
"Gak aneh. Jadi, apa dokter mau menikah denganku?"
Zakki menoleh ke arah Sea sekilas, kemudian mengalihkan pandangan lagi ke depan dengan geleng-geleng kepala. "Ngomong itu difilter! Kamu biasa ngomong kayak gini ke semua cowok, ya?" tanya Zakki penuh selidik.
"Ishh ... gak mungkinlah, Dok. Habisnya aku nungguin dokter peka gak peka-peka, jadi aku inisiatif aja," jawab Sea sembari tersenyum lebar.
Diam-diam Zakki mengagumi sifat Sea. Padahal tadi di rumahnya, gadis itu terlihat begitu marah, hatinya sangat terluka. Namun sekarang, lihatlah! Gadis itu tampak baik-baik saja, bahkan beban yang tadi begitu terlihat, kini musnah sudah.
"Lain kali, lebih berhati-hati bersikap. Terkadang apa yang kamu lihat baik di luar belum tentu baik juga di dalam. Kalau kamu bisa seterbuka ini dengan lelaki, jangan menangis jika nanti mereka memiliki niat lebih padamu," urai Zakki dengan pandangan masih fokus ke depan.
Sea mengerjap beberapa kali, dia memandang ke arah Zakki dengan tatapan aneh. Benarkah perkataan barusan keluar dari mulut Dokter Zakki?
"Dok, sehat?"
Zakki menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Aku heran dokter bisa berkata seperti itu padaku. Sepanjang kita bersama, ini kalimat paling perhatian yang dokter ucapkan padaku."
"Jangan GR. Aku cuma ingin mengingatkanmu."
"Jadi, yang jadi pertanyaan, apa Dokter tidak ada pikiran lebih padaku karena aku begitu terbuka kepada dokter? Persis yang dokter ucapkan, kan?"
"Jangan berpikiran berlebihan!"
"Hu!"
Sea merubah posisinya kembali menghadap ke depan. Susah sekali membuat Dokter Zakki terjebak ucapannya sendiri.
__ADS_1
'Masa iya aku mesti curhat sama dukun?' gumam Sea dalam batinnya.
"Loh, Heh! Kok kita sampai di apartemen Dokter lagi? Duh, kelewatan jauh dong."
Zakki menghentikan mobilnya saat tiba dibasemant apartemen. "Memangnya kamu mau menginap di mana lagi?"
"Niat awal ke rumah temen, meskipun ragu tapi aku mau coba, sapa tau dia mau kasih tumpangan sementara."
"Kenapa gak yakin?" tanya Zakki seraya melepas sabuk pengamannya.
"Ya, karena kita memang gak sedekat itu. Jadi, aku gak yakin dia mau nampung aku," celoteh Sea yang akhirnya membuat Zakki diam beberapa saat.
"Ya, sudah. Turunlah. Kamu boleh menginap di tempatku lagi," ucap zakki dengan turun dari mobilnya.
"Eh, beneran, Dok? Yakin ini?"
"Dok, maukah menemaniku sebentar?" tanya Sea saat sudah sampai di samping Zakki.
"Kemana?"
"Butik di apartemen ini. Tas yang berisi baju-bajuku tadi ketinggalan di rumah."
"Pergi saja sendiri. Aku sudah sangat lelah dan ngantuk. Lagian tinggal belok kiri doang."
"Bukan itu saja masalahnya," ucap Sea dengan tersenyum kikuk.
Zakki menghentikan langkahnya, dia menghadap ke arah Sea yang sudah lebih dulu berhenti. "Kenapa?"
__ADS_1
"Aku gak ada duit. Mau pinjam uang dokter dulu," jelas Sea dengan tersenyum nyengir.
Zakki geleng-geleng kepala, lantas tak lama mengambil sebuah kartu dari dompetnya.
"Pakai ini. Sandinya 0602. Aku mau balik dulu ke kamar."
Usai menyerahkan kartu kreditnya, Zakki berlalu begitu saja. Sementara Sea menatap punggung itu dengan tersenyum lebar.
"Kemarin tinggal di apartemennya, Sekarang di kasih kartu kreditnya, besok aku pastikan kamu mempercayakan hatimu juga padaku, Dok." ucap Sea lirih.
"Terima kasih, Suami!" teriak Sea lantang.
Beberapa orang melihat aneh ke arahnya, sedang Zakki yang sebenarnya mendengar teriakan gadis itu memilih terus berjalan dan berlalu. Jangan sampai dia mempermalukan diri dengan menanggapi ucapan gadis itu.
"Dasar gadis bunglon!" gumamnya dengan terus berjalan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini masih bisa banget yak kalau mau pesenðŸ¤ðŸ¤
Jangan lupa mampir ke sini juga😘😘
Kecup jauh untuk kalian semua😘😘
__ADS_1