
Aku dan Dini sengaja sembunyi saat lelaki tersebut mendekat ke arah pagar. Terlihat Nita yang sedari tadi main handphone di teras depan kamarnya bangkit dan menemui lelaki itu.
"Iya, nyari siapa ya, Pak?" tanya Nita pada lelaki itu.
"Benar Mbak Saras dan Mbak Dini tinggal di sini?"
"Iya, benar. Bapak dari mana? Nanti akan saya panggilkan mereka," Nita memang pintar, tahu saja kami juga menunggu siapa lelaki itu sebenarnya.
"Saya supir Pak Damar, beliau menyuruh saya menjemput mereka," jelasnya yang membuatku dan Dini saling pandang. Tak menyangka Mas Damar sampai menyuruh sopirnya untuk menjemput.
"Oh, iya. Baiklah. Bapak duduk dulu saja, saya panggilkan mereka dulu." Aku dan Dini segera masuk ke kamar dan pura-pura tidak tahu.
"Ras ... Saras, ada tamu, nih?" Terdengar panggilan Nita dari luar.
Aku yang sedari tadi berada di balik pintu pun segera membukakan pintu.
"Eh, Dini di sini juga. Kebetulan, kalian berdua dicariin orang tuh," ucap Nita saraya menunjuk lelaki yang menunggu tadi.
"Ouw, iya, Makasih, ya, Nit," ucapku yang diangguki Nita sebelum akhirnya ia kembali ke kamarnya.
Aku keluar menemui lelaki yang mengaku supir Mas Damar. Setelah berbasa-basi sebentar, aku pun kembali ke kamar dan menyanggupi untuk segera bersiap. Dini pun kembali ke kamarnya dan ikut bersiap.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit, akhirnya di sinilah kami, di dalam mobil mewah mirip Mas Damar. Baru ngerawat anaknya beberapa minggu aja sudah diperlakukan sebaik ini, apalagi jadi istrinya? Pasti dapat service lengkap kanan, kiri, depan, belakang, komplit.
Entah berapa lama kami di perjalanan, aku dan Dini sama-sama sibuk hingga tak sempat melihat berapa lama waktu yang kami tempuh. Dini sibuk berswafoto yang katanya mau dipamerin di instagramnya, aku sendiri sibuk mengaggumi mobil mewah ini, sembari membayangkan duduk bersanding dengan Mas Damar. Syahdunya.
Bangunan tinggi menjulang tepat berada di depan kami. Biasanya saat liburku dan Dini kebetulan bareng, kami seringkali melewati tempat ini saat hendak berjalan-jalan. Kami selalu membayangkan bagaimana rasanya memakai baju kantor dan sepatu heels seperti para karyawan-karyawan itu. Ya, kami memang senorak itu.
Setelah menurunkan kami, sopir Mas Damar itu menyuruh kami menemui seseorang di meja resepsionis, katanya wanita itu yang akan mengantarkan kami menemui Mas Damar.
"Maaf, Mbak. Ada perlu apa? Kalau lowongan pekerjaan, mohon maaf kami tidak membutuhkan karyawan baru," ucap salah satu mbak resepsionis itu dengan muka sedikit jutek.
Aku dan Dini saling pandang, memang penampilan kami seperti orang yang butuh pekerjaan?
"Maaf, Mbak. Kami mau bertemu Mas Damar," ucapku yang membuat mbak-mbak berlipstik menor itu makin memasang wajah jutek.
"Kami sudah ada janji, Mbak. Telepon Mas Damar sekarang! Dan bilang Saras dan Dini sudah datang!" bentakku tak kalah songong.
Kami memang kampungan, tapi kami juga punya harga diri yang perlu kami jaga. Kita di sini gak lagi ngemis apalagi bikin onar, seenaknya saja mereka memperlakukan kami. Belum kenal Saras dia.
"Kamu ngelunjak, ya? Pak, satpam! Tolong usir mereka," teriaknya pada seorang satpam yang sedang berjaga di pintu masuk. Merasa dipanggil, satpam itu pun mendekat.
"Usir mereka! Lain kali kalau ada orang asing masuk, tolong tanyain keperluannya apa. Ini bukan jalan umum yang bisa dilewatin kapan aja!" hardik wanita itu dengan begitu sombongnya. Ingin rasanya aku sumpal itu mulut dengan kaus kaki bekas yang sudah seminggu belum aku cuci, nyahook ... nyahook deh.
__ADS_1
"Tapi mereka tamu Pak Damar, Mbak. Pak Rusdi sendiri yang jemput mereka. Pak Damar juga tadi telepon saya kalau mbak-mbak ini datang, Mbak Mayang di suruh mengantar mereka menemui beliau," jelas Pak Satpam.
Muka si mbak make-up menor itu langsung berubah, yang tadinya penuh amarah kini makin menjadi merah padam, entah karena makin emosi karena merasa dipermalukan atau karena malu telah mengusir orang tapi salah sasaran.
Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung keluar dari ruangannya dan mengantarkan kami menemui Mas Damar. Beberapa pasang mata menatap kami dengan pandangan yang sulit diartikan, bahkan ada yang terang-terangan menampilkan senyum sinis. Aku melihat penampilanku dari atas sampai bawah, kemudian beralih menatap Dini. Tak ada yang salah, jadi kenapa mereka seperti itu?
Mbak menor mengetuk sebuah ruangan, setelah beberapa saat terdengar sahutan dari dalam, ia pun mengisyaratkan kami masuk. Terlihat di sana ada Mas Damar sedang menggendong Langit, dia tersenyum saat melihat kami.
"Masuk, Ras, Din," perintahnya yang membuat kami dengan senang hati masuk begitu saja. Aku yang sudah merindukan Langit langsung meminta izin untuk mengambil alih memggendongnya, Mas Damar pun tak keberatan.
"Jadi, gini, tujuan saya menyuruh kalian kemari ialah saya ingin kalian bekerja di sini sebagai ucapan terima kasih saya," jelas Mas Damar yang membuat aku dan Dini berpandangan dengan mata berbinar.
"Buat Dini, aku mau kamu kerja di kantor ini sebagai staf marketing, melihat basic kalian yang bekerja di toko, saya rasa kalian mampu di bidang ini, bagaimana, Din? Setuju?" tanya Mas Damar kepada Dini.
"Setuju, Mas. Setuju banget. Ini sudah cita-cita saya dari dulu. Mamak pasti bangga anaknya kerja kantoran," jawab Dini dengan tersenyum lebar. Aku dan Mas Damar hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Buat Saras, aku pinginnya kamu kerja di rumah saja, jagain Langit. Eeh tapi bukan berarti kamu jadi baby sitter loh, kamu hanya perlu mengawasi dan menjaga Langit, nantinya akan ada baby sitter yang membantumu merawat Langit. Aku belum sepenuhnya percaya kepada orang lain, aku takut kejadian kemarin terulang lagi, kalau ada kamu mungkin aku akan lebih tenang. Bagaimana?" tanyanya kini gantian kepadaku. Aku berpikir sejenak tentang tawarannya itu. Bukan berpikir untuk menolak, justru aku sedang berpikir, mungkin inilah jalan takdir yang membuatku menjadi nyonya rumah besok. Terima kasih, Gusti.
"Kamu cukup mengawasi Langit. Kamu juga yang pegang kendali untuk semua urusan Langi. Pakaian, susu, diapers, pokoknya semua. Kamu tak perlu turun tangan, kamu tinggal minta bantuan ART yang lain," jelas Mas Damar lagi saat aku belum memberi jawaban. Mungkin dia takut aku menolak, padahal siapa yang akan menolak kesempatan berlian ini.
"Mau, Mas. Aku mau banget," jawabku antusias. Jangankan cuma jadi baby sitter, jadi ibu sambung saja aku mau.
__ADS_1
"Ok, siip. Jadi kapan kalian bisa mulai bekerja?" Aku dan Dini saling berpandangan. Pekerjaan ini jelas lebih menjanjikan dari pada sekedar menjaga toko, tapi di sisi lain ....