
Bibit Unggul Mas Duda
part 44
Mas Damar datang setelah tiga puluh menit berlalu. Terlihat raut cemas di wajahnya, aku sudah bersiap untuk segala kemungkinan terburuk untkku, karena bagaimanapun juga, semua salahku. Andai aku tak meninggalkan Arin dan Langit, tentu mereka tak akan hilang.
"Bagaimana bisa terjadi? kenapa mereka bisa menghilang?"
"A-- A-- Aku tidak tahu, Mas. Aku hanya meninglkan mereka sepuluh menit ke toilet, dan setelah kembali mereka sudah tak ada," jelasku dengan terbata-bata.
"Apa saat kalian berangkat tadi ada yang mengikuti kalian? apa terlihat ada yang mencurigakan?" tanya Mas Damar bertubi-tubi.
"Ka-- ka-- kami tidak tahu, semuanya terlihat biasa saja. Aku minta maaf, Mas, aku minta maaf," ucapku dengan tetap menangis tersedu.
"Sialan! Jangan-jangan ini ulah Darwin. Kamu pulanglah, siapa tahu nanti Arin dan Langit kembali, aku akan mencari mereka dulu," ucap Mas Damar berlalu tanpa memedulikan ucapan minta maafku.
Ini memang salahku! aku memang bodoh! menjaga mereka saja tidak bisa. Aku mengacak-acak rambutku sendiri, meratapi akan kebodohan yang aku perbuat.
"Mbak Saras, ayo pulang! tepukan Pak Rusdi membuat aku mengerjab. Aku mengangguk menerima ajakannya.
Sampai di rumah, aku segera mencari Langit dan Arin ke kamar, tapi nihil. Aku berlari kebawah dan menanyai semua orang rumah, jawabannya pun sama, semua tak melihat Arin pulang, terakhir mereka melihat Arin pergi bersamaku.
Aku terduduk di ruang tamu, bingung harus melakukan apa. Semua benar-benar tiba-tiba dan mengejutkanku. Hingga dering telepon mengagetkanku.
Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar, Aku sedang tak berminat berbicara dengan siapapun saat ini, tapi bagaimana jika itu Arin? dia meminjam handphone orang lain karena handphonenya mati? Tak menunggu lama lagi, aku segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?" sapaku memulai pembicaraan.
"Datanglah ke Apartemen Queen lantai 6 no 44 sekarang! Kalau kamu mau Arin dan bayi itu selamat, datanglah sendiri, jangan coba-coba mengajak polisi apalagi Damar."
__ADS_1
"Tapi kamu siapa?" Sebuah pertanyaan kulontarkan pada sosok suara lelaki di seberang sana, tapi bukannya dijawab dia malah menutup panggilan.
Siapa dia? Jadi benar Arin dan Langit di culik? Dimana Apartemen Queen itu? Tak mau meraba-raba yang akhirnya makin membahayakan mereka berdua, aku segera memesan ojek online untuk menuju alamat tersebut.
"Mbak Saras mau kemana?" tanya salah seorang security di postnya.
Aku diam sejenak, tak mungkin mengatakan sejujurnya, orang itu bilang aku tak boleh memberitahu siapapun. Ojek online yang aku pesan tiba, tak menjawab pertanyaan aku bergegas menaiki ojek tersebut.
Perasaan kalang kabut tak karuan, siapa penelpon tadi? apa yang dia minta dariku? kenapa harus aku? kenapa bukan Mas Damar yang mereka hubungi? Berbagai macam pertanyaan mengitari otak, hingga tak sadar bangunan yang aku tuju telah tertampang di depan mata.
Aku segera turun dan menuju lift, lantai 6 menjadi tujuanku sekarang. Segala macam doa aku panjatkan, dari Surat Al Fatihah, Surat Yasin, hingga doa makan tak lupa aku panjatkan. Semog Gusti Allah selalu menjaga hambanya yang cantik dan manis Bak Nia Ramadhani ini.
"Bismillah," ucapku lirih saat bersiap menekan bel pada kamar yang kutuju.
Dua kali tekan terlihat pintu terbuka, aku langsung menerobos masuk kedalam, meskipun dalam hati sempat bertanya siapa yang membukakan pintu? bukankah tidak ada orang di depan sana tadi? Ah, mungkin ini pintu otomatis, pasti harganya sangat mahal.
Skip ... skip ... Saras, fokus tujuan! jangan malah berpikiran ngelantur.
"Apa mau kamu? Dimana Arin dan Langit?" tanyaku sembari mendekat ke arah sofa gadis itu duduk.
"Sabar dulu, Babu. Mereka aman di sini, tapi itu tergantung sikap kamu juga sih," ucap Titisan nyi blorong itu dengan tersenyum sinis.
Dia mendekat ke arahku, menatapku tajam dengan sorot penuh kebencian.
"Apa maumu? Aku tak ada urusan denganmu, jadi kenapa harus aku yang kamu panggil ke sini? kenapa bukan Mas Damar?"
"Hah? kamu bilang apa? tidak ada urusan denganmu? Hei, babu! kamu lupa kalau kamu penyebab aku berpisah dengan Damar?"
"Tapi kami tidak ada hubungan apa-apa, aku hanya pengasuh anaknya, tidak lebih."
__ADS_1
"Kamu bisa bohongin semua orang, tapi tidak aku!"
"Lantas apa maumu sekarang?" tanyaku mencoba menantangnya.
"Aku mau kamu pergi dari kehidupan Damar, jangan pernah muncul lagi! Dengan begitu, Damar pasti bisa mencintaiku!"
"Tapi kami benar-benar tidak ada hubungan." tegasku yang membuat wanita itu malah terlihat murka.
"Tutup mulutmu! Aku menyuruhmu kemari bukan untuk mendengarkan kamu membantah! Tadinya aku memang hanya ingin kamu pergi, tapi karena sikapku, semakin hari aku semakin membencimu, jadi melenyapkanmu dari dunia ini akan menjadi hal yang menyenangkan untukku."
Angel tersenyum sinis, dia mengeluarkan pisau yang sedari tadi tersimpan dibalik punggungnya. Mataku melotot kaget, Tidak mungkin Angel akan sekejam itu padaku, apa sebegitu berdosanya aku di matanya?
Angel semakin mendekat, kini dia mengangkat tangannya dan bersiap menghunuskan pisaunya. Serangan pertama, aku berhasil mnghindar. Dia nampak tak terima, serangan kembali datang, lagi-lagi aku berhasil menghindar, tapi sayangnya pisau itu berhasil menggores lenganku.
Angel makin geram, sedangkan aku sudah tersudut di ujung tembok, Angel tersenyum puas, aku tidak bisa berkutik lagi, aku hanya bisa pasrah jika memang ini menjadi hari terakhirku. Darah di lenganku keluar makin deras, Angel pun semakin mendekat dengan senyum sinisnya.
Aku memandang sekitar, mungkin saja ada yang bisa kupakai untuk membantuku saat ini, tapi nihil. Ini bukan adegan sinetron, yang tiba-tiba saja ada keajaiban yang datang padaku. Akhirnya kini, aku hanya bisa pasrah.
Gusti, jika aku mati hari ini, jangan beri jodoh lain kepada Mas Damar, kalaupun harus, beri dia jodoh Nia Ramadhani saja, biar tak terlampau jauh dariku. Amin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lohaaa ... aku datang dengan dua bab dalam satu hari, seneng kan? Eeh, ada yang lagi tegang tapi bukan urat, santai ... santai, Saras pasti baik-baik saja, kalaupun dia tidak baik-baik saja, si Nia Ramadhani pasti yang lagi baik๐๐๐
Sudah tegang belum di part ini? Konflik mau ditambah makin greget kah? atau kita sudahi sampai di sini saja? Yang request POV Damar, sabar yakk, kita selesain ini dulu, biar kalian makin penasaran dan makin sayang sama Authornya๐๐๐
Btw, Makin kesini, kok coment makin sedikit yakk? Apa kalian terlalu baper? kalau aku sih, jelas karena laper, ah elaah makanan dulu yang dibahas๐๐๐
Jangan lupa like, coment dan Vote yakk๐
__ADS_1
Kecup dari jauh untuk kalian๐๐๐