
Aku mengunci pintu tepat saat Alvin menatapku. Sebuah senyum manis yang dulu bagai magnet kembali ia tunjukkan hari ini. Aku tersenyum kecut mengingat hal itu, kemana semua rasa kagum itu?
"Pagi, Ras. Mau berangkat kerja?" tanyanya sembari berlagak membukakan pintu pagar untukku.
Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa semua perbuatan Alvin terlihat hanya pencitraan semata? Bukankah ini yang selama ini aku tunggu? Andai kutahu akan seperti ini, lebih baik tak pernah ada pernyataan cinta sama sekali.
Kupaksakan senyum semanis mungkin untuk menjawab pertanyaannya. Sebuah anggukan kecil pun tak lupa aku berikan.
"Aku antar, ya, Ras?" tawarnya setelah aku mendekat.
"Akhirnya, tuan putri keluar juga," ucap Dini seraya mengedip-kedipkan mata. Dia kelilipan?
"Ngapain sih? Katanya mau berangkat?" omelku pada Dini yang makin cengengesan tak jelas.
"Iya-iya, ini mau berangkat. Ya, sudah aku pergi, lanjutin deh pacarannya, daah sayang," pamit Dini sembari melambai-lambaikan tangan.
"Kamu gak kerja?" tanyaku pada Alvin saat kulihat Dini sudah menjauh.
"Baru jam tujuh, masih keburu," jawabnya dengan gaya andalannya, menyimpan tangan dalam saku celana. Iish ... kenapa mendadak aku jijik?
"Lah, terus pagi-pagi kamu di sini ngapain?" jangan bilang sengaja nungguin aku," tanyaku dengan memberi tatapan tajam.
"Issh ... GR banget, tapi memang iya, sih," jawabnya seraya menggaruk kepala. Mungkin tadi pagi dia lupa keramas.
"Kamu gak perlu repot, Vin. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan pindah."
"Kemana?"
"Mas Damar menyuruhku untuk tinggal di rumahnya saja. Selain biar gak bolak-balik, dia juga bisa lebih tenang saat keluar kota," jelasku yang merubah raut wajahnya.
"Benar karena alasan itu? Bukan karena ucapanku kemarin, kan?" tanyanya dengan tatapan selidik.
__ADS_1
Aku sendiri? makin ingin pergi. Belum apa-apa dia sudah dua kali ragu akanku, lantas apa jadinya jika memutuskan bersama?
"Bukan, Vin. Ini benar-benar tak ada sangkut pautnya denganmu. Dan maaf, aku belum bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu kemarin," jawabku tegas.
"Baiklah kalau begitu, tapi ijinkan hari ini aku mengantarmu, karena paling tidak aku tahu tempat di mana mencarimu jika merindu," jawabnya dengan muka mendadak ceria kembali.
Andai ucapan rindu itu dia ucapkan dulu, mungkin akan terasa berbeda, tapi sekarang? Aah ... Harusnya kamu sadar bahwa bukan Alvin yang berubah, melainkan dirimu, Ras!
"Mungkin besok kita tak bisa bertemu seenaknya, Vin. Bagaimanapun juga, aku kerja di sana. Ruang gerakku pun terbatas."
"Tak masalah, Ras. Kita bisa komunikasi lewat ponsel. Jika di Indonesia saja bisa membunuh tanpa menyentuh, aku pun bisa mencintaimu tanpa bertemu."
Aaiih ... aiiih, meleleh hati adek, Bang. Aku tak pernah tahu jika ternyata Alvin segombal ini. Meskipun aku sedikit tidak nyaman dengan tingkah pemuda berhidung mancung itu, tapi paling tidak untuk yang satu ini aku harus sedikit berbahagia, pasalnya baru kali ini aku mendapatkan rayuan.
"Iish ... haruskah sepagi ini aku sarapan dengan rayuanmu?" tanyaku yang membuat Alvin tertawa.
"Apa aku sedang tertangkap basah sedang usaha?" tanyanya yang kini justru menbuatku tersipu.
Dasar cewek labil! Tadi aja sok-sokan jijik, dirayu sebentar lumer lagi, mau kamu itu apa, Ras? Perang batin terjadi kembali. Aah ... apakah aku memang senaif itu?
"Sesuai titah, Tuan Putri," jawabnya sembari tersenyum.
Diambilnya satu helm yang sedari tadi terikat pada jok sepedanya. Tanpa persetujuan, dipakaikan helm tersebut dengan telaten di kepalaku. Jika dia terus-terusan bersikap manis seperti ini, bisa-bisa tak perlu menunggu besok aku sudah menerima pernyataan cinta darinya.
Dua puluh menit perjalanan yang ditempuh untuk sampai rumah Mas Damar. Sesampainya di depan gerbang kulihat lelaki itu sudah lengkap dengan setelan celana dan jas hitam, makin ganteng aja itu duda. Dia terus saja berjalan mondar-mandir seperti sedang menunggu sesuatu. Jangan-jangan dia lagi kebelet? Kenapa kagak langsung ke toilet? Ganteng-ganteng masa jorok? Astaga, Ras. Sekali-kali otakmu dipakai mikir yang bener kenapa sih?
"Vin, makasih, ya? Sepertinya aku sudah telat, duluan, ya?" Belum sempat lelaki itu menjawab aku sudah keburu berlari memasuki halaman.
"Assalammualaikum, Mas," sapaku yang membuat laki-laki itu langsung menoleh.
"Waalaikumsalam, astaga, Ras. Akhirnya kamu sampai juga, saya lagi nungguin kamu dari tadi," jawabnya terlihat tega.
__ADS_1
"Kenapa nungguin aku, Mas?" jawabku merasa tak berdosa, lah tapi memang benar, kan? apa dosaku?
"Saya mau ada meeting pagi ini, saya nungguin kamu buat jagain Langit."
"Lah, bukannya ada Arin?" jawabku masih dengan tampang bloon.
"Iya, memang ada Arin, tapi saya sekarang sudah terbiasa sama kehadiran kamu. Kalau bukan kamu yang pegang Langit, saya masih khawatir."
Gusti, bolehkah aku koprol sekarang? Mimpi apa aku hingga dua lelaki berkata sangat manis hari ini. Satunya sudah sangat terbuka dengan perasaan dan rayuan manisnya, dan yang satu mulai bergantung akan kehadiranku. Poliandri, dosa gak?
"Ras ... Ras, hallo!" seru Mas Damar sembari mengibas-kibaskan tangannya di hadapanku. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kikuk dibuatnya.
"Kamu kebiasaan, ya? Tiap diajak bicara pasti melamun. Ya, sudah aku mau berangkat dulu, Langit ada di dalam," pamitnya yang kuantar dengan lambaian tangan. Berasa jadi istri.
Aku melangkah masuk menuju rumah megah itu. Kulihat seorang ART sedang membersihkan rumah, Mbak Indri namanya kalau tidak salah.
"Selamat pagi, Mbak," sapaku padanya. Dia menoleh dan tersenyum ke arahku.
"Eh, Mbak Saras, sudah datang. Dari tadi bapak nungguin, loh," jawabnya seraya menghentikan aktifitasnya.
"Iya, tadi ada kendala sebentar. Eh, jangan panggil Mbak dong, umur Mbak Indri juga pasti lebih tua dari pada aku, panggil Saras aja, Mbak," jelasku yang membuatnya mengangguk tersenyum.
"Ya, memang harusnya dipanggil nama saja, bila perlu panggil, Babu!" Sebuah suara lantang dari pintu masuk terdengar, aku dan Mbak Indri yang tadi sedang asyik mengobrol langsung menoleh ke arah sumber suara.
Gusti, padahal tadi pagi sudah ketemu yang manis-manis, kenapa sekarang harus ketemu yang pahit sih? Si biji koala dengan dandanan paripurnanya sedang berkacak pinggang menghadapku dan Mbak Indri.
"Cari siapa? Mas Damar sudah berangkat," jawabku tanpa memperdulikan ocehannya.
"Aku tahu. Sengaja aku ke sini mau bikin perhitungan denganmu," jawabnya dengan begitu pongah.
Sejenak aku mengamati sekitar, saat terlihat benda yang kucari segera aku mengambilnya dan memberikan pada titisan Nyi Blorong itu.
__ADS_1
"Buat apaan?" tanyanya saat aku menyerahkan sebuah buku dan bulpoin ke arahnya.
"Katanya ngajak berhitung?" jawabku dengan santainya. Terlihat wanita berambut pirang itu makin geram.