
Saras melonjak gembira saat melihat Dini mendekat ke arahnya. Pasalnya sedari tadi dia hanya menyambut para tamu yang tak satupun dia kenal.
Dini terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya. Tentu saja bukan hal yang gampang menyuruh Dini berpakaian seperti itu, pasalnya gadis itu memang sedikit tomboy, pakaian yang terlalu feminin seperti itu bukanlah gayanya.
"Ah, Dini," teriak Saras saat gadis itu ada di hadapannya.
Dua sahabat itu berpelukan, menyalurkan rasa rindu yang telah lama terpendam. Terakhir kali mereka bertemu sekitar dua hari yang lalu, saat Saras memberikan baju kebaya untuk sahabatnya itu. Dua hari sudah kangen? mereka kan memang sahabat lebay, jadi jangan diambil pusing.
"Sialan! bisa-bisanya nyuruh orang pakai kebaya begini. Gak bisa jalan tahu!" omel Dini.
Sahabat yang diomelinya hanya tertawa renyah, sedang Mas Damsr yang melihat interaksi mereka berdua hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.
"Sudah dikasih gratis juga, ngomel aja. Kan cakep, sapa tahu ada yang nyangkut," bisik Saras yang membuat Dini mencibir.
"Kalau bukan kamu, meskipun di kasih gratis sepuluh pasang baju begini, kagak bakal mau aku pakai."
"Ya, Elah. Sekali-kali pakai baju bener napa sih? kasihan calon suamimu, masak besok dipelamanin tamunya gak bisa bedain, mana yang cewek mana yang cowok, kamu kelewat preman,"urai Saras dengan tertawa girang.
"Eh, semprul. Mau semahal apapun bajunya, atau mau seglowing apapun skincare yang dipakainya, tetap saja mereka akan kalah dengan yang namanya takdir dan jodoh."
"Halaah, gegayaan bahasanya."
"Lah bener tahu, contohnya saja kamu. Dulu aja burik, dekil, sembrono, tapi endingnya bagaimana?" Dini menjeda ucapanya sebentar sembari melirik Damar yang sedang memperhatikan ucapnnya. "Semoga saja, kamu gak cepet sadar dari khilaf, ya, Pak?" lanjut Dini sembari nyengir ke arah Damar.
"Aduh." Dini meringis saat sebuah getokan mendarat di kepalanya.
"Enak aja kalau ngomong. Temen durhaka kamu, ya? tak sumpahin gak bisa pulang kampung baru tahu rasa." omel Saras yang membuat Dini melotot.
"Sadis bener doamu, Ras. Tabunganku hampir aja penuh nih, jangan doain yang aneh-aneh," gerutu Dini yang membuat Saras terkekeh.
"Loh kamu belum pernah pulang kampung Din?" Kini ganti Damar yang membuka suara.
"Belum, Pak. Tiket mahal. Sebelum ikut kerja sama bapak kan gajiku pas-pasan, makan aja sering patungan sama Saras. Alhamdulillah sekarang bisa nabung dikit-dikit."
"Ciye curhat," timpal Saras yang diberi cibiran oleh Dini.
"Besok pas saya masuk, datang ke ruangan saya. Saya kasih bonus tiket pesawat pulang pergi buat kamu pulang kampung," ujar Damar yang spontan membuat mata Dini berbinar.
"Bapak serius?" tanya Dini memastikan.
__ADS_1
"Serius. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah membantu saya menjaga Saras sebelum saya bertemu dengannya dulu."
Damar mengeratkan pelukannya di pinggang Saras. Tak hanya Damar, istrinya itupun tengah menatap kepadanya dengan mata penuh binar.
"Terima kasih, Sayang," ucap Saras dengan manja.
"Sama-sama, Sayang." Damar mendekat, mencium kening istrinya itu.
"Biuh, bonus sih bonus, tapi gak usah dikasih tambahan bonus ngelihat adegan beginian juga kali, jiwa jomloku meronta-ronta nih," omel Dini yang sontak membuat Saras dan Damar langsung tertawa.
Melihat antrian yang mulai cukup panjang, Dini berencana akan segera turun, tapi saat dia hendak berpamitan dia melihat sosok tampan yang menganggu penglihatannya.
"Ras, itu kakek-kakek cakep, yang biasa kamu ceritain itu?" bisik Dini seraya melirik seorang lelaki yang sedang duduk sendiri di samping kiri Damar.
"Ho'oh, kenapa naksir?"
"Kalau tuanya aja cekep begini, gimana mudanya dulu, ya?"
"Ya kayak Mas Damarlah, suamiku kan memang tiada duanya."
Saras menegakkan badan, memutar tubuhnya ke samping menghadap kakek.
"Kakek, ada yang mau nemenin nih duduk situ, kakek mau gak?"
Orang yang dipanggil pun menoleh, membuat Dini membulatkan mata, tak menyangka Saras akan benar-benar menyanggupi permintaanya.
'Ganteng sih ganteng, gak kakek-kakek juga kali kalau mau jodohin orang, Semprul memang si Saras' Dini mengumpat sendiri dalam hatinya.
"Siapa? ayo sini, kakek gak keberatan. Dari pada sendirian," jawab kakek dengan senyum menawannya.
Dini tersenyum kikuk, sedang Saras terkekeh sendiri, dan Damar? Ah, dia pingin menutup mata saja melihat kakeknya yang gak pernah nolak kalau disuguhi wanita.
"Kenapa gak daritadi, Ras? kan kakek biar bisa pamer dan bangga dikit bisa bersanding dengan daun muda," lanjut kakek lagi.
Saras mendorong-dorong Dini agar mendekat, sedang Dini makin kikuk saja. Sial bener dapat sahabat model kayak Saras.
Mau tidak mau Dini pun mendekat, dia menjabat tangan kakek dan menyebutkan nama. Entah apa yang dibicarakannya dengan kakek, yang jelas gadis itu sekarang sudah berdiri menegang di samping kakek.
"Selamat, ya, Kak Saras, Om Damar."
__ADS_1
Usai melihat tingkah konyol Dini, Saras sedikit menegang melihat orang-orang yang dihadapannya. Terlihat Sea yang sedang berdiri di samping Zakki sedang mengucapkan selamat untuknya.
"Loh Sea? kamu datang?" tanya Damar yang sepertinya mengenal Sea.
"Iya, Om. Dapat salam dari mama papa, maaf gak bisa datang, ada pekerjaan penting di sana yang gak mungkin bisa ditinggal," jawab Sea yang mendapat anggukan oleh Damar.
"Gak masalah, kamu mau datang aja saya sudah senang."
"Loh, Mas Damar kenal Sea?" tanya Saras menghadap suaminya.
"Iya, dia anak Pak Wijaya, teman bisnis dan yah, kami lumayan dekat, mangkanya aku sampai kenal Sea. Lah, kamu juga kenal?" tanya Damar balik.
"Pernah ketemu sekali di rumah sakit, dia pasien Zakki."
"Selamat, ya, Ras. Selamat juga, Pak Damar." Zakki menjabat tangan Damar. Suami Saras itu membalas dengan senyum ramah.
Tangan Zakki beralih ke Saras. Tangannya sedikit bergetar saat bersentuhan langsung dengan Saras. Kontak fisik seperti ini sebenarnya adalah hal yang biasa bagi Saras dan Zakki. Hanya saja, saat ini entah kenapa semua terasa berbeda. Tak mau makin terbawa suasana, Zakki menarik kembali tangannya.
Kini gantian Sea yang maju dan memberikan cipika-cipiki untuk Saras. Saras menatap gadis ayu yang sedang di hadapannya sekarang. Dia yakin, Sea akan mampu memenangkan hati Zakki.
Zakki dan Sea pamitan untuk turun. Zakki sempat melihat Saras, wanita itu pun sama. Hingga pandangan mereka terputus saat Zakki memutuskan untuk turun.
Saras menatap nanar pada punggung lelaki yang mulai menjauh itu.
'Setidaknya, bantu kami untuk masih bisa berteman, Gusti'. batin Saras ditengah tatapan sendunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Acara wedding kelar, ya, Guys. Jangan berharap Dini berjodoh sama kakek, ya? Big No! aku tak tega jika Dini harus digempur terus-terusan oleh kakek. Damar yang cuma delapan bula jadi duda aja bisa bikin Saras oleng, apalagi kakek? bukan sekedar gak sempat pakai CD, bisa-bisa si Dini lupa yang namanya kamar mandi.
Kemari kalian lihat aku dari belakang, sekarang nih, aku kasih wajahku dari depan. Jangan gumoh yakk🤣🤣
Eh, sekalian mau promosi, nih. Kalian yakin gak penasaran pingin baca kebucinan Denis? Yakin bisa bikin kalian klepek-klepek loh.
Nyari dimana ceritanya? tekan aja profilku, maka novel-novel yang aku buat pasti muncul semua. Aku tungguin di lapak Denis ya, Guys.
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘
__ADS_1