
Zakki menoleh ke kanan ke kiri, lelaki itu sebenarnya enggan sekali mengakui bahwa dia mencari Sea, tapi bukankah kenyataannya memang begitu?
Sudah hampir dua hari ini Sea tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Gadis yang biasa menganggu ketentraman hidupnya itu kini tak lagi mengganggu.
Kemana Sea?
Zakki hendak membuka apartemennya, tapi suara candaan dari ujung apartemen membuatnya menoleh. Zakki menajamkan penglihatannya, dia memastikan sekali lagi bahwa apa yang dia lihat benar adanya.
Ada Sea di sana, dia tak sendiri. Gadis itu terlihat sedang bergurau dengan seorang pemuda. Bahkan Sea tak pernah tertawa sebebas itu dengannya. Tanpa Zakki sadar, ada sedikit goresan di hatinya.
'Ada apa denganku?'
Ingin sekali Zakki tak peduli, dia ingin segera masuk ke apartemen dan menikmati liburannya dengan tidur seharian. Namun, entah mengapa langkahnya begitu berat. Matanya tak sedikitpun berpaling dari pemandangan di depan sana. Hingga akhirnya, kedua pemuda dan pemudi itu mendekat.
"Hai, Dok. Baru pulang dari rumah sakit?"
Bukannya menjawab sapaan Sea, Zakki justru mengalihkan pandangan kepada lelaki yang saat ini bersama Sea.
Pemuda itu cukup tampan, kulit bersih dan tubuh atletisnya cukup mampu membuat lawan jenis tertarik. Usianya mungkin juga sepantaran Sea, Dan yang pasti dia sangat cocok berdiri di samping Sea.
Sea melihat arah pandangan Zakki. Tak ada yang salah dengan penampilan Ardan, tapi kenapa Zakki menatapnya dengan begitu intens?
"Eh, kenalin Dok. Dia Ardan, temanku," lanjut Sea lagi.
Pemuda bernama Ardan itu mengangguk, mengulurkan tangan kehadapan Zakki.
"Ardan," ucapnya sopan.
"Zakki." Zakki menyambut uluran tangan pemuda itu, mereka saling menjabat dan tersenyum.
__ADS_1
"Sea, aku balik dulu, ya?" Pamitnya kepada Sea.
"Iya, hati-hati. Jangan lupa kamu hutang nraktir aku nonton," ucap Sea yang langsung ditanggapi tawa oleh Ardan.
"Tentu saja. Besok kujemput, jam 10 pagi, bagaimana?"
"Boleh!" jawab Sea antusias.
"Oke, aku balik kalau begitu."
Sea melambaikan tangan ke arah Ardan, sepeninggal pemuda itu Sea kini berbalik menghadap Zakki.
"Aku kembali ke apartemen, ya, Dok. Dokter pasti capek dan ngantuk," pamit Sea yang diangguki oleh Zakki.
Baru Sea melangkah beberapa langkah, Zakki sudah memanggilnya.
"Sea?"
"Hmm ... Gak jadi. Masuklah!"
Sea menautkan kedua alisnya, bingung dengan tingkah dokter tersebut. Tak mau ambil pusing Sea pun berlalu dan masuk ke dalam apartemennya.
Zakki gelisah sendiri, harusnya selesai mandi dia tidur dan bermimpi dengan indahnya, tapi sekarang dia justru berganti baju dengan celana jeans dan kaos blong santai.
Zakki mondar-mandir sendiri di ruang tamu.
"Sudahlah! Kenapa harus tak jelas begini!"
Zakki merebahkan diri di sofa, memejamkan mata dan mencoba melupakan semuanya. Namun, semakin di paksakan tidur, pikirannya makin berkelana kemana-mana.
__ADS_1
Tak tahan lagi, Zakki bangkit dari tempatnya dan menyambar kunci mobil begitu saja. Lelaki itu keluar dari apartemennya dan menuju ke tempat tujuannya.
Zakki menghembuskan napas, menetralkan debaran yang mulai tak karuan di dalam dadanya. Entah apa yang terjadi dengannya saat ini, yang jelas otak warasnya mungkin sudah bekerja dengan tidak stabil.
Tangan Zakki terulur, dia hendak memencet Bel, tapi urung. Dia menarik lagi tangannya, mencoba kembali lagi ke apartemennya, beberapa langkah berjalan, dia kembali lagi ke tempat semula.
Zakki membalikkan tubuh, membelakangi pintu yang sedari tadi menunggu untuk diketuk. Lelaki itu mengusap wajahnya, merasa gila sendiri dengan keputusannya ini.
"Dok, sedang apa?"
Mata Zakki membulat seketika, dia paham sekali suara itu. Mendadak nyali Zakki menciut, dia menyesali telah mengikuti ajakan hatinya yang tak waras.
Zakki berbalik, menatap dengan kikuk gadis yang sedang menatapnya bingung.
"Ehm ... itu, aku–," Zakki menggantungkan ucapannya.
"Itu kenapa?"
"Ayo nonton!" ajak Zakki cepat, dia tak bisa berbasa-basi, selain karena bukan gayanya, dia juga sedang di landa rasa malu yang begitu menggunung.
Sea menganga di tempat, dia tak percyaa dengan apa yang sedang dia dengar. Gadis itu memukul pipinya sendiri, meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.
"Dokter serius?" tanyanya memastikan.
"Kalau mau ayo,kalau enggak aku pergi sendiri!"
"Eh, iya-iya. Tunggu sebentar aku mau ganti baju dulu, dokter mau masuk?"
"Gak usah. Aku tunggu sini. Jangan lama-lama."
__ADS_1
"Siap!"
Sepeninggal Sea Zakki bersandar ke tembok, membuang napasnya lega. Entah benar atau tidak keputusannya saat ini, semoga saja ini akan menjadi awal yang baik untuk hidupnya.