Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Kopi Perusak Memori


__ADS_3

"Terima kasih, ya, Dok? Aku seneng hari ini," ucap Sea saat sudah di depan apartemen mereka.


"hmm." Zakki hanya membalas dengan gumaman.


"Oke, aku balik lagi ke kamar."


Lagi-lagi Zakki hanya membalas dengan gumaman. Sea berbalik, berjalan menuju kamarnya. Dia hendak membuka kunci, tapi urung.


"Dok, mau mampir? Kebetulan aku punya kopi dari Wamena. Katanya, itu enak. Mau coba bareng?"


Zakki yang sudah mau masuk ke kamarnya menghentikan langkah. Dia menoleh ke arah Sea, berpikir sejenak kemudian mengangguk.


Sea girang bukan kepalang, hanya saja dia menahan diri agar Zakki tak membatalkan niatnya untuk mampir.


Sea membuka unit apartemennya, masuk lebih dulu dan kemudian di susul oleh Zakki. Mata Zakki mengawasi sekitar, cukup bersih dan nyaman.


"Duduk dulu, Dok. Mau ngopi dimana? Di sini apa di balkon? Tapi di balkon lebih enak sih, sejuk dan romantis pastinya." usul Sea yang akhirnya diangguki oleh Zakki.


"Oke, aku tunggu di balkon."


Zakki melangkah menuju balkon, sedang Sea dengan semangat langsung menuju pantry dan mulai menyeduh kopi.


"Kopi asli Wamena dengan ditambah sedikit gula, aku bisa jamin Dokter pasti ketagihan."


Sea meletakkan dua gelas kopi buatannya di atas meja. Dia menggeser satu gelas untuk Zakki, dan segelas lagi untuknya.


"Siapa yang dari wamena?" tanya Zakki seraya mengambil gelas kopinya.


"Ardan. Dia pecinta kopi. Wamena adalah satu diantara beberapa mimpinya, dan kesampaian," jelas Sea seraya menghirup aroma kopi di tangannya.


"Kalian pacaran?"


Sea yang sedari tadi asyik menghirup kopinya langsung menoleh ke arah Zakki. "Ardan? Bukan. Kami hanya teman, meskipun memang beberapa kali dia menyatakan cinta sih."


"Ouw," jawab Zakki singkat.


Zakki sadar bahwa kopi di tangannya masih sangatlah panas, tapi entah mengapa dia justru tanpa sadar langsung meminumnya, dan terjadilah adegan mulut terbakar.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, Dok?" melihat Zakki yang kepanasan, Sea langsung bangkit dari tempatnya. Dia langsung berlari ke dalam apartemen dan kembali dengan segelas air dingin.


"Minumlah," ucap Sea menyerahkan gelas berisi air itu.


Tak menunggu lama, segelas air yang di tangan Zakki langsung tandas.


"Terima kasih," jawab Zakki singkat.


Sea kembali duduk di kursinya, gadis itu masih terus memperhatikan Zakki yang masih sibuk memainkan lidahnya. Membuat Sea gemas saja.


"Udah gak sabar banget, ya, Dok? Udah tau panas, main sosor aja," gerutu Sea yang membuat Zakki menoleh ke arahnya.


"Lupa." jawabnya singkat.


Setelah Sea yang sibuk memperhatikan Zakki, kini gantian Zakki yang memperhatikan tingkah Sea. Gadis itu terlihat memejamkan mata, menikmati aroma kopi dengan begitu tenang.


"Kenapa harus dihirup gitu?"


"Aroma kopi itu menenangkan, Dok. Bisa dibilang terapi hati juga," jawab Sea dengan senyum manis.


"Oh, ya? Teori dari mana itu?"


"Bukan pacar, tapi sepertinya kalian dekat?"


"Soalnya cuma Ardan yang selama ini ngertiin aku. Dia selalu ada hampir setiap aku ada masalah. Tapi anehnya, kebaikannya justru gak bisa nimbulin cinta di hati. Aku malah naksir dokter yang selama ini tak peduli," kata Sea sembari terkekeh.


Zakki yang mendengarkan ucapan Sea menjadi sedikit salah tingkah. Entah apa sebenarnya yang dilihat Sea darinya, Zakki selama ini cuek dan begitu dingin, tapi Sea tak pernah lelah mengejarnya.


"Apa yang membuatmu menyukaiku?"


Sea melihat ke arah Zakki, memperhatikannya dengan seksama. Seutas senyum terbit dari bibir gadis mungil itu.


"Tak semua hal membutuhkan alasan, termasuk cinta. Aku gak pernah meminta dia untuk datang, apalagi berlabuh pada dokter yang aku tahu pasti tak pernah peduli. Tapi mau gimana lagi? Aku sendiri sudah berusaha membuka hati untuk Ardan, kenyataannya? Dia tak pernah mendapat rasa lebih selain sahabat."


Sea mengakhiri ucapannya. Matanya menerawang jauh ke depan. Sedang di sampingnya, Zakki justru memperhatikan Sea dengan perasaan, entah.


"Maaf, ya, Dok. Kalau selama ini aku menganggu ketentramanmu," sambung Sea yang kini beralih menatap ke arah Zakki. Tentu dengan senyum yang sama.

__ADS_1


"Tapi tenang saja, beberapa hari ke depan mungkin juga beberapa minggu, Dokter tak akan kuganggu. Aku akan pergi."


"Kemana?" tanya Zakki cepat.


"Aku mau ke Singapore. Menjenguk saudara kembarku. Keadaannya sedang tak baik, papa bilang dia terus-terusan mencariku. Untuk itulah aku akan kesana besok."


"Berangkat jam berapa?" tanya Zakki lagi.


"Siang, jam dua belas."


"Aku antar ke bandara."


Sea mengerjab beberapa kali. Lagi-lagi dia dibikin kaget dengan ucapan Zakki.


'Ada apa dengan dokter ini? Kenapa mendadak manis?' Sea bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.


Segelas kopi wamena yang ada di tangan Zakki tandas tak bersisa, lelaki itu lantas berdiri dari tempatnya, menghadap ke arah Sea yang masih menatapnya penuh tanya.


"Aku balik dulu, ya? Tenkyu kopinya, enak," ucap Zakki.


"Aku antar," jawab Sea seraya berdiri dari tempatnya.


Zakki berjalan lebih dulu, lantas di susul Sea di belakangnya.


"Sea," panggil Zakki saat sudah mencapai pintu.


Zakki berbalik, melihat ke arah Sea yang juga sedang berhenti dan menatapnya.


"Kamu bisa cerita apapun kepadaku kalau kamu mau."


"Dok, apa kopi wamena tadi memiliki efek yang buruk pada isi otakmu?" tanya Sea dengan wajah yang benar-benar kebingungan.


Zakki hanya tertawa menanggapi. Dia mengulurkan tangan, mengacak pelan pucuk kepala Sea. "Kamu lucu," ucap Zakki seraya berbalik keluar dan meninggalkan Sea yang masih mematung di tempatnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuhuu ... Ayam Kamiing๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


Ada yang menungguku? Maaf, yee. Aku lagi tersesat dan tak tahu jalan pulang๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2