Bibit Unggul Mas Duda

Bibit Unggul Mas Duda
Dibalik sebungkus nasi pecel


__ADS_3

Bibit Unggul Mas Duda


Part 67


Sudah hampir lima hari bapak dirawat di rumah sakit, keadaannya pun sudah sangat membaik, bahkan jika tidak ada hal yang mengkhawatirkan lagi, besok atau lusa bapak bisa segera pulang ke rumah.


Setelah lepas kekhawatiranku tentang bapak, kini rasa khawatirku justru berpindah ke Mas Damar. Sudah hampir lima hari tak ada kabar sedikitpun darinya, bahkan aku sempat menghubungi Arin, menanyakan kabar tentangnya, Arin bilang, lelaki itu belum pulang, bahkan tak sekalipun menelpon ke rumah, kemana kamu, Mas? Ada apa denganmu?


"Ratu, bengong aja," sapa Zakki yang tiba-tiba datang.


"Eh, Zakk. Pagi bener datangnya?"


"Iya, gara-gara gak kamu bolehin ikut jaga semalam, aku malah jadi kepikiran dan gak bisa tidur, jadi selepas subuh tadi aku langsung ke sini."


Semalam, Aku memang menyuruh Zakki untuk pulang kerumahnya. Beberapa hari ini lelaki itu bersikeras untuk ikut menjaga bapak. Aku memang melakukan gantian jaga dengan ibu, jika pagi hinngga siang, ibu yang akan menjaga bapak, sedang aku pulang ke rumah untuk istirahat dan membersihkan rumah.


Zakki tak pernah sehari pun pergi, entah bagaiamana nasib pekerjaannya. Terkadang aku berpikir, sifat baik Zakki terlalu berlebihan untuk ukuran seorang teman. Namun, tak bisa kupingkiri kehadirannya sangat membantuku, bahkan dia dengan rela mengantar jemput ibu dan aku.


"Nih, di jalan tadi aku lihat ada yang nasi pecel, ramai banget. Biasanya kalau ramai pasti enak, jadi mampir deh. Makan, ya?" sambungnya sembari memberi bungkusan nasi dan teh hangat.


"Iya, kalau enak, kalau ternyata ada iler tuyulnya, gimana?" Zakki mengerutkan dahi, mungkin bingung dengan ucapanku.


"iler tuyul maksudnya?"


"Iya ada pesugihannya. Kata orang-orang kan gitu."


"Ish, jaman seperti ini masih aja percaya gituan. Daripada iler tuyul, kam mending iler burung walet, menghasilkan duit."


"Ah, iya, biasanya dokter kan gak percaya sama hal-hal seperti itu," cibirku yang membuat Zakki justru tertawa.


"Bukan gak percaya, Ratu. Tapi kalau kita berpedoman dengan hal seperti itu nanti jatuhnya malah musyrik. Aku percaya kok sama ucapan kamu, buktinya aku mau coba ilmu peletnya, sapa tahu bisa melet kamu," jawabnya sembari terkikik.


"Percaya itu sama Gusti Allah, kalau percaya sama aku itu namanya musrik, lagian gak perlu sampe dipelet, dikasih makan terus aja nanti juga luluh sendiri."


"Beneran? oke cepet habisin, nanti aku beliin makanan yang lain lagi," ucap Zakki antusias.

__ADS_1


Aku reflek langsung memukul bahunya. Emang dikira perutku gilingan?


Di tengah percakapan kami, dari jauh terlihat ibu datang dengan serantang makanan. Memang ibu selalu membawa bekal dari rumah, selain untuk makannya sendiri, bapak juga sering ikut makan nasi bekal itu, bosan makanan rumah sakit katanya.


"Assalammualaikum, Nduk," salam ibu.


"Waalaikumsalam," jawab aku dan Zakki serempak.


Aku berdiri untuk meraih tangan ibu, di susul Zakki dengan melakukan hal sama.


"Buk, ngapunten nggeh, tadi gak dijemput, habisnya sudah kangen sama anak ibu ini," guyon Zakki yang membuat ibu tertawa, aku sontak saja menginjak kakinya.


Lelaki itu menjerit, lebay, harusnya kan gak sesakit itu.


"Saras, ora ilok ngunu nduk, gak sopan," omel ibu padaku.


"Nggeh, Buk. Anak ibu ini memang sedikit barbar, untung sayang," balas Zakki lagi, kini dia lebih sigap langsung bersembunyi di belakang tubuh ibu, takut kena gencet lagi.


"Wes ... wes, kalian ini kayak anak kecil saja. Ayo masuk! ibu bawa makanan."


"Saras sudah dibeliin nasi buk, sama Zakki. Ini nasi pecel, ibuk mau?" tanyaku sembari menenteng tas kresek.


"Saras belum laper, Bu. kita masuk aja dulu, tadi pas Saras tinggal bapak lagi tidur, mungkin sekarang sudah bangun."


Ibu mengangguk menyetujui, Aku, Zakki dan Ibu pun masuk ke dalam ruangan bapak. Ternyta bapak sudah bangun dari tidurnya, lelaki itu sedang duduk menghadap jendela, dasar anak durhaka memang aku, bapaknya bangun tapi aku malah asyik diluar.


"Asslammualaikum, Pak."


"Waalaikumsalam," ucapan salam ibu dibalas sama bapak.


"Piye keadaane, Pak? Enakan?" tanya Ibu seraya mendekat ke arah bapak.


Aku mengambil alih bungkusan yang ibu bawa, menatanya di atas meja. Entah aku harus bersyukur atau apa, Juragan Ipan tak hanya membayar lunas sampai seminggu, dia bahkan memberikan kamar nomor satu kepada bapak. Fasilitas yang cukup wow buat kami. Semakin besar saja hutang budi kami kepadanya.


"Alhamdulillah wes enakan, Bu. Bapak wes bosen ini, pulang sekarang aja apa gak bisa, ya, Bu?" rajuk bapak kepada ibu.

__ADS_1


"Loh, ya, gak bisa, Pak. Mungkin bapak wes ngerasa sehat, tapi kalau dokter belum ngijinin, yawes sabar ae, Pak."


Zakki mendekat ke arah bapak, memegang pergelangan tangannya.


"Bapak, dadanya masih sesak gak kalau dibikin napas?" tanyanya sembari memegang pergelangan tangannya.


"Sudah enggak, Nak Zakki. Wes enak semua badan bapak ini."


"Bener nggeh, Pak? ampun bohong, loh. Kalau memang sudah enak, nanti Zakki bantu ngomong sama dokternya. Soale denyut nadi bapak juga sudah stabil. Mungkin bisa dipercepat pulangnya," jelas Zakki yang membuat bapak semringah.


"Apa gak papa, Nak Zakki?" tanya Ibu memastikan.


"Insya Allah, Buk. Kesehatan utaman pasien itu terletak pada hati dan semangatnya. Kalau bapak sudah bosan di sini, dan keadaan sudah lebih baik, akan lebih baik bapak pulang. Sapa tahu dengan kumpul bareng keluarga pemulihan bapak jadi lebih cepat."


Aku dan Ibu manggut-manggut mendengar penjelasan Zakki.


"Pak, Buk, mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi ada yang perlu saya sampaikan," ucap Zakki.


Lelali iti kini memasang wajah yang serius, dia berdiri di samping ranjang bapak. Aku yang semula menata rantang untuk makan bapak, berhenti sejenak dan memerhatikan lelaki itu.


"Kalau bapak dan Ibu restui, Saya mau melamar Saras," ucap Zakki dengan mantap.


Sekilas bisa kulihat wajah ibu dan bapak yang langsung cerah. Aku sendiri? Langsung menegang. Sejak kapan? sejak kapan Zakki menyimpan rasa padaku? Jadi selama ini ucapan-ucapannya serius?


Duh, Gusti, Aku mesti gimana? Gimanapun juga, Zakki sangat berperan penting dalam hidupku, Lantas bagaimana dengan Mas Damar? Hatiku sudah terlanjur terpaut padanya. Dan Juragan Ipan? Bagaimana reaksi Zakki kalau tahu lelaki itu juga melamarku?


Gusti, dulu saat aku meminta seorang pendamping, engkau kirimkan Alvin si kerikil got pinggir kali, lelaki yang sebelas dua belas dengan buaya buntung. Sekarang, saat aku menemukan lelaki yang membuat aku nyaman, engkau hadapkan aku pada sebuah pilihan yang sangat sulit.


Beri Petunjukmu, Ya Allah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Woe, Mar! Damar! dimana kamu? Noh, Saras lagi ditikung dengan sebungkus nasi pecel๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Hayoloh, Tim Damar lagi misuh-misuh ini.

__ADS_1


Selamat membaca dulu, aku mau sarapan, biar kuat lari pas mau kalian timpuk๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


kecup jauh untuk kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2