenti, Mas Damar yang mungkin merasakan aku berhenti ikut berbalik.
Woyoo ... adegan sinetron banget ini. Dua orang lelaki tampan memperebutkan satu orang wanita cantik nan jelita. Berasa terbang aku tuh.
"Ras," panggil Zakki.
"Iya?" tanyaku dengan berlagak sok cantik.
"Jangan lupa, dua hari lagi datanglah untuk kontrol bekas lukamu." ucapnya yang membuat wajahku langsung tertekuk.
Ah, elaah ... kirain bakal ada adegan drama yang kayak di tipi-tipi itu, Zakki memohon-mohon agar aku jangan pergi, ternyata cuma ngingetin kontrol. Dari sini aku jadi sadar, kalau aku sudah jadi korban sinetron kayak Dini.
"Oke," jawabku dan bersiap untuk kembali berjalan.
"Ras," tahan Zakki lagi.
"Ada apa lagi?"
"Jaga diri baik-baik." Kali ini aku mengangguk dan tersenyum tulus. Paling tidak dia maaih mengkhawatirkan keadaanku.
"Ayo Ras!" seru Mas Damar yang membuatku kembali menoleh padanya.
"Aku duluan ya, Zakk. Assalammualaikum," pamitku
"Waalaikumsalam." Masih kulihat Zakki terpaku di tempatnya. Entah kenapa aku bisa merasakan perubahan raut wajahnya sejak kedatangan Mas Damar tadi. Apa itu? entahlah.
"Ras, Dokter itu sepertinya menyukaimu," ucap Mas Damar saat kami berjalan hendak ke kamar.
"Kami hanya teman, Mas."
"Itu menurutmu, tidak menurutnya. Jika memang kamu tak punya perasaan yang sama padanya, sebaiknya jangan memberi harapan," terang Mas Damar yang membuat dahiku menyipit.
__ADS_1
Ada apa dengan lelaki ini?