Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Skidadap Awe-awe


__ADS_3

Acara telah selesai, semua tamu bahkan pak penghulu pun sudah diantar pulang. Aku membantu ibu membersihkan rumah dan membawa sisa-sisa piring bekas makanan.


Acara memang diadakan sederhana, kami hanya melakukan akad, untuk resepsi dan yang lainnya, Mas Damar janji akan melangsungkannya dua minggu lagi.


"Wes, bersih, Nduk. Kamu istirahat sana. Besok harus balik ke Surabaya, kan?"


"Nggih, Buk. Tapi nanti biar aku tidur di sofa ini aja, Kasur Saras gak muat buat berdua." Ibu yang sebelumnya merapikan piring ke dalam rak berhenti sejenak dan menatapku.


"Loh, piye, to Nduk? kalian baru saja menikah, masa tidur pisah? Ora ilok, Justru pengantin baru biasanya malah seneng tidur sempit-sempitan, biar anget." Ibu terkikik, aku malah bergidik.


Haduh, piye kalau Mas Damar ngajakin ena-ena? Katanya kalau pertama bakalan sakit banget, Duh, piye iki. Dari kemarin ngebet pingin kawin, sekarang dikawinin malah bingung dewe. Ras ... Saras, Menang gaya tok!


"Ras, woe, Ras! lapo ngelamun? jangan bilang kalau kamu takut?" tanya ibu menyelidik. Aku hanya tersenyum nyengir.


"Awale tok sakit, nanti pasti enak. Wes to percaya sama ibu. Lagian kalau kamu nolak, jatuhnya malah dosa loh, mau? wong diajakin enak kok malah pilih nanggung dosa. Wes sana, kasihan suamimu."


Aku menurut, berbalik berjalan menuju kamar. Kamu harus bisa, Ras. Harus! Dosamu wes banyak, jangan sampai nambah dosa untuk urusan yang sebenarnya bisa lakukan, mana sudah halal.


Aku membuka pintu kamar perlahan, menengok ke dalam, kosong. Kemana Mas Damar? Aku masuk, menutup pintu lagi.


Piye iki? piye iki? Sembari mondar-mandir tak jelas pikiranku berkenala tak karuan.


"Ngapain ngelamun begitu? sampai gak sadar aku datang."


Sebuah pelukan dari belakang sedikit mengejutkanku. Aroma sabun begitu kuat terasa. Suami baruku ini sepertinya baru saja mandi. Ciye suami euy.


"Eh, Mas. Kapan masuk? kok gak kedengaran pintunya?" tanyaku sembari berbalik arah menghadapnya.


"Baru saja, gimana mau dengar, kamu lagi ngelamun," jawabnya sembari membingkai wajahku.


Mas Damar mendekatkan wajahnya. tanganya beralih kebelakang tengkukku, pelan tapi pasti tangannya seolah mendorong wajahku untuk maju. Meskipun sedikit grogi, mataku perlahan ikut terpejam.


Bibir kami bertemu. Dulu, aku hanya menikmati bibir merah itu dari jauh. Sekarang, bahkan tanpa diminta pun, Mas Damar sendiri yang memulai.


Mas Damar mulai memagut, aku hanya diam, menikmati permainan Mas Damar yang sudah cukup lihai menurutku. Lelaki itu makin menarik tengkukku maju, memperdalam ciuman yang makin memabukkan.


Getaran-getaran lain mulai muncul, belum lagi tangan lain Mas Damar yang mulai membelai bagian lain tubuhku. Duh, Gusti, ini enak, tapi kenapa aku malah merinding? jangan-jangan ada hantu yang sedang ngintip.


Aku memukul bahu Mas Damar pelan saat napasku mulai sesak. Lelaki itu menarik wajahnya, tangannya beralih ke depan, menghapus jejak basah yang tersisa di bibirku.

__ADS_1


"Sudah tak setegang kemarin, kamu harus sering-sering berlatih, biar gak kaku. Dan aku siap membantumu dengan suka rela," ucapnya dengan menaik turunkan alis.


Aku memukul lengannya, tak tahu apa aku sudah sangat malu, bisa-bisanya dia berkata begitu. Mas Damar justru terbahak, menjauhkan diri dan duduk di sudut ranjang.


"Aku tidur di sofa saja, ya, Mas. Kasurnya sempit, gak bakal muat untuk kita berdua," ucapku saat Mas Damar berhenti tertawa.


"Lah, kenapa begitu? Masa malam pertama aku justru ditinggal sendiri?"


"Mas Damar besok kan nyetir ke Surabaya, sekarang istirahat aja yang nyenyak, biar besok biar kuat."


Mas Damar justru menarik sebelah tanganku, aku terjatuh tepat dipangkuannya. Lelaki itu justru melingkarkan lengannya di pinggangku. Aku berusaha berontak, tapi lelaki itu justru mengeratkan pelukannya.


"Kamu meragukan tenagaku, hmm? Aku bahkan kuat menyetir besok meskipun malam ini tak tidur semalaman," Lelaki itu kembali mengerling, membuatku semakin seperti kepiting rebus.


"Oh, ya, aku masih penasaran, untuk apa kamu meminta mahar seperti itu? Mahar teraneh yang pernah kudengar," jelas Mas Damar tanpa sedikitpun melepaskan pelukannya.


Aku menarik kedua tanganku, sesak jika dikunci seperti ini. Lelaki itu merenggangkan pelukannya, membiarkan tanganku bebas, tapi setelah itu kembali memeluk pinggangku.


Entah keberanian darimana, aku justru melingkarkan kedua tanganku kepada bahunya. Membelai rambutnya sembari bersiap menjawab pertanyaanya.


"Niat awal sih, mau benerin rumah belakang, aku sering takut kalau ke kamar mandi malam-malam, kan letaknya diluar rumah itu, nanti kalau tiba-tiba di intip setan gimana? kan serem. Belum lagi, bapak dan ibu kan sudah tua, diluar kalau hujan jalannya licin, aku gak mau mereka kepeleset atau jatuh saat mau ke kamar mandi" Mas Damar masih dengan seksama mendengarkan penjelasanku.


"Baik banget, sih. Jadi makin naksir. Eh tapi kamu gak papa maharnya dipakai gitu?" tanya Mas Damar sembari membelai pipiku.


"Gak papa, dong. Semoga saja, mahar itu nanti bisa berguna bagi orang banyak, dan bisa jadi ladang pahala buat juga, Mas."


Mas Damar menarik wajahku, memberikan ciuman di kening cukup lama.


"Aku bangga sama kamu. Nanti kita minta tolong bapak buat urusin pembangunan mushollanya. Soal rumah ini, kita juga akan perbaiki. Nanti biar aku transfer sejumlah uang, buat beli semua kebutuhannya."


"Beneran, Mas? Makasih, ya?" Reflex aku memeluk tubuh Mas Damar.


"Eh, tapi ini gak gratis loh," ucap Mas Damar yang spontan membuatku melepas pelukan.


"Maksudnya?"


"Harus bayar dengan ...." Mas Damar menggantungkan ucapannya. Dia justru menaik turunkan alis sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Ish ... Dasar mesum!" omelku yang justru membuatnya terbahak.

__ADS_1


"Biarin, sama istri sendiri ini."


"Hmm ... mas, tapi katanya sakit, ya?" tanyaku ragu-ragu.


"Apanya?" tanya Mas Damar dengan dahi berkerut.


"Begituannya, kalau kata kakek, skidadap awe-awenya."


Mas Damar terbahak, lantas menarik ujung hidungku pelan.


"Pertama memang sakit, lama-lama bikin nagih, gak percaya? ayo cobain." Aku memukul lengan Mas Damar lagi, malu banget dia ngajakin terang-terangan begitu.


Mas Damar justru terbahak. Duh, Gusti, nyatakah ini? Lelaki tampan dihadapanku ini sekarang telah menjadi suamiku. Bantu aku untuk menjadi istri yang baik dan bisa membahagiakannya ya Allah.


cup


Sebuah kecupan singkat di bibir membuatku tersadar.


"Ish, nyolong-nyolong kesempatan nih."


"Biarin suruh sapa ngelamun. Yang ini, baru gak nyolong."


Tanpa menunggu aba-aba, Mas Damar langsung menarik wajahku, menyatukan kembali bibir kami. Mas Damar makin menekan tengkukku, aku sendiri tanpa sadar juatru meremas rambut belakang Mas Damar.


Tubuhku makin menegang saat tangan Mas Damar mulai meraba bagian punggungku. Tangannya menyusuri punggungku hingga ke lengan. Ciuman masih berlangsung, bahkan tanpa sadar, aku sedikit mendesah. Duh, Gusti, kenapa dengan tubuhku? kenapa terasa tersengat? Dan belaian tangan Mas Damar ...? Ah, aku bahkan serasa telah mabuk saking enaknya.


Duh, Gusti, Aku menyesal, aku menyesal kenapa gak dari dulu aja kawin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Wooeew yang dibawa umur, jangan baca!!🙈🙈🙈


Sudah hawa mendukung, dikejar-kejar suruh nulis beginian, ya Allah aku dadi pingin cekelan cagak🙈🙈


Separuh sek, lanjut besok. Aku takut kalau bapernya keterusan, kagak ada musuhnya😂😂😂


Anda baper? itu diluar tanggung jawabku!


Kecup jauh untuk kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2