Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Wedang Ronde


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 66


Setelah berhasil membujuk ibu, Zakki pun berlalu. Sepertinya dia menuju kantin Rumah sakit. Keadaan ibu pun mulai stabil, meskiun masih sedikit terisak, tapi tak sehisteris tadi.


"Bu, habis makan jenengan pulang, ya? istirahat di rumah, kasihan Adit sendirian, nanti bapak biar Saras yang jaga," ucapku sembari mengelus-elus bahu ibu.


"Kamu saja yang pulang, kamu kan habis perjalan jauh. Biar ibu di sini jagain bapak. Ibu gak mungkin bisa tenang di rumah."


"Tadi Saras lewat tol, Buk. jadi gak terlalu capek di jalan. Ibu pulang, nggeh?"


Ibu masih diam, tak menjawab. Sepertinya ideku tak disetujui olehnya.


"Kamu ketemu Zakki di mana, Ras?" tanya Ibu mengalihkan perhatian.


"Di rumah sakit di Surabaya, Buk. Zakki dokter di sana."


"Dia anak baik, sama seperti pakliknya. Andai saja yang melamar kamu Zakki bukan juragan Ipan, Ibu pasti langsung menyetujui," urai ibu sembari menatap langit-langit.


Juragan Ipan, ah bagaimana aku bisa melupakannya. Andai dia tahu aku pulang, pasti dia akan langsung mengajukan lagi lamarannya. Mas Damar, kamu di mana? kenapa masih belum ada kabarmu?


"Buk, sudah jangan mikir yang aneh-aneh. Kita fokus saja dulu sama kesehatan bapak."


"Gimana ibu gak mikir, Ras. Yang bawa bapakmu ke sini, ya, Juragan Ipan. Dia bahkan membayar seluruh biaya rumah sakit selama seminggu kedepan." Ibu berhenti sejenak, mengambil napas dan membuangnya secara perlahan.


"Ibu sudah menolak tadi, tapi ibu juga tak punya banyak uang. nyawa bapak lebih penting. Maafin, Ibu, ya, Ras. Jujur, ibu tak mau kamu menikah dengan juragan Ipan, orang yang lebih pantas jadi pamanmu. Tapi kita bisa apa? nyawa bapakmu tertolong juga karena juragan, lagi-lagi kita berhutang budi padanya." Ibu cerita dengan mata berkaca-kaca.


Aku sendiri bingung harus bicara apa. Aku yakin ibu tak berniat untuk menikahkanku dengan juragan itu, tapi mengingat berapa banyak kebaikan yang dia berikan kepada keluargaku, sungguh kami termasuk orang kurang ajar jika tak bisa balas budi.


Duh, Gusti. Kenapa hidup serumit ini? baru saja sehari mengecap manisnya cinta yang berbalas, kini engkau hadapkan aku pada sebuah kenyataan yang sangat sulit aku hindari. Beri petunjukmu, Gusti.


"Buk, pun dipikiri, nggeh. Nanti kita bahas lagi setelah bapak sembuh. Saras ada sedikit tabungan, mudah-mudahan cukup untuk ganti uang juragan," jawabku mencoba menenangkan ibu.


"Semoga saja dia mau menerima uangmu, Ras. Kamu tahu sendiri, juragan tak butuh uang, dia sudah kaya. Ibu pingin sekali menyuruhmu langsung pergi saat bapak sadar nanti, tapi apakah itu baik? bukankah kita seperti orang yang tak tahu terima kasih?"


Ibu benar, Juragan Ipan sebenarnya orang yang baik. Tak hanya kepada keluargaku, kepada orang lain pun dia selalu baik. Tak pernah itung-itungan ataupun mengharap balasan imbalan. Hanya saja, permintaannya untuk menikahiku itu yang membuat citranya turun di mataku.


"Bu, Ras, ayo makan dulu. Mumpunh masih anget. Di kantin hanya ada nasi goreng, semoga kalian suka." Zakki datang dengan satu tas kresek ditangan.

__ADS_1


Tiga bungkus nasi lengkap beserta teh hangatnya dia siapkan untuk kami. Zakki memgambil sebungkus, menyerahkan kepada ibu dan sebungkus lagi untukku. Aku menerimanya dengan seuntas senyum, bahkan menurutku senyuman pun tak cukup layak untuk membalas kebaikannya.


"Buk, ayo di maem," ujarku sembari membantu ibu membuka nasi bungkusnya.


"Ibu makan nanti saja, ya, Ras? setelah bapak sadar."


"Buk. apa jenengan gak kasihan sama Zakki? dia sudah repot-repot membelikan ibu makanan. Lagi pula benar kata Zakki, ibu harus makan, ibu harus kuat agar bapak juga kuat. Maem nggeh?"


Ibu mengangguk, aku meletakkan nasi di samping kursi sebelahku. mengambil alih nasi punya ibu dan menyuapinya. Satu suapan berhasil tandas, suapan kedua pun dia terima dengan baik. Alhamdulillah, setidaknya perut ibu tidak kosong.


"Keluarga Bapak Suwardi? Bapak sudah mulai sadar, sudah boleh ditengok, tapi gantian, ya? satu-satu dan jangan terlalu lama. Bapak masih butuh istirahat." Seorang suster keluar dari ruangan bapak dengan membawa berita bahagia.


"Ras, ibu masuk dulu, ya? nanti gantian kamu masuknya." Ibu berdiri antusias. Aku mengangguk, menyetujui permintaannya.


Ibu segera masuk ke dalam, aku membungkus lagi nasi yang masih tinggal setengah.


"Alhamdulillah, akhirnya bapak siuman," ucap Zakki seraya mendekat ke arahku.


"Iya, Zakk. Makasih, ya? ini juga berkat kamu, kalau bukan karenamu, aku yakin belum sampai sini hingga sekarang."


"Ah, formal banget, sih, kayak sama siapa saja. Tapi ini gak gratis loh, Ras," jawab Zakki dengan senyum jahilnya.


"Maksudnya?"


"Siaap, tapi aku ditraktir, kan?"


"Ih, apaan, kan aku yang minta bayaran, masa aku yang bayar? Gak mau, aku maunya ditraktir!"


"Ih, kamu kan dokter, gak malu di traktir sama pengasuh?"


"Ras, tidak ada status yang berbeda. Mau kamu bekerja sebagai apapun, aku tak peduli. Bagiku kamu tetap sama, Saras yang kembarannya Nia Ramadhani." Usai dengan raut wajah serius, endingnya dia bawa-bawa Nia Ramadhani, kan langsunga ngerusak suasana.


"Halah, iya-iya, timbang minta trantir doang, segala Nia Ramadhani di bawa-bawa, besok aku traktir deh, sepuasmu!" ucapku dengan lantang.


"Beneran?"


"Ho'oh,"


"Asek."

__ADS_1


Semoga, Zakk. Semoga masih ada waktu untukku kembali ke Surabaya. Kamu tak tahu apa yang akan aku hadapi setelah ini. Setidaknya, terima kasih sudah selalu ada di saat aku butuh.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, hingga semalam ini Mas Damar belum ada kabar, kemana lelaki ini? harusnya dia sudah sampai sejak tadi, harusnya juga handphonennya sudah aktif. Mas Damar, jangan menambah lagi kekhawatiranku.


Ibu keluar dari kamar dengan muka yang lebih cerah. Sepertinya Bapak sudah benar membaik.


"Buk, pripun keadaan bapak?"


"Alhamdulillah, Bapak sudah mendingan, Ras. sudah bisa godian ibu juga," jelas ibu dengan muka memerah.


"ciye ... ciye, yang kangen-kangenan. Bapak pun sehat, ibu pulang nggeh, kasihan Adit. Bapak biar Saras yang jaga. Ibu gak boleh protes ini," ucapku tegas.


Ibu mengangguk menyetujui.


"Yawes Ibu biar aku saja yang anterin, nanti aku langsung balik temenin kamu, Ras," usul Zakki yang langsung aku tolak.


"Kamu sekalian pulang aja, Zakk. Aku gak papa di sini sendirian. Kamu pasti capek habis nyetir."


"No ... no ... no ... Sama seperti ibu, kamu juga jangan nolak kali ini. Aku yang mau."


"Terserah kamu lah, Zakk. Kamu sama batu kan sebelas dua belas."


Zakki terkikik menanggapi ucapanku.


"Di perempatan lampu merah depan ada penjual wedang ronde, sepertinya enak buat menghangatkan tubuh, mau?"


"Kalau aku ngomong enggak, emang kamu turutin? terserah kamulah, yang penting besok pas minta trantiran jangan buat aku bangkrut." Kali ini Zakki tertawa, bahkan ibu pun ikut tersenyum menanggapi.


Tak apalah aku bangkrut nanti, asalkan aku melihat ibu tersenyum seperti ini. Terima kasih, Zakk. Terima kasih untuk semua bantuanmu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hayooo ... kemarin yang nebak bapaknya Saras kritis terus disuruh kawin sama Zakki siapa? Kalian kena zonk lagi😂😂


Lah emang ini sinetron ikan terbang yang semua ceritanya serba drama? Lah wong besok ceritanya mau tak buat lebih histeris dan menyakitkan, becanda dink😅😅


Sudah mulai emosi? Udah mau marah-marah karena Damar tak muncul? atau Mau Unfaforit karena Saras lagi deket sama Zakki? Aku sih, slow😅 itu semua hak kalian.


Tak bosan-bosan aku ingatkan, cerita ini belum berakhir. Segala kemungkinan masih bisa saja terjadi, jadi daripada emosi yang berujung baper dan laper, mending kita sarapan aja, biar kenyang😅 Kecuali kalau kalian mau ceritanya segera berkahir, bisalah nanti aku percepat lagi.

__ADS_1


Wes, ah. Aku mau sarapan.


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘


__ADS_2