Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Balas Budi


__ADS_3

Aku, Langit dan Arin turun ke lantai bawah susai perintah Mas Damar. Kata Arin, bosnya itu selalu mengajak makan malam bersama. Dia akan makan terlebih dahulu, setelah itu dia bergantian mengajak Langit dan menyuruh Arin makan.


Sebagai majikan, sebenarnya bisa saja dia tak repot-repot menggantikan Arin untuk makan. Dia bisa menyuruh orang lain juga mengajak Langit tanpa harus tergesa-gesa makan. Namun, kata Arin, dia tidak mau menganggu yang lain, semua sudah punya tugas masing-masing. Lagi pula, dia juga ingin bermain dengan Langit sebentar sebelum putranya itu tidur. Benar-benar majikan yang baik hati.


"Rin, seperti biasa, aku makan dulu, nanti gantian," ucap Mas Damar kepada Arin.


"Mas, maaf. Biar aku gantian saja sama Arin. Mas Damar makan saja dengan tenang," ucapku menyela. Mungkin diantara para asistennya, cuma aku yang sering protes.


"Tidak usah, nanti kemalaman kalian makan. Biar nanti Langit aku jagain, kalian makan berdua." Aku dan Arin mengangguk bersamaan.


Mas Damar menuju meja makan, sedangkan aku dan Arin menuju ruang keluarga untuk bermain dengan Langit. Rumah ini benar-benar porsi lengkap, untuk anak seusia Langit yang bahkan duduk saja belum bisa sudah disediakan begitu banyak mainan.


Beberapa menit berlalu, Mas Damar muncul. Dia lantas ikut duduk bersama kami di karpet bawah.


"Ras, kamar kamu ada di kamar sebelah Langit. Nanti Langit biar tidur sama Arin seperti biasa," jelas Mas Damar sebelum kami beranjak.


"Apa tidak sebaiknya Langit tidur sama aku aja, Mas? Fungsinya aku tidur di sini kan, buat ngawasin Langit. Bukan berarti aku gak percaya sama kamu, loh, Rin," ujarku menghadap Arin. Gadis itu mengangguk mengerti maksudku.


"Sebenarnya dari awal aku ngajak kamu kemari, kan memang untuk jagain Langit, aja. Untuk segala keperluannya biar Arin yang ngerjain, termasuk nungguin Langit tidur. Tapi, kalau kamu merasa begitu, ya, sudah gak masalah. Besok pas kamu sudah stay di sini, gantian aja sama Arin, biar sama-sama bisa istirahat," urai pak bos tampan itu.


"Oke, Mas. Malam ini biar Arin istirahat dengan tenang dulu," ucapku yang diangguki Mas Damar.


"Istirahat dengan tenang, dipikir aku mau mati?" protes Arin saat kami berjalan menuju dapur. Aku hanya tertawa saat mendengar ucapan gadis itu.

__ADS_1


Malam itu, seusai makan malam, aku membawa Langit kembali ke kamar. Sedangkan Mas Damar sendiri menyiapkan keperluannya untuk berangkat ke Bali. Dia bilang, akan ke bandara sekitar jam sebelas malam, kalau tidak ada kendala dan masalah lain, mungkin besok malam sudah pulang. Kasihan Mas Duda, ganteng, kaya, sayangnya pingin apa-apa dikerjain sendiri.


Sampai di kamar, Langit sudah dalam keadaan tertidur. Sama seperti dulu, setelah di beri susu, dia akan dengan gampang tertidur. Kuletakkan dia pelan-pelan di atas tempat tidur, kutepuk-tepuk sedikit seperti biasa, dan dia pun makin terlelap.


Kuambil ponsel yang dari tadi kuabaikan. Sepuluh panggilan tak


terjawab dan beberapa pesan whatshapp yang berjejeran. Hampir semua panggilan dari Alvin, kecuali satu kontak yang amat kurindu, Ibu.


Tak memedulikan panggilan lain, aku segera menghubungi nomor ibu kembali. Seingatku, terakhir kami berkomunikasi seminggu yang lalu saat aku pergi bersama Alvin. Mumpung punya pulsa biarlah aku yang menghubunginya terlebih dahulu, karena biasanya nunggu ibu dulu yang telepon.


"Assalammualaikum, Nduk," jawaban dari seberang sana langsung terdengar.


"Waalaikumsalam, Bu. Pripun kabare?"


"Saras sehat, Bu. Sehat banget malah. Sekarang saras gak bakalan maem soto, kare, rendang dalam bentuk mie instan lagi, Saras sudah enak sekarang, Bu." Ceritaku dengan sangat antusias.


"Lah, kok bisa gitu? Kamu punya pacar orang kaya, ya? Jangan yang aneh-aneh loh, Ras. Mending kita hidup seadanya dari pada berbuat dosa. Siksa neraka itu pedih, Nduk." Aku cuma memutar bola malas mendengar ucapan ibu. Sudah menjadi kebiasaanya berprasangka tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Mboten, Bu'e. Dengerin Saras cerita dulu, to. Saras ini sekarang kerja jadi baby siiter, tinggal di rumahnya juga. Mangkanya sekarang Saras makan enak terus, rumahnya gede, Bu," kicauku tak kalah cepat dengan burung beo.


"Kamu jadi pembantu? Loalah, Nduk. Kenapa? Kan enak jadi pegawai toko seperti kemarin. Nanti kalau juragan kamu macam-macam gimana? Aduuh kok jadi ingat sama film si Kanjeng Doso, ituloh sinetron yang istrinya banyak." Lah, kan? Gini nih, kalau korban sinetron, kejauhan mikirnya.


"Masya Allah, Bu. Di sini Saras cuma disuruh jagain bayi doang. Banyak temannya juga. Ibu kebanyakan nonton sinetron sih, juragannya Saras ini duda, Bu, Jadi gak mungkin kalau dijadiin istri kedua."

__ADS_1


"Oalah ... yawes, ibu lega kalau gitu. Gini, kemarin juragan Ipan datang lagi ke Ibu, nanyain kamu. Ibu sama Bapak wes sepakat nolak, ibu alasan kamu wes punya pacar, jadi besok kalau lebaran kamu pulang gak bawa pacar, ya wes emboh. Ibu bingung nek mesti cari alasan lagi." Sejenak, wanita pemilik surgaku itu terdiam. Terdengar dia menghela napas.


"Kamu tahu, to, Ibu memang tak pernah berniat menjodohkan atau memaksamu menikah dengan juragan Ipan. Namun, kamu tahu, kita banyak hutang budi sama mendiang bapaknya juragan. Berkat dia, kamu berhasil sekolah sampai SMA. Ibu juga ndak rela kamu jadi istrinya, dia lebih pantes jadi pamanmu."


Kini giliranku yang mengehela napas mendengar ucapan ibu. Benar memang, kalau bukan karena Pak Sardi --bapak juragan Ipan-- tak mungkin kehidupan kami seperti sekarang.


Bapak pernah mengalami kecelakaan waktu aku masih kecil, sebelah kakinya tepat dibagian paha terluka parah. Bahkan saat itu, beliau harus menjalani dua kali operasi untuk memasang platina, alat yang katanya bisa membantu untuk berjalan kembali.


Setelah kecelakaan itu, kaki bapak pincang, tak banyak yang bisa dia lakukan. Saat itulah Pak Sardi datang membantu, beliau mengajak bapak bekerja di tempatnya, gudang benih windu. Melihat kondisinya, bapak sengaja diberikan pekerjaan yang ringan. Hingga akhirnya kami bisa menebus kembali sawah yang tergadai untuk biaya operasi bapak dulu.


Pak Sardi juga sering memberi upah lebih pada bapak, untuk biaya sekolahku katanya. Sejak itulah, kami selalu merasa berhutang budi pada beliau.


"Doain, Saras saja, Bu. Supaya benar-benar bisa mengenalkan calon Saras pada Ibu lebaran besok. Lagian juragan Ipan gak kayak yang di sinetron-sinetron itu, kan? Yang kalau aku gak mau nikah dengannya rumah sama sawah disita?" tanyaku sedikit khawatir. Amit-amit, jangan sampai kejadian seperti itu terjadi beneran.


"Ibu sing nonton sinetrone, kowe sing lebay. Yo enggaklah, wong kita juga ndak punya utang uang sama mereka. Ibu cuma sungkan aja kalau ketahuan bohong. Bilang kamu sudah punya pacar padahal ndak laku."


"Ya Allah, Ibu. Amit-amit, tega banget ngatain anaknya gak la--."


"Ras, kamu sudah tidur?" Belum juga aku meneruskan obrolan, suara panggilan terdengar dari balik pintu.


"Loh, Ras. Kuwi sopo? Kok suarae lanang?"


Mati aku! Maning-maning koyok ngene.

__ADS_1


__ADS_2