Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Bunuh Diri?


__ADS_3

Reno membaca dengan serius laporan terbaru para pasien yang Zakki berikan. Setelah cuti beberapa hari demi kepulangannya ke kampung halaman, seharian kemarin Zakki harus ikhlas bekerja full demi menggantikan Reno yang ganti minta cuti.


"Perasaan ditinggal cuma sehari, kenapa ini pasien langsung sehat semua?" tanya Reno sembari meletakkan laporan ke meja kerjanya.


"Mungkin mereka tertekan saat melihatmu," jawab Zakki enteng.


Pemuda itu sekarang bersiap-siap untuk pulang. Meskipun cuma sehari, entah kenapa dia rindu sekali dengan kamarnya.


"Sial!"


Sebuah lemparan buku mendarat di kepala Zakki. Reno tak terima dengan ucapan sahabatnya itu. Jelas saja, dia selama ini dikenal dengan kembaran Aldebaran, mana bisa dia dijadikan sumber tekanan?


Brukk!


Baru saja Zakki hendak mengumpat balik, pintu yang dibuka kasar membuat dua pemuda itu menoleh bersamaan.


Di sana, Sea berdiri dengan bibir cemberut sempurna. Matanya menatap penuh amarah. Reno dan Zakki saling melihat, sepertinya drama akan segera di mulai.


"Loh, kok di sini? Gak kuliah?"


Sea tak langsung menjawab pertanyaan Zakki. Gadis itu malah berjalan menuju sofa sembari menghentak-hentakkan kaki.


Diam-diam Zakki menelan ludah, melihat tingkah Sea yang seperti tiba-tiba saja AC diruangan tersebut menjadi tak bekerja dengan baik. Sejak semalam dia memang tak menghubungi Sea sedikit pun, apakah justru di sini kesalahannya?


"Tadi berangkat kuliah, tapi pulang!" jawab Sea cepat.


"Kenapa pulang?"


"Dosennya gak masuk! Heran, kalau dia gak masuk gak harusnya bilang, bukan pergi gitu aja kayak mantan yang males bayar utang." Sea meledak, dia memang duduk di sofa, tapi kakinya tetap tak bisa diam. Reno sampai merasa kasihan dengan itu lantai.


"Mungkin aja dia ada keperluan mendadak," jawab Zakki lembut, sepertinya emosi gadisnya itu sedang tak stabil.


"Emang iya. Kata anak-anak, beliau sakit. encoknya kumat. Kenapa sih itu encok kumat sekarang? Kenapa pas gak kemarin-kemarin aja pas aku males kuliah? Dia gak tau apa kalau tadi pagi aku harus lari-larian biar gak telat. Dasar encok laknat emang!"


Omelan Sea membuat Zakki dan Reno saling pandang, sepertinya ini akan menjadi drama yang panjang. Setelah mantan yang lupa bayar utang, sekarang giliran si encok yang kena omel. Nanti siapa lagi?


"Ya, kan, beliau gak pingin sakit juga, Sea." Zakki harus benar-benar lembut sekarang, sebelum nanti justru dia yang kena sasaran.


"Ah, kamu belain dia terus. Terus kenapa semalam gak kasih kabar? Sibuk sama suster-suster muda, hah?"


Karena virus bucin sudah melanda Zakki, sekarang dituduh seperti itu jadilah pemuda itu menciut. Belum lagi Sea yang menatapnya dengan sarkas.


Reno yang melihat keadaan sedang genting buru-buru berdiri.


"Eh, mau kemana?" tanya Zakki cepet.


"Lihat pasien." Reno langsung melesat pergi, sedang Zakki beralih menatap Sea dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


Pemuda itu berdiri dari tempatnya, melangkah ke arah Sea dan mengambil tempat duduk di samping gadis itu. Zakki meraih tangan Sea, digenggamnya tangan itu lembut.


"Seharian kemarin aku banyak kerjaan. Beberapa pasien rawat inap ada yang sudah diperbolehkan pulang. Kebetulan juga aku mesti bantuin di UGD karena Dokter Haris lagi sendirian di sana. Aku juga capek banget, maaf, ya?"


Zakki menatap lembut ke arah Sea. Dia berharap, ucapannya kali ini akan menyelamatkannya dari amukan. Namun, presiksi Zakki salah.


Sea menarik cepat tangannya dari genggaman Zakki. Gadis itu memalingkan wajah sembari menghentak-hentakkan kaki. Zakki melotot kaget, tak biasanya gadis kecilnya itu bersikap begini.


"Aku tuh tadi cuma ngetes aja, Paketan dataku itu habis, aku pingin tahu kamu kebingungan gak nyariin aku, tapi apa? Kamu malah gak peduli."


Skak mat!


Zakki rasanya pingin ngunyah batako saja, kenapa dia jadi serba salah begini. Belum sempat pemuda itu menjawab, Sea udah bangkit dari tempatnya.


"Kamu emang nyebelin!" oceh Sea lagi.


" Sea," panggil Zakki dengan buru-buru ikut bangkit.


Sea tak menoleh, dia masih terus berjalan.


"Sea," panggil Zakki lagi. Kali ini lebih lembut.


Sea masih tak bergeming, dia bahkan sudah hendak mencapai pintu.


"Sayang."


"Apa!" Sea berbalik, dia memang muka juteknya.


Zakki mendekat, meraih gadis itu dalam pelukannya. Sepertinya mungkin hanya dengan cara ini dia bisa meredahkan amarah gadis tersebut.


Benar saja, tak perlu menunggu waktu lama, Sea langsung membalas pelukan Zakki. Banhkan wajah ceria dan menyebalkannya sudah muncul kembali.


"Maaf, ya. Jangan marah terus," bujuk Zakki yang akhirnya membuat Sea mengangguk.


Zakki bernapas lega saat Sea terlihat sudah lebih tenang. Ternyata pelukannya memang seampuh ini.


Sea mengurai pelukannya, menatap Zakki yang kini juga menatapnya dengan senyuman. Zakki mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi gadis di hadapannya itu.


"Kamu kenapa sih marah-marah terus? Lagi PMS ya?" tanya Zakki sembari terkekeh.


Wajah Sea yang awalnya sudah ceria langsung kembali merah padam. Firasat Zakki langsung mendadak tak enak kembali.


"Emang kenapa kalau aku lagi PMS? Aku bau ya?" semprot Sea langsung.


Seseorang tolong Zakki! Tolong sembunyikan pemuda itu di kolong meja.


Zakki menyesal, amat menyesal. Kenapa dia harus bertanya? Zakki menghembukan napas pelan, dipasangnya sebuah senyuman terbaik untuk kembali membujuk gadis yang sedang uring-uringan itu.

__ADS_1


"Enggak. Kan aku cuma tanya? Kamu wangi kok, wangi banget malah. Nih buktinya aku seneng peluk-peluk kamu terus."


Zakki langsung membawa Sea ke dalam pelukannya lagi. Semalam padahal dia hanya tertidur sebentar, bahkan bermimpi saja belum sempat, tapi kenapa sekarang diberi cobaan seberat ini?


Sea melepas paksa pelukannya. "Seneng peluk apaan? Biasanya aku minta peluk juga gak dikasih. Ini cuma mau bujukin doang kan?"


'Duh, salah lagi,'


Zakki menggerutu sendiri dalam hatinya.


"Iya-iya. Maaf. Habis ini kita pulang, ya? Sepertinya coklat panas cocok buat kamu, bisa ngurangin nyeri saat PMS juga."


Sea berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui.


"Kamu nunggunya di kantin aja, ya? Sambil minum cokelat panas."


Zakki mecoba menyarankan, tapi belum selesai ucapannya, wajah Sea langsung berubah lagi.


"Engak! Enggak! Ini gak ngusir. Aku mau ngobrol dulu sama Reno. Ada pasien yang harus dapat perawatan ekstra." Zakki buru-buru melarat, capek juga jika dia harus merayu terus-terusan.


"Oke. Gak pakai lama."


Zakki langsung mengangguk. Sea berbalik dan meninggalkan ruang kerja pacarnya tersebut.


Zakki akhirnya bisa bernapas lega saat Sea sudah tak terlihat lagi. Dia hanya menghadapj gadis PMS, tapi kenapa efeknya seperti orang ketahuan selingkuh?


"Aman, Bro?" tanya Reno yang tiba-tiba masuk dan duduk di sofa samping Zakki.


"Gila, ya. Cuma PMS doang efeknya sedasyat itu."


"Sebenarnya, PMS memang mempengaruhi hormon, tapi terkadang kebanyakan cewek menjadikan PMS sebagai alasan biar bisa bermanja-manja."


Reno sok bijak, Zakki yang duduk di hadapannya hanya menganguk. Dia tak pernah dekat dengan gadis lain selain Saras dan Sea, jadi, mungkin apa yang dikatakan Reno benar adanya.


"Kalau cuma manja, oke-oke aja. Ambekannya itu, busyet dah."


"Bener, Bro. Saran aku, kamu bunuh diri aja deh."


"Hah?"


"Cewek kalau lagi PMS gila banget. Dia nabrak dispenser aja, dispensernya langsung panas dingin. Nabrak lemari, lemarinya yang di salahin. Masak gosong? Kompornya yang diomelin. Jadi, cara aman, ya, bunuh diri saja."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Teroosss aja nulis part gaje, Terosiin aja.


Gak ada seru-serunya ini cerita, ye, kan?

__ADS_1


Udah, ya?


__ADS_2